Kondisi erupsi Merapi saat ini memaksa sejumlah warga lereng menjual hewan ternak mereka. Berdasarkan pantauan Radar Jogja, aktivitas jual beli terjadi sejak pasca erupsi 11 Mei. Mayoritas adalah warga Kalitengah Lor yang berprofesi sebagai peternak sapi.

Penyebab utama adalah takut kehilangan ternak jika sewaktu-waktu erupsi besar. Alasan ini mengemuka kuat oleh sebagian warga. Di samping itu, cara ini dipandang praktis dibandingkan mengevakuasi ternak ke kandang bersama.

“Sudah saya jual setelah 11 Mei lalu. Punya empat sapi, dua sapi usia muda sudah saya jual seharga Rp 15 juta. Trauma, karena tahun 2010 saya kehilangan dua sapi karena erupsi,” ujar salah seorang warga Kalitengah Lor, Kemi, 35, Sabtu (26/5).

Keinginan Kemi untuk menjual dua sapinya cukup beralasan. Jarak rumahnya dengan puncak Merapi hanya 3,5 kilometer. Hal ini tentu menjadi catatan tersendiri jika sewaktu-waktu terjadi erupsi dadakan. Kendala lainnya, kendaraan untuk mengevakuasi sapi ke kandang bersama.

Terkait harga, diakui olehnya jauh dari harga pasaran. Untuk harga normal sapi perah dewasa berkisar Rp 17 juta. Sementara untuk sapi jenis metal dewasa normalnya Rp 30 juta. Untuk saat ini harga sapi jenis perah maupun metal kisaran Rp 15 juta hingga Rp 20 juta.

Keputusan Kemi menjual sapinya tetap atas pertimbangan. Dua sapi tersisa adalah jenis sapi perah. Untuk setiap harinya bisa menghasilkan 20 liter susu dalam dua kali pemerahan. Harga satu liter susu sapi murni kisaran Rp 4,8 ribu hingga Rp 5 ribu.

“Sebenarnya di bawah harga pasar, tapi juga tidak rugi. Pasca 11 Mei beberapa blantik sudah naik ke sini dan menawar sapi. Saya jual saja, kalaupun saya bawa ke kandang bersama juga tetap repot. Mau bagaimana lagi, kepepet,” jelasnya.

Peternak lainnya Poniman, 40, mengaku mengambil langkah yang sama. Hanya saja alasan penjualan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Alasannya, pasca erupsi freatik 11 Mei dia tidak bisa beraktivitas kerja secara maksimal.

“Sudah banyak yang dijual oleh warga. Mungkin sudah sampai 50 ekor sejak erupsi pertama. Pembeli langsung mendatangi rumah-rumah peternak,” katanya.

Kades Glagaharjo Suroto menyayangkan aksi jual sapi. Sejatinya pemerintah desa telah menyiapkan lahan khusus untuk hewan ternak. Setidaknya ada dua lapangan seluas 5.000 meter persegi yang bisa dimanfaatkan sebagai kandang bersama.

Terkait data, Suroto belum bisa memastikan jumlah peternak dan hewan ternak. Ini karena peternak tidak hanya ada di Dusun Kalitengah Lor. Dia juga belum bisa memastikan jumlah peternak yang menjual sapinya.

“Sebenarnya ya sayang, tapi kami juga tidak bisa melarang karena itu keputusan warga. Untuk kandang bersama sudah kami siapkan lapangan di utara Kantor Desa Umbulharjo. Jaraknya juga sangat dekat dari barak pengungsian,” jelasnya. (dwi/laz/mg1)