MAGELANG – Tak kurang seratus biksu berjalan di dua sisi trotoar kawasan Pecinan, Jalan Pemuda, Kota Magelang Senin (28/5). Setiap biksu membawa wadah berbentuk seperti kuali logam. Mereka menyusuri Pecinan, mulai Kelenteng Liong Hok Bio sampai Pasar Rejowinangun yang berjarak sekitar 1 kilometer, untuk menerima derma dari masyarakat. Derma bisa berupa uang atau barang. Itulah tradisi pindapata, salah satu rangkaian perayaan Hari Raya Tri Suci Waisak.

“Setiap menjelang Waisak saya selalu siapkan beberapa angpao dalam amplop merah untuk para biksu,” kata Agung, salah seorang warga Pecinan.

Pemberi derma bukan hanya umat Buddha. Tak sedikit kaum muslim yang sengaja menunggu para biksu untuk memberikan derma. Pemberi derma dari segala usia. Mulai anak-anak, remaja, hingga lansia.

“Saya bukan Buddha. Tetapi saya juga ingin dapat berkah dari berderma ini. Semoga pemberian ini bermanfaat,” tutur lansia bernama Wigiarti.

Ritual pindapata diawali sembahyang dan doa di Kelenteng Liong Hok Bio sekitar pukul 07.30. Prosesi sembahyang dipimpin Bante Kanit. Beberapa umat Tridharma tampak mengikut kegiatan tersebut dengan khusyuk.

Pindapata sejatinya bukan tradisi asli Indonesia. Ini adalah tradisi dari Thailand atau negara yang penduduknya banyak memeluk Buddha. Uang dan barang yang diberikan kepada para biksu berfungsi untuk menunjang kehidupan mereka sehari-hari.

Ketua DPD Perwakilan Umat Buddha Indonesia (Walubi) Provinsi Jawa Tengah David Hermanjaya menjelaskan, berderma kepada biksu tak sama dengan memberikan sesuatu atau sedekah kepada pengemis atau peminta-minta lainnya. Sebab, dalam menjalani ritual pindapata setiap biksu tidak boleh mengucapkan kata-kata meminta, tetapi umatlah yang secara sadar dan ikhlas berderma.

Dikatakan, dari sekitar 100 orang biksu yang mengikuti kegiatan tersebut, 40 di antaranya asal Thailand. Mayoritas biksu dari Sangha Mahayana dan Theravada.

“Kehidupan para biksu lepas dari hal-hal duniawi, seperti usaha dan dagang,” tuturnya.

David menegaskan, prosesi pindapata merupakan sebagai simbol bagi umat setempat untuk melakukan kebaikan melalui pemberian derma.

Sementara itu di Candi Mendut, Mungkid, Kabupaten Magelang umat Buddha menyambut kedatangan air suci yang diambil di Umbul Jumprit, Temanggung kemarin siang. Air suci menjadi pendamping Api Dhamma yang menjadi sarana utama puja bakti Waisak di Candi Borobudur nanti malam. Api Dhamma diambil dari sumber api abadi Mrapen, Grobogan, Purwodadi.

“Jika api adalah lambang penerangan, air menunjukkan sebuah kesejukan, kesuburan, ketidaksombongan, dan rendah hati,” jelas Ketua Perwakilan Umat Buddha Indonesia (Walubi) S. Hartati Murdaya kemarin.

Air lambang kerendahan hati karena sifatnya selalu mengalir ke bawah. Menuju tempat yang lebih rendah. Kendati demikian, lanjut Hartati, air bisa menjadi api ketika dialirkan dalam pipa bertekanan tinggi. Bahkan air juga bisa menjadi listrik jika digunakan untuk memutar turbin. Artinya, sifat air yang sejuk dan rendah hati, pada titik tertentu bisa menjadi energi yang dahsyat.

“Tetapi sekali lagi, meski bisa menjadi dahsyat, air tetap tidak sombong. Ada kesadaran untuk tetap pada makna kehidupan,” tuturnya.

Air suci yang disimpan dalam beberapa kendhi dibawa para biksu mengelilingi Candi Mendut dalam ritual pradaksina. Para biksu berkeliling sebanyak tiga kali di bagian bawah dan tiga kali di bangunan candi.

Baru selanjutnya air suci disatukan dengan Api Dhamma. Para biksu kemudian mendaraskan paritha atau doa memanjatkan harapan dan pujian kepada Sang Agung.

“Semoga tidak ada lagi kesenjangan dalam beragama. Hilangkan benci, hilangkan cemburu, marah dan lainnya. Karena agama apa pun sumbernya sama, yakni kebaikan,” tegas Hartati.

Ketua Dhammaduta dari Thailand untuk Indonesia Biksu Wongsin Labhiko Mahathera menambahkan, dalam perayaan Waisak tahun ini pemerintah sengaja mendatangkan puluhan biksu sangha dari berbagai negara. Selain Thailand, ada juga asal India, Nepal, dan Laos.

“Mereka sudah ikut berdoa di sini. Para tersebut akan ikut berdoa saat pujabakti di Candi Borobudur saat detki-detik Waisak yang jatuh pada pukul 21.19, Selasa Bulan Purnama besok (malam ini, Red),” jelasnya.

Puncak Hari Tri Suci Waisak 2018 akan diawali dengan meditasi selama beberapa menit oleh umat Buddha dan para biksu sangha di pelataran Candi Borobudur. Mereka akan melakukan kirab dengan berjalan kaki sejauh sekitar tiga kilometer dari Candi Mendut menuju pelataran Candi Borobudur dengan membawa berbagai sarana puja bakti. Waisak dirayakan untuk mengenang tiga peristiwa penting dalam ajaran Buddha. Yakni, kelahiran Sidharta Gautama, Buddha Gautama memperoleh penerangan sempurna, dan mangkat Sang Buddha. (dem/yog/mg1)