Tularkan Semangat Perjuangan Cak Roes Lewat Waroeng Pintar
Surabaya patut berbangga punya warga bernama Roeslan Abdulgani biasa disapa Cak Roes. Prediketnya lengkap, pejuang, pemikir, pendidik, penulis buku sampai diplomat. Arek Plampitan Gang VIII No 26-28 tak hanya terlibat pertempuran heroik 10 Nopember 1945. Juga menjadi saksi dan pelaku penting sejarah perjalanan bangsa Ini. Cak Roes Dipercaya menjadi menteri sampai Sekjen KAA 1955 Bandung di jaman Bung Karno. Saat Soehaerto berkuasa Cak Roes dipercaya menjadi Dubes di PBB sampai Pembina BP7. Tak banyak tokoh dekat Bung Karno tapi dipercaya Soeharto. Sedikit orang itu Cak Roes.

Bahari-Surabaya

SUATU hari, bulan Mei 2005 penulis yang saat itu liputan di kantor Imparsial Jalan Diponegoro mampir ke rumah Roeslan Abdulgani di Jalan Diponegoro 11 Jakarta Pusat, yang letaknya bersebelahan kantor Imparsial.

Meski tidak janjian, Cak Roes mau menemui dan ngobrol apa saja meski bukan untuk ditulis. Cak Roes meski saat itu usianya hampir mendekati kepala 9 tapi daya ingatnya luar biasa. Kalau ngomong politik begitu bersemangat. Karena tahu penulis arek Suroboyo, Cak Roes kerap menyelipkan bahasa medok Suroboyoan, campur Inggris maupun Belanda.

Penulis yang saat itu masih aktif di Jawa Pos (sekarang sudah purna tugas), kerap bertemu, ngobrol dengan Cak Roes di berbagai kesempatan meski tidak untuk ditulis. Cak Roes orangnya egaliter. Ngomong ceplos ceplos, terbuka dan ramah kepada siapa saja.

Tiba tiba Cak Roes keceplosan ngomong. “Engko bengi Pak Harto dolen mrene (nanti malam Pak Harto main ke sini),” ujar Cak Roes setengah berbisik. Anak perempuan Cak Roes yang duduk tak jauh dari kami mengobrol mendengar omongan Bapaknya sedikit terkejut. “Bapak ini kok diceritakno,” ujar putri Cak Roes. Tapi, reaksi Cak Roes kalem saja. ‘’Yo.. gak popo. Wis kadung ngomong (tidak papa. Sudah terlanjur berbicara),” timpal Cak Roes enteng.

Pak Harto yang saat itu sudah lengser dan nyaris tidak pernah tampil di publik. Kalau pun menghadiri acara biasanya tertutup. Termasuk silahturahmi ke para tokoh pun dirahasiakan. Cak Roes memang istimewa. Tak hanya dekat Bung Karno, tapi juga berhubungan baik dengan Pak Harto. Mereka saling mengujungi setiap Idul Fitri. Nah, kunjungan Pak Harto ke rumah Cak Roes itu sebagai balasan kunjungan Cak Roes ke Cendana, rumah Soeharto saat Idul Fitri. Beberapa hari kemudian gantian Pak Harto berkunjung ke rumah Cak Roes. Malam itu, Pak Harto hanya ditemani sopir dan didampingi ajudan Made Sweden, mantan anggota Panpampres, orang kepercayaan Pak Harto.

Esoknya Jawa Pos terbit memasang foto A, eksklusif di halaman depan hasil jepretan fotografer Agus Wahyudi saat kunjungan Pak Harto ke rumah Cak Roes. Sekitar sebulan kemudian Cak Roes sakit dan meninggal pada 29 Juni 2005 dalam usia 91 tahun.

Suatu ketika saat ngobrol dengan penulis, Cak Roes pernah bercerita. Saat menemani kunjungan Bung Karno ke Surabaya, Bung Karno kepincut sebuah lukisan. Tapi, untuk membeli Bung Karno tidak punya uang. Akhirnya, Cak Roes mengusulkan kepada Bung Karno agar melelang peci hitam-nya yang dipakai.

