SLEMAN – Belum diberlakukannya status tanggap darurat membuat para pengungsi di lereng Gunung Merapi merasa kurang mendapat perhatian pemerintah. Sebagian pengungsi yang rata-rata berusia lanjut juga mulai terserang berbagai penyakit. Jenis penyakit yang dominan adalah infeksi saluran pernapasan dan iritasi kulit. Keberadaan barak pengungsian di Desa Glagaharjo yang seadanya ditengarai turut menjadi pemicu timbulnya penyakit. Apalagi setiap malam para pengungsi hanya tidur beralaskan tikar.

Bahkan dua lansia yang menghuni barak sejak Senin (21/5) harus dirujuk ke Klinik Pratama PKU Muhammadiyah Cangkringan karena kondisi kesehatan mereka terus menurun. Keduanya adalah Arjo Suwito,80, dan Mawardi,65. Mereka warga Dusun Kalitengah Lor, Glagaharjo.

“Pak Arjo Suwito memang memiliki riwayat penyakit jantung sejak lama. Dia tinggal seorang diri dan tidak memiliki kartu tanda penduduk,” ungkap Sri Rahayu, salah seorang pendamping lansia Cangkringan, di Balai Desa Glagaharjo Minggu (27/5).

Menurut Sri, Arjo tak punya kartu jaminan asuransi kesehatan. Karena itu biaya pengobatannya selama ini ditanggung pemerintah desa setempat. Untuk sementara Arjo hanya diminta menandatangani surat keterangan tinggal, surat keterangan tidak mampu, dan diagnosis dokter. Semua itu sebagai syarat administrasi agar biaya pengobatannya bisa ditanggung pemerintah.

Sesampai di klinik Arjo terkulai lemas. Diagnosis awal salah seorang dokter yang menanganinya menyebutkan Arjo mengalami hipertensi. Kondisi itu dikuatkan dengan pembengkakan pada kaki sebelah kirinya. “Pasien ternyata tidak bisa makan nasi, hanya bubur,” ungkap dr Indra Damawan.

Arjo harus dirawat inap di klinik setidaknya selama dua hari.

Sementara itu, kondisi para pengungsi menjadi sorotan Surono. Bekas kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) itu mengaku prihatin dengan suasana Balai Desa Glagaharjo yang difungsikan sebagai barak pengungsian. Ya, sosok yang lebih akrab disapa Mbah Rono itu tahu betul situasi dalam menghadapi erupsi Merapi. Dialah sosok penting ketika Merapi mengalami erupsi besar pada 2010 silam. Prediksinya yang jitu terhadap gejolak Merapi kerap menjadi rujukan penanganan para pengungsi.

“Saya dulu pernah berjanji tidak akan membiarkan warga Merapi sendirian ketika gunung meletus,” ungkapnya ketika menyapa para pengungsi Minggu (27/5).

Surono khawatir, kondisi barak yang ala kadarnya, ditambah pemenuhan kebutuhan logistik yang serba minimalis berpengaruh pada psikologis para pengungsi. Mereka pun mulai bosan, sehingga tak sedikit yang memilih pulang ke rumah masing-masing. “Lima hari tinggal di hotel saja sudah bosan, apalagi harus berhari-hari di barak pengungsian,” sindirnya.

Surono mengimbau warga yang jarak rumahnya di luar radius 3 kilometer agar tetap beraktivitas seperti biasa dan tak perlu mengungsi. Sambil menunggu perkembangan kondisi Merapi dari Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG). “Yang penting tidak panik, tapi tetap waspada,” tuturnya.

Dikatakan, selama beberapa hari ini Merapi seperti tertidur. Surono pun tak bisa memastikan kapan Merapi akan memasuki fase erupsi magmatik. Kendati demikian, dia menegaskan bahwa Merapi aman dikunjungi, asal tidak sampai puncak. Sebagaimana informasi BPPTKG Jogjakarta, Surono juga tidak menemukan gejala Merapi seperti ketika akan meletus pada 2010. “Alam juga punya keterbatasan dan titik letih,” katanya.

Terpisah, psikolog Ega Asnatasia Maharani mengatakan, pengungsi lereng Merapi perlu mendapatkan perlakuan khusus berupa psychological first aid. Fokus utamanya adalah memberikan rasa aman secara psikologis bagi warga terdampak. Apalagi mereka masih menyimpan trauma erupsi 2010.

Menurutnya, trauma healing tak harus dilakukan oleh psikolog. Relawan bencana pun bisa melakukannya. Pelaksanaannya bisa dilakukan secara berkelompok berdasarkan usia. (cr4/yog/mg1)