BANTUL – Pemkab Bantul harus segera menuntaskan problem yang dihadapi pengrajin batik. Hal itu menyusul seluruh produk kerajinan batik yang diekspor tanpa menggunakan merek, sehingga merugikan pengrajin yang notabene pemilik hak paten.

Seorang pengrajin batik Dwi Suhartati menyebut nyaris seluruh produknya yang diminati pasar internasional tanpa mencantumkan merek maupun brand. Itu bertujuan untuk mempermudah reseller menjual kembali produknya.

“Kalau pun memberi logo hanya di tas souvenir. Tidak di sudut kain,” jelas Tatik, sapaannya saat ditemui di rumahnya di Giriloyo, Wukirsari, Imogiri, Selasa (29/5).

Diakui, langkah yang ditempuh ini bukan tanpa pertimbangan. Tak jarang buyer menolak bila pengrajin mencantumkan merek di lembar kain. Tatik menyebut di antara negara yang rutin menjadi pasarnya adalah Prancis, Australia, Amerika, dan Jerman.

“Saya tidak jual langsung ekspor. Biasanya ada wisatawan datang ke sini beli kulakan,” tuturnya.

Batik apa saja yang diminati? Menurutnya, ada beberapa motif batik yang diproduksinya. Nah, batik ringinan yang menjadi favorit. Meski, harganya cukup mahal. Selembar kain dibanderol di atas Rp 1 juta. Kendati mahal, Tatik menilai, harga tersebut sebanding dengan proses pengerjaannya.

“Motifnya rumit dan detail, sehingga pengerjaannya butuh waktu lama,” tutur guru SD Kepuk, Jetis, Bantul, ini.

Kepala Dinas Koperasi Usaha Kecil Menengah dan Perindustrian (DKUKMP) Bantul Sulistiyanta membenarkan bahwa produk batik yang diekspor mengalami berbagai kendala. Yang paling mencolok adalah hak atas kekayaan intelektual (HAKI).

“Masalahnya konsumen tidak mau menggunakan brand maupun logo dari produsen yang bersangkutan,” keluhnya.

Sulis, sapaannya menganggap praktik ini merugikan produsen. Sebab, motif batik khas Bantul dicontek produsen luar. Khawatirnya lagi, produk batik Bumi Projotamansari berpotensi diklaim negara lain. Karena itu, Sulis menegaskan, pemkab bakal mengupayakan perlindungan terhadap HAKI produk kerajinan tangan lokal. Mengingat, motif batik khas Bantul mencapai ratusan. Caranya dengan mematenkan seluruh motif batik Bantul. Bahkan, pemkab telah berkoordinasi dengan Kementerian Hukum dan HAM.

“Anggarannya sudah kami siapkan di APBD,” katanya.

Upaya perlindungan ini, Sulis melanjutkan, tren ekspor batik cenderung naik. Rerata mencapai sepuluh persen per tahunnya. Merujuk data DKUKMP, jumlah pengrajin batik mencapai 2500 orang. Sedangkan rumah produksinya mencapai 800 unit.

“Batik diurutan empat besar pasar ekspor. Setelah mebel, gerabah, dan kulit,” tambahnya. (cr2/zam/mg1)