MUNGKID- Setelah dibuka dengan pengobatan gratis selama dua hari, rangkaian peringatan Tri Suci Waisak 2562 BE/2018 yang diselenggarakan Perwakilan Umat Buddha Indonesia (Walubi) di Magelang dilanjutkan dengan penyambutan Api Dhamma.

Api yang diambil dari sumber api abadi di Mrapen, Grobogan, Purwodadi diterima oleh Ketua Umum Walubi S. Hartati Murdaya. Api disemayamkan selama dua malam di Candi Mendut. Sebelumnya, api tersebut disambut melalui proses upacara pradaksina dan lantunan doa.

Hartati mengatakan, Api Dhamma adalah lambang penerang. Api tersebut diharapkan menjadi penuntun kehidupan manusia. Agar selalu melangkah di jalan yang benar. Api tersebut juga menjadi pengikis segala hawa nafsu yang tidak baik, kebatilan, dan kebodohan.

“Sebagaimana tema Waisak tahun ini, ‘Transformasikan Kesadaran Delusi Menjadi Kesadaran Murni,’ kami mengajak semua manusia untuk introspeksi,” ujarnya Minggu (27/5) sore.

Menurut Hartati, musuh utama manusia justru ada pada diri masing-masing. Yakni, ego.

“Marilah bersama-sama berjuang mengalahkan ego itu agar jasmani kita bisa dibebaskan dari segala hawa nafsu, menuju kesucian rohani,” ajaknya.

Pelaksana Harian Walubi Bante Pabakaro Thera menambahkan, perayaan Waisak kali ini diikuti pula oleh para biksu dan umat Buddha dari Thailand, Malaysia, dan Tiongkok. Juga perwakilan dari beberapa sangha, seperti Sangha Teravadha, Mahayana, dan Tantrayana.

“Pengambilan api abadi di Mrapen merupakan rangkaian puja bakti untuk puncak Waisak pada Selasa (29/5) malam. Api tersebut merupakan lambang semangat untuk menjadi baik,” jelasnya.

Turut menjadi rangkaian perayaan Waisak, hari ini akan diadakan prosesi pengambilan air suci di sumber mata air Jumprit, Temanggung. Air suci ini kemudian juga disemayamkan di Candi Mendut bersama Api Dhamma. Api maupun air tersebut selanjutnya dibawa bersama-sama ke Candi Borobudur untuk puja bakti sekitar pukul 21.19. Sebagaimana perayaan Waisak tahun-tahun sebelumnya, rangkaian acara akan ditutup dengan pelepasan lampion.

“Kami umat Buddha selalu berdoa dan mendoakan mereka yang melakukan sesuatu perbuatan merugikan orang lain dan negara segera sadar dan kembali ke jalan benar. Karena tujuan manusia hidup adalah sebenarnya untuk damai,” kata Bante Pabakaro.

Direktur Urusan dan Pendidikan Agama Buddha, Ditjen Binmas Buddha, Kementerian Agama RI Supriyadi berharap, penyemayaman api dan air abadi bisa menjadi spirit masyarakat Indonesia untuk tetap memeluk keyakinan beragama. Dengan bersemayamnya lambang kebajikan itu umat Buddha di Indonesia diharapkan bisa menjadi warga yang baik dan memiliki karya bagi bangsa.

“Semoga Waisak tahun ini senantiasa membawa kebahagiaan dan kedamaian bagi kita semua,” harapnya. (dem/yog/mg1)