Makan Seadanya Jadi Resep Umur Panjang

Tumirjo bisa jadi termasuk manusia tertua di Indonesia, bahkan dunia. Dia mengalami lebih dari tujuh kali erupsi Gunung Merapi. Prinsip hidupnya sangat sederhana: makan seadanya, apa yang dia dapat tanpa pilih-pilih.

JAUH HARI WS, Sleman
KAKEK asal Dusun Kalitengah Lor, Glaga-harjo, Cangkringan, itu masih tampak sehat. Dia juga mampu berkomunikasi dengan baik. Pendengarannya juga cukup tajam. Hanya daya penglihatannya yang jauh berkurang termakan usia. Dia juga tak lagi kuat berjalan sendiri tanpa bantuan tongkat atau dipapah orang lain.

Itulah Tumirjo, warga asli lereng Gunung Merapi yang mengaku telah berusia 106 ta-hun. Selama beberapa hari ini Tumirjo menjadi salah seorang penghuni barak pengungsian Balai Desa Glagaharjo.

Usianya memang sangat renta, namun daya ingatan Tumirjo masih cukup bagus. Apalagi tentang suasana erupsi Merapi. Dia termasuk salah seorang dari sedikit saksi hidup keganasan Merapi. Tumirjo hanya sedikit lupa berapa kali harus mengungsi setiap kali Merapi mengalami erupsi. Saking seringnya. Itu dialaminya sejak usia anak-anak sampai sekarang.

“Merapi sering njebluk. Mungkin punjul ping pitu leh kulo ngungsi (Merapi sering meletus. Mungkin sudah lebih dari tujuh kali saya meng-ungsi, Red),” ungkapnya ketika berbincang dengan Radar Jogja di Balai Desa Glagaharjo, Sabtu (26/5).

“Kula niku nek kaliyan buyut mboten lali, menawi krungu suarane mesti kelingan (Saya kalau dengan cicit tidak lupa, kalau dengar suaranya pasti ingat, Red),” lanjutnya. Banyak lokasi pernah menjadi tempat pelariannya untuk mengungsi. Mulai Dusun Tarub hingga Kebur. Terakhir dia mengungsi di Dusun Banjarsari ketika terjadi letusan freatik beberapa waktu lalu.

Tumirjo menjadi satu-satunya pengungsi paling tua dan paling banyak merasakan erupsi Merapi. Teman-teman seangkatannya sudah banyak yang tiada, sebagian menjadi korban ganasnya wedhus gembel (awan panas) Merapi

Dia pun merasakan kesedihan yang mendalam akibat kepergian teman-temannya. “Sakniki kantun kula, liyane sampun sedo (Seka-rang tinggal saya, yang lain sudah meninggal),” ungkapnya.

Dari sekian banyak erupsi Merapi, kejadian pada 2010 menjadi yang terdahsyat, yang pernah dialami-nya. Saat itu dia kehilangan semua harta benda. Yang tersisa hanya fondasi rumah yang tertutup abu vulkanik.

Selain pengalaman erupsi, Tumirjo juga merasakan betapa susahnya hidup di zaman penja-jahan. Ketika itu banyak tentara Balanda yang datang di lereng Merapi dan menangkapi teman-temannya. “Dulu sekali lihat langsung di dor (ditembak, Red),” kenang kakek dengan sepuluh anak itu.

Kini Tumirjo tinggal bersama salah seorang anaknya. Dari se-puluh anaknya kini hanya tersisa tiga orang yang masih hidup. Salah satunya Miyem, yang kini berusia 45 tahun. Miyem yang sehar-hari mengurus dan men-jaga Tumirjo. Termasuk selama di barak pengungsian.

“Bapak itu kalau makan seada-nya sesuai yang dia peroleh, dan tidak pilih-pilih,” tutur Miyem menceritakan resep sehat dan umur panjang Tumirjo. Sehat terus ya Mbah….. (yog/rg/ong)