DI mata Saif, di balik bencana selalu ada hikmah luar biasa. Hikmah itu harus diambil dan dipelajari agar siapa pun yang memperolehnya bisa mengerti esensi hidup. Itulah sepenggal pengalaman Saif di balik musibah gempa bumi yang melanda sebagian wilayah DIJ dan Jawa Tengah pada 27 Mei 2006.

Saif tak mau terus-terusan terpuruk. Rasa tanggung jawab sebagai kepala rumah tangga seoalah menjadi cambuk semangatnya untuk terus hidup dan berkarya. Dua bulan pertama pascagempa Saif sempat sedikit tertekan dengan kondisinya. Dia tak lagi bisa bergerak bebas karena harus ditopang kursi roda. Kakinya terluka dan mengalami kelumpuhan akibat tertimpa reruntuhan rumah saat gempa berkekuatan 5,9 skala Richter mengguncang. Dengan keterbatasannya itu Saif tak lantas berputus asa. Karena dia yakin bahwa di antara semua hikmah dari bencana yang diberikan Tuhan adalah kemudahan.

Bapak empat orang anak ini sedikit demi sedikit bangkit dari keterpurukan dengan terus menikmati hidup secara maksimal. “Semakin banyak bersyukur kita pasti semakin bisa menikmati hidup,” tegasnya.

Sebelum gempa melanda Saif merupakan seorang craft agent di salah satu perusahaan di Jogjakarta. Bermaksud mengembangkan bisnisnya, dia pun memilih pindah dan domisili di Kretek, Bantul sejak 2005. Tak disangka nasibnya berkata lain. Setahun setelah kepindahannya bersama keluarga Bantul dilanda gempa dahsyat. “Saat itu faktor ekonomi dan angan-angan yang terpangkas. Banyak barang yang hancur, mesin rusak, dan lain-lain,” kenangnya.

Saat itu Saif berpikir, Tuhan punya rencana lain untuk masa depannya. Dukungan istri, anak-anak, dan keluarga besarnya pun terus berdatangan. Saif bangkit dari keterpurukan.

Beberapa bulan setelah pulang dari rumah sakit, Saif mencoba memproduksi kerajinan tangan lokal. Aneka tas berbahan baku batik. Dia juga membaut kerajinan bunga plastik daur ulang. Lambat laun usahanya terus berkembang. Saif menjadi supplier produk kerajinan di toko pusat oleh-oleh di Kota Jogja. Bahkan saat ini produk buatannya telah merambah pasar dunia. Seperti Australia, Amerika Latin, dan Panama. Menurutnya, produk craft paling diminati pasar luar negeri adalah mainan tradisional anak-anak. Misalnya, gangsing dan yoyo.

Kini karyawannya juga makin banyak. Saif juga mempekerjakan tetangga untuk membuat produk kerajinan di rumah masing-masing. “Tuhan punya rencana lebih baik. Percayalah, Tuhan selalu punya caranya sendiri untuk membahagiakan hamba-Nya,” tutur Saif. (yog/mg1)