JOGJA – Jumlah sapi yang disembelih di Rumah Pemotongan Hewan (RPH) Giwangan Jogja mengalami penurunan. Penurunan bukan karena minimnya minat menyembelih sapi di RPH milik Pemkot Jogja tersebut.

“Turun karena ada larangan pemerintah Pusat terkait pemotongan sapi betina produktif,” ujar Plt Kepala Dinas Pertanian dan Pangan (DPP) Kota Jogja Sugeng Darmanto Minggu (27/5).

Sebelumnya, RPH Giwangan banyak menerima pemotongan sapi betina karena harga sapi tersebut lebih murah dibanding sapi jantan.

Tapi, jika sapi betina tersebut sudah berusia lebih dari delapan tahun atau mengalami cacat fisik meskipun belum berusia delapan tahun, masih diperbolehkan untuk dipotong. Dengan aturan baru itu rerata jumlah sapi yang dipotong tahun ini hanya sembilan hingga 10 ekor per hari.

“Kalau tahun lalu bisa mencapai 17 hingga 18 ekor per hari,” katanya.

Penurunan jumlah sapi yang dipotong di RPH Giwangan itu juga berpengaruh pada jumlah karkas (daging) yang dihasilkan untuk memenuhi kebutuhan daging yang akan dijual di pasar Kota Jogja.

Satu sapi jantan yang berbobot 500 kilogram rata-rata akan menghasilkan karkas 250 kilogram. Sehingga total karkas yang dihasilkan berkisar antara dua hingga tiga ton per hari.

“Kebutuhan di Kota Jogja sekitar lima hingga enam ton per hari,” jelasnya.

Tapi dirinya mengklaim Kota Jogja tidak mengalami kekurangan pasokan daging sapi. Hal itu karena ada tambahan pasokan dari daerah lain seperti dari Sleman, Bantul, Boyolali, maupun Magelang.

Harga daging sapi di sejumlah pasar tradisional hingga memasuki pekan kedua Ramadan tetap stabil. Yaitu di kisaran Rp120.000 per kilogram untuk daging sapi kualitas terbaik. (pra/iwa/mg1)