SLEMAN – Pasca erupsi Merapi 11 Mei 2018 Taruna Siaga Bencana (Tagana) Sleman menyiagakan 118 personel. Seluruhnya tersebar di posko-posko tanggap darurat Pakem maupun Cangkringan. Tugas Tagana di antaranya distribusi logistik untuk relawan dan pengungsi.

Ketua Tagana Sleman Sriyono meminta timnya fokus pada tugas pokok dan fungsinya. Dia melarang Tagana terlibat tugas evakuasi tanpa koordinasi. Hal ini guna menghindari kesalahan prosedur dalam manajemen kebencanaan.

“Jika harus turun melakukan evakuasi atau di lokasi kawasan rawan bencana (KRB) harus koordinasi dengan instansi yang berwenang,” kata Sriyono saat apel siaga di Kantor Tagana Sleman, Tridadi, Minggu (27/5).

Terkait pelayanan pengungsian, khususnya pemenuhan kebutuhan pangan, timnya telah bergerak. Upaya awal dengan mendata titik pengungsian atau barak di setiap wilayah. Selanjutnya mendata jumlah warga yang mengungsi di setiap wilayah.

Inventarisir ini bertujuan memastikan ketersediaan alat dapur umum. Setidaknya mampu memenuhi kebutuhan pangan dalam satu pengungsian. Jika lebih kondusif, timnya hanya mengirimkan logistik mentah untuk diolah secara mandiri.

“Untuk saat ini yang jelas dan pasti di Balai Desa Glagaharjo Cangkringan. Mayoritas warga dari Kalitengah Lor terutama usia lanjut. Saat ini sudah berkoordinasi untuk kebutuhan logistik harian sesuai jumlah pengungsi,” kata Sriyono.

Selain Glagaharjo, timnya juga mengirim logistik ke lokasi pengungsian di SD Sanjaya Tritis Purwobinangun Pakem. Bedanya di tempat tersebut, Tagana hanya mengirimkan bahan baku mentah untuk diolah mandiri. Pertimbangannya, warga tidak mengungsi secara permanen setiap hari.

Terkait kebutuhan harian, Sriyono memastikan tetap terpenuhi. Tercatat untuk kebutuhan per hari di Glagaharajo mencapai 150 porsi untuk sahur. Jumlah ini masih akan bertambah saat berbuka. Demikian pula untuk makan siang bagi warga yang tidak berpuasa tetap terjamin.

“Terkait posko, Tagana Sleman berlokasi di Balai Desa Umbulharjo Cangkringan. Selain memudahkan pergerakan juga koordinasi. Titik ini potensial karena bisa menjangkau semua wilayah,” kata Sriyono.

Pendataan juga dilakukan tim Tagana DIJ. Pendataan tidak hanya kebutuhan logistik namun radius aman bagi titik pengungsian. Setidaknya untuk radius 10 kilometer dari puncak Merapi terdata 74 ribu warga, 140 ribu warga jika 15 kilometer dan 230 ribu warga dalam radius 20 kilometer.

“Radius ini adalah jangkauan aman jika suatu waktu terjadi erupsi Merapi. Pertimbangan evakuasi termasuk jumlah logistik yang dibutuhkan,” ujar pengurus Tagana DIJ Sahid.

Data ini setidaknya mampu menjadi gambaran tim siaga bencana. Tidak hanya Tagana namun juga instansi yang terkait dengan evakuasi dan tindakan lapangan. Guna mengoptimalkan Tagana DIJ juga menyiagakan seluruh personel di kabupaten/kota terkait kondisi Gunung Merapi.

“Data ini setidaknya bisa membantu untuk pemetaan manajemen bencananya. Misal satu barak bisa menampung berapa warga dan memastikan kebutuhan logistik tidak kurang. Untuk keseluruhan, saat ini Tagana DIJ beranggotakan 1.030 dan siap mem-backup Sleman,” kata Sahid. (dwi/iwa/mg1)