Masalahnya, peci hitam yang dikenakan Bung Karno terlihat masih baru. Warnanya masih hitam mulus. Bung Karno tidak kurang akal, agar pecinya terkesan lawas, ia melepas pecinya. Dan, ini yang tidak disangka sangka Cak Roes, Bung Karno mengginjak nginjak peci hitam tadi sampai lusuh, kucel dan sedikit kotor. Akhirnya, peci hitam berhasil terjual dalam lelang. Pembelinya seorang pengusaha Gresik. Uang tadi oleh Bung Karno dibelikan lukisan. “Saya tertawa kalau ingat itu,” kenang Cak Roes tergelak.

Ingatan terhadap sosok Cak Roes kembali hadir saat penulis mengunjungi rumahnya di Plampitan Gang VIII No 8 No 34-36-, Surabaya Sabtu (28/4/2018) lalu. Ya.. di rumah lawas kelahiran Cak Roes yang kini masuk cagar budaya itu dipajang beragam foto Cak Roes dan keluarganya, orang tuanya, kegiatan Cak Roes selama aktif di pemerintahan di dua presiden; Bung Karno dan Soeharto. Juga buku buku karya Cak Roes.

“Semua ini koleksi keluarga,” kata Rahma keponakan Cak Roes yang menempati dan merawat rumah keluarga Cak Roes. Rahma adalah anak adik perempuan Cak Roes.

Di rumah yang kini disulap Waroeng Omah Sejarah Soeroboyo (WOSS) itu pengunjung bisa belajar sejarah sekaligus makan minum sambil berdiskusi tentang tokoh pejuang asal Plampitan Roeslan Abdulgani. “Pengunjung juga bisa membaca buku karya Cak Roeslan. Tapi, cukup dibaca di sini tidak boleh dipinjam apalagi dibawa pulang ,” ingat Rahma.

Cak Roes juga dikenal produktif dalam soal penulisan buku. Beberapa karyanya antara lain, Mendajung dalam Taufan: Politik Luar Negeri Indonesia, 1956-1967 (Djakarta: Kementerian Luar Negeri, 1958); Penggunaan Ilmu Sedjarah (Djakarta: B.P. Prapantja, 1962); Nationalism, Revolution, and Guided Democracy in Indonesia (Australia: Monash University, 1973); Konferensi Asia-Afrika, Bandung: Sejarah, Cita-cita, dan Pengaruhnya (Jakarta: Yayasan Idayu, 1975); Asia Tenggara di Tengah Raksasa Dunia (Jakarta: Lembaga Studi Pembangunan, 1978); dan Indonesia Menatap Masa Depan (Jakarta: Pustaka Merdeka, 1987

Rumah Cak Roes berukuran 15 x 20 meter sangat sederhana, klasik. Teras nan jembar dengan deretan kursi kayu jati lawas warna coklat menciptakan kesan teduh meski di luar terik mentari menyengat. “Dari dulu model rumah nya ya.. seperti ini. Hanya ada renovasi kecil tapi tak mengubah keaslian rumah,’ tambah Rahma.

Waroeng yang buka pukul 19.00 sampai pukul 24.00 itu makin ramai kalau Sabtu malam. Akan tampil pemusik keroncong secara live menghibur pengujung. ‘‘Sayang sampeyan datang siang. Kalau malam Sabtu pengujung ramai.”

Karena itu di jalan kampung depan rumah Cak Roes yang lebarnya tidak lebih 3 sampai empat meter dipasang tenda agar pengunjung terhindar dari guyuran air saat hujan.

