MUNGKID – Putaran pertama dinilai monoton dan mirip lomba pidato, Debat Publik Pasangan Calon Bupati dan Wakil Bupati Magelang putaran kedua kini lebih dinamis. Ini tidak lepas dari tema debat di Grand Artos Hotel & Convention Magelang, Sabtu (26/5) malam soal demokrasi dan tata kelola pemerintahan yang baik.

Sejak awal KPU Kabupaten Magelang selaku penyelenggara meminta para pasangan calon (paslon) memusatkan perhatian pada reformasi birokrasi dalam rangka mendorong pemerintahan yang bersih dan pelayanan publik yang baik. Juga adanya komunikasi publik yang lebih intensif antara pemerintah dan masyarakat.

Pada sesi pertama, paslon nomor 1, Zaenal Arifin-Edy Cahyana (Padi) lebih menekankan pada keberhasilan kerja dan mengajak masyarakat melanjutkan capaian itu, mengingat Zaenal Arifin adalah bupati petahana. Sedangkan paslon nomor 2, Muhammad Zaenal Arifin-Rohadi Pratoto (Zaroh) ingin Kabupaten Magelang lebih maju, mandiri dan sejahtera, karena posisi Zaenal Arifin selaku wabup incummbent. Saat sesi penyampaian visi misi ini, nyaris suasananya mirip pada debat publik putaran pertama.

Memasuki sesi kedua, panelis yang terdiri atas Abdul Gaffar Karim, Wasingatu Zakiyah dan Arie Sudjito menyampaikan pertanyaan, suasana mulai memanas. Karena pertanyaan yang diajukan menyangkut agenda inovatif kedua paslon dan banyaknya jabatan di Pemkab Magelang yang tidak diisi pejabat definitif alias hanya sekelas pelaksana tugas (plt), salah satunya posisi Sekda. Suara gemuruh pendukung, yang masing-masing paslon dibatasi 100 orang mulai terdengar. Dua paslon sendiri mulai memperlihatkan taktik bertahan dan menyerang.

Terhadap pertanyaan soal banyaknya jabatan Plt, Padi beranggapan jabatan-jabatan itu sangat terkait aspek-aspek regulasi nasional yang membuat pihaknya sulit menetapkan pejabat definitif, tanpa mengorbankan kinerja. Paslon nomor 1 berjanji akan menuntaskan persoalan ini jika terpilih kembali. Sementara Zaroh menilai persoalan kekosongan pejabat definitif terkait pembagian tugas antara bupati dan wabup yang tidak jelas. Paslon nomor 2 berjanji menyelesaikan masalah ini jika terpilih.

Suasana semakin menarik, karena pada sesi paslon bertanya, Zaroh memilih pertanyaan tentang akuntabilitas pemerintahan ketika pejabatnya diisi banyak Plt. Pertanyaan ini dijawab Padi bahwa penunjukkan Plt tidak menyalahi aturan dan ditegaskan penunjukan pejabat birokrasi sangat terkait kepercayaan dari pimpinan untuk melaksanakan visi dan misinya. Suasana menjadi meriah dengan adanya teriakan dari masing-masing pendukung. Raut wajah tegang mulai terlihat pada wajah paslon tertentu.

Suasana tenang kembali muncul setelah masing-masing pihak menyampaikan closing statement di mana Padi mengajak masyarakat dan birokrasi untuk meningkatkan perbaikan pelayanan publik di bawah kepemimpinan mereka. Sedangkan paslon 2 menegaskan, kinerja pemerintahan akan berbanding lurus dengan kesejahteraan publik, dan masyarakat perlu mendukung Zaroh untuk mewujudkan hal itu. Debat publik yang dipandu Rory Asyari dan Ninok Haryani ini ditutup dengan deklarasi para paslon untuk menepati janji-janji kampanye yang mereka berikan kepada masyarakat.

“Tujuan debat ini untuk memberikan edukasi kepada masyarakat bahwa pemilihan bupati adalah soal adu program dan visi-misi, bukan adu kekuatan dan adu uang. Yang jelas, debat publik putaran kedua ini lebih dinamis. Paslon lebih siap secara materi,” jelas Ketua KPU Kabupaten Magelang Afifuddin.

Hal serupa juga dikemukakan Ketua Panwas Kabupaten Magelang Habieb Shaleh bahwa acara berjalan lebih semarak dan lancar. Apalagi pernyataan dari kedua paslon maupun statemennya, saling memberikan serangan satu sama lain, sehingga menimbulkan tingkat kehangatan di pihak pendukung. (dem/laz/mg1)