DI ERA digital ini penggunaan internet tidak lagi dapat dibendung. Masyarakat, khususnya anak muda, banyak melakukan komunikasi dan berbagi informasi dengan memanfaatkan media sosial (medsos).

“Generasi milenial sebagian besar waktunya bukan lagi untuk nonton tv. Tapi melihat gawai,” ungkap Wakil Ketua Komisi I DPR RI Ahmad Hanafi Rais saat berbicara dalam Seminar Merajut Nusantara bertema Pemanfaatan Media Sosial sebagai Sumber Informasi Publik di Hotel Sahid Jaya Babarasari Sleman (26/5).

Hanafi mencatat sebagian besar generasi milenial yang lahir di era 2000-an mempunya berbagai sarana medsos. Di antaranya Instagram, Facebook, dan Twiter. Pemakaian medsos bak pedang bermata dua.

Dari sisi positif orang yang ingin mendapatkan tausyiah dari ustad dapat memanfaatkan Youtube. Dengan demikian, orang tidak perlu mengundang secara khusus seorang ustad. Di Youtube berbagai jenis tausyiah bisa diperoleh.

Di luar itu, pemanfaatan internet juga membuka peluang kerja. Kini, banyak anak muda yang memilih berbelanja melalui medsos. Misalnya lewat Tokopedia, Bukalapak atau Lazada.

Kondisi itu berdampak menurunnya pembeli di mal-mal. “Transaksi dilakukan melalui online,” cerita Hanafi.

Orang datang ke pusat perbelanjaan bukan untuk membeli barang. Mereka datang hanya sekadar mengecek harga barang. Lantaran selisihnya cukup jauh, sebagian memilih bertransaksi secara online.

“Mal ramainya lebih karena orang makan di restorannya dan bukan membeli sesuatu di mal tersebut,” lanjut dia.

Hanafi mencatat banyak orang mendapatkan uang dari medsos. Misalnya menjadi penyanyi di Youtube dengan meniru gaya penyanyi luar negeri. Rupanya penampilan di Youtube itu menarik perhatian dan diunggah banyak orang.

“Namanya terkenal. Oleh jeneng lan jenang (dapat nama dan uang),” ucapnya.

Meski demikian, Hanafi tidak menutup mata, internet bukan hanya membawa keberkahan atau kebaikan. Internet juga menjadi sarana mudah menyebarkan keburukan dan sentimen sehingga mengancam disintegrasi bangsa.

Direktur Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI) Kementerian Komunikasi dan Informatika Anang Achmad Latif menjelaskan tugas dan fungsi yang diemban lembaganya. BAKTI mendapatkan tugas membangun infastruktur yang positif dan produktif. “Contohnya ikut mendorong pertumbuhan ekonomi,” terangnya.

Dikatakan, operator seluler yang ada hanya bersedia membangun 88 persen infrastruktur komunikasi di perdesaan. Dari total itu, ada sebanyak 12 persen atau 9.000 desa yang belum tersentuh. “Maka itu BAKTI hadir,” katanya.

Desa-desa yang tidak tersentuh oleh operator seluler itu berdampak tidak adanya sinyal seluler. Tanpa adanya sinyal maka orang tidak dapat menggunakan medsos.

Kalaupun ada sinyal hanya 2G yang hanya dapat telepon dan mengirimkan pesan SMS. Sedangkan untuk dapat mengakses medsos minimal harus 3G atau 4G. “Infrastruktur itu yang sekarang sedang kami bangun,” lanjut Anang.

Tenaga Ahli DPR RI Nazaruddin mengatakan penggunaan medsos tidak dapat dielakkan. Karena itu, dia mengajak para orang tua tidak gagap teknologi alias gaptek.

“Kalau gaptek tidak dapat mengawasi anak-anaknya. Apakah menggunakan internet untuk hal-hal positif atau negatif. Jadi para orang tua jangan gaptek,” ajak dia.

Diakui, pemanfaatan internet dapat dilihat dari dua hal. Baik atau buruk. “Tinggal pilihan penggunaannya,” ingat dia. Seminar itu juga menghadirkan pembicara Wakil Ketua DPRD DIJ Arif Noor Hartanto. (*/kus/iwa/mg1)