Kata Rahma, dibukanya Waroeng Omah Sejarah Soeroboyo (WOSS) di rumah kelahiran Cak Roes terjadi secara tidak sengaja. Saat itu banyak turis asing, lokal maupun pelajar berkunjung ke rumah Cak Roes. Bahkan para mahasiswa, pelajar menjadikan rumah Cak Roes sebagai destinasi terakhir saat berkunjung ke beberapa tempat bersejarah sekitar Peneleh dan Plampitan. Mereka menggelar diskusi, dan menyelesaikan tugas akhir di rumah Cak Roes karena tempatnya jembar dan teduh.

Di sela sela diskusi biasanya meraka haus, lapar atau butuh camilan. Mereka pun terpaksa membeli penganan agak jauh. Melihat itu Rahma jadi kasihan. Sudah capek, panas, untuk minum saja harus jalan kaki agak jauh. Akhirnya Rahma menyediakan camilan dan beragam minuman dengan harga terjangkau. “Kalau mahal mahal kasihan pelajar dan mahasiswanya,” ujar Rahma.

Akhirnya ya sekalian buka warung sambil memperkenalkan siapa sosok Cak Roes, perannya dalam pertempuran 10 Nopember 1945 saat arek arek Suroboyo menghadapi sekutu dan NICA- Belanda yang ingin menjajah kembali Indonesia .

Juga peran Cak Roes dalam berbagai peristiwa penting dalam perjalanan sejarah Bangsa Indonesia. Baik saat Presiden dijabat Bung Karno maupun Pak Harto . Cak Roes diberi kepercayaan mengemban tugas dan jabatan penting oleh Bung Karno maupun Pak Harto.

“Ini bisa menularkan semangat kebangsaan Cak Roes kepada generasi muda sekaligus mengenalkan sejarah perjuangan tokoh Indonesia kepada para siswa dan mahasiswa lewat waroeng pintar ini,” terangnya.

Siapa sosok Cak Roes, arek Suroboyo kelahiran Kampung Plampitan yang hanya berjarak selemparan baru dari rumah HOS Cokroaminoto di Peneleh VII yang masyhur itu. Dari berbagai informasi yang dirangkum penulis, H. Roeslan Abdulgani lahir di Surabaya, 24 November 1914. Anak keempat dari lima bersaudara. Ayahnya, Dulgani atau Haji Abdulgani seorang tokoh Sarekat Dagang Islam (SDI).

Dulgani satu dari tiga orang kaya di Surabaya memiliki tujuh mobil Fiat. Ayahanda Cak Roes meninggal ketika Roeslan duduk dibangku sekolah lanjutan pertama. dan Ibunya, Siti Moerad, wafat tahun 1964 pada usia 90-an.

Tahun 1920-1928, Cak Roes Sekolah di Hollandsch Inlandsche School (HIS), Surabaya. Tahun 1926, Cak Roes menjadi Anggota National Indonesische Padvinderij.

Tahun 1928-1932, Cak Roes Sekolah pada Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO), Surabaya.

Tahun 1932-1934, Cak Roes melanjutkan pada Hoger Beroeps Onderwijs (HBS-B) setingkat sekolah lanjutan). Roeslan remaja juga bergabung Natipy, kepanduan yang berhaluan nasional.

Ia juga menjadi anggota Jong Islamieten Bond serta Indonesia Muda. Waktu itu Indonesia Muda dianggap organisasi berbahaya oleh pemerintah Hindia Belanda. Setelah tamat dari HBS (setingkat sekolah lanjutan sekarang), Roeslan diterima di Openbare Europese Kweekschool, sekolah guru untuk orang Eropa, namum ia dikeluarkan karena ketahuan menjadi anggota Indonesia Muda.

Ia pernah menjadi Ketua Pedoman Besar Indonesia Muda, setelah ketuanya yang lama, Sukarni menghilang dikejar-kejar Belanda. Dijaman penjajahan Jepang, ia memimpin gerakan Angkatan Muda, dan ikut melucuti kekuasaan Jepang, saat Proklamasi Kemrrdekaan.

