Penulis:

Raditia Sujanto, MA

(Dosen Komunikasi UNISA Yogyakarta)

Penggunaan media informasi dan komunikasi saat ini dapat dikatakan tidak lepas dari kebutuhan masing-masing penggunanya. Ketersediaan kemudahan akses media memicu akses informasi dan kegiatan berkomunikasi dengan frekuensi tinggi.

Informasi yang diakses pun kemudian menjadi sesuatu yang bersifat personal. Pada akhirnya, pembatasan terletak pada diri pribadi tiap pengguna melalui regulasi diri. Bulan suci Ramadan di Indonesia sejak beberapa tahun silam diwarnai dengan konten media yang mencampurkan beragam elemen. Ada konten media yang bersifat sepenuhnya religi. Ada yang mencampurkan konten religi dengan komedi. Ada pula konten media yang mendadak religi sesaat hanya karena sedang beramai-ramai merayakan bulan suci Ramadan.

Sebuah riset tahun 2016 yang dilakukan kepada lebih dari 1.000 responden oleh badan survei, JAKPAT, menemui bahwa 35 persen responden muslim menganggap bahwa Ramadan mengubah kebiasaan mereka dalam mengkonsumsi media. Bulan Ramadan dapat menjadi sebuah pengingat bagi masyarakat muslim untuk lebih meregulasi diri, tidak terkecuali dalam penggunaan media sehari-hari.

Salah satu pemanfaatan media oleh pengguna media muslim adalah untuk mendapatkan informasi mengenai waktu imsak dan waktu berbuka puasa. Survei yang sama mendapati bahwa 51 persen responden muslim memperoleh jadwal imsak melalui televisi.

Hal serupa juga didapati untuk memperoleh informasi mengenai jadwal berbuka puasa, sebanyak 59 persen memanfaatkan media televisi. Konsumsi media televisi sebagai sumber informasi yang dominan untuk jadwal imsak dan berbuka puasa menjadi menarik karena survei yang sama menemui bahwa 90 persen pengguna media masih menggemari Internet sebagai media yang paling diakses selama Ramadan. Sedangkan televisi menduduki peringkat kedua sebagai media yang paling banyak diakses selama bulan suci ini.

Penggunaan Internet tidak lepas dari penggunaan telepon pintar. Survei menemukan sebanyak 94 persen responden muslim menggunakan telepon pintar selama Ramadan. Penggunaan laptop hanya 35 persen saja. Komputer meja hanya 16 persen. Dari 94 persen pengguna telepon pintar tersebut, sebanyak 24 persen mengunduh aplikasi khusus Ramadan. 83 persen dari pengguna aplikasi khusus Ramadan tersebut mengakses aplikasinya setiap hari selama bulan suci ini.

Hal ini lah yang menjadi salah satu bukti bahwa pemanfaatan media, baik itu media melalui telepon pintar maupun lainnya, sedikit banyak terpengaruh oleh Ramadan. Kebutuhan pengguna media selama Ramadan pun turut memengarui kebiasaan penggunaan media.

Di awal bulan puasa 2018 ini, JAKPAT kembali melakukan survei kepada lebih dari 1.500 responden mengenai penggunaan media selama Ramadan. Salah satu hasil riset yang ditemui adalah perbedaan kecenderungan penggunaan media di waktu Sahur oleh responden muslim laki-laki dengan responden muslim perempuan.

Lebih dari 60 persen responden laki-laki mengakses televisi, Whatsapp, dan Facebook sebagai tiga urutan media terbanyak diakses selama waktu Sahur. Sementara itu, lebih dari 60 persen responden muslim perempuan mengakses Whatsapp, Instagram dan televisi sebagai tiga urutan media terbanyak diakses selama waktu Sahur.

Hal ini menjadi menarik karena bagi responden muslim laki-laki televisi menjadi media yang paling diakses sebelum aplikasi-aplikasi di gawai. Sebaliknya, bagi responden muslim perempuan, aplikasi-aplikasi daring di gawai justru menjadi pilihan media yang paling diakses sebelum televisi.

Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi menjadi suatu keniscayaan. Alih-alih menolak perkembangan tersebut, yang paling baik adalah melakukan regulasi diri terhadap konten media yang diakses, dan mengubah kebiasaan bermedia yang negatif menjadi positif.