Ketika pasukan sekutu mendarat di Surabaya, Cak Roes bersama tokoh lain seperti Bung Tomo terlibat pertempuran hebat 10 Nopember 1945. Setelah itu Roeslan menyingkir ke Malang. Disana ia bekerja diKementerian Penerangan dan diangkat Seketaris Jenderal Kementerian Penerangan, yang waktu itu berkedudukan di Yogjakarta.

Saat Agresi Militer ke-2, tanggal 19 Desember 1949, ia tertembak pada tangan kanan dan beberapa jari tangannya terpaksa diamputasi.

Setelah penyerahan kedaulatan, ia ikut pindah ke Jakarta, kariernya terus menanjak. Cak Roes dipercaya menjadi Sekretaris Jenderal Departemen Luar Negeri tahun 1954-1956. Setahun kemudian, dia menjadi Sekretaris Jenderal Konferansi Asia Afrika di Bandung tahun 1955 yang masyur itu.

Setelah itu Cak Roes dipercaya menjadi Menteri Luar Negeri pada Kabinet Ali Sastroamijoyo II . Lalu menjabat Menteri Penerangan pada tahun 1962 sampai 1966, dan Wakil Perdana Menteri pada tahun 1966 sampai 1967. Saat itu pula ia dipercaya menjadi Rektor IKIP Bandung dan Ketua Jurusan Sejarah Budaya IKIP Bandung (1964-1966).

Setelah tampuk kepresidenan berganti dari Soekarno ke Soeharto, Roeslan dipercaya menjadi Duta Besar RI di PBB di New York (1967-1971) dan menjabat Ketua Tim Penasihat Presiden mengenai Pancasila selama 20 tahun sejak tahun 1978.

Roeslan juga mempunyai gelar Jenderal TNI Kehormatan Bintang Empat, Bintang Mahaputra. Semasa hidupnya, dia dikenal mempunyai hubungan yang dekat dengan Presiden Soeharto. Dari pernikahannya dengan Sihwati Nawangwulan, Cak Rooes dikarunia lima anak.

Menurut istrinya, Sihwati Nawangwulan, ayah lima anak ini “Tidak biasa merayakan hari ulang tahunnya.”

Dalam usia tuanya, Cak Roes masih tampak bersemangat, penuh vitalitas. Ia laris sebagai penceramah, mengomentari politik atau masalah luar negeri, juga banyak menulis artikel, makalah, bahkan buku.

Tampil dalam Seminar Asia Afrika di Kairo, Mesir, ia mewakili Indonesia, 1985. Selain menyampaikan makalahnya, The Spirit of Bandung, Regional Association and International Organization, ia juga menyerahkan deklarasi Peringatan 30 Tahun Konperensi Asia Afrika (KAA) di Bandung.

“Saya selalu memimpikan dapat melihat dunia yang benar-benar damai. Ternyata, impian itu sulit terwujud,” kata bekas sekjen KAA I ini berdesah. Setelah pensiun dari pegawai negeri sejak 1972, ia rupanya berhasil menenggang apa yang disebutnya “Aspek psikologis yang paling negatif.” Yakni, perasaan sepuh (tua), sepi (menyendiri), sepo (hambar), dan sepah (terbuang). Padahal, diakuinya, “Saya pernah mengalami post-power syndrome” — sindrom purna-kuasa.

Tetapi, “Syukur alhamdulillah,” ujar menlu RI 1956 ini. Baru enam bulan menjalani pensiun, ia diundang memberikan kuliah di Universitas Monash, Australia. Tiga bulan Cak Roes di sana. Kemudian ke Negeri Belanda, atas undangan Pangeran Bernhard, enam bulan mengadakan riset tentang arsip dan dokumentasi.

Oleh markas Unesco di Paris, ia diminta menjadi konsultan di bidang komunikasi massa dan kebudayaan.Bekas dubes RI di PBB ini menerima gelar doktor HC dari Unpad, Unair, dan IAIN Sunan Kalijaga. (Bahari/habis)