Lewat Biola, WR Soepratman Bangkitkan Nasionalis Para Pemuda

Wage Rudolf (WR) Soepratman meninggal dalam usia muda, 35 tahun. Tapi, lewat gesekan biola mautnya, lagu instrumentalia Indonesia Raya yang dipedengarkan dalam penutupan Kongres Pemuda ke II pada 28 Oktober 1928 terus membakar semangat jiwa nasionalis para tokoh pergerakan kemerdekaan. Sampai akhirnya, lagu gubahan almarhum Indonesia Raya resmi dikumadangkan saat Soekarno dan Mohamad Hatta atas nama Bangsa Indonesia memproklamirkan Indonesia Merdeka pada 17 Agustus 1945.

***

LOKASI rumah WR Soepratman di Jalan Mangga 21 Surabaya berada di tengah perkampungan padat. Dari Stadion Tambaksari ke arah barat jaraknya sekitar 100 meter. Masuk jalan kampung lebarnya hanya tiga meter. Mobil tidak bisa masuk di jalanan paving menuju rumah di Jalan Mangga No 21.

Jangan kaget rumah tempat menghembuskan nafas terakhir pencipta lagu Kebangsaan Indonesia Raya tergolong kecil layaknya rumah di perkampungan padat penduduk. Benar benar kecil. Hanya berukuran 5 x 10 meter. Beruntung tata ruang atau lay out sangat bagus. Hingga terkesan tidak sumpek.

Uniknya, rumah WR Soepratman atapnya berbentuk model rumah gadang. Tinggi menjulang. Tahun 2003 rumah maestro biola itu masuk cagar budaya dan dijadikan museum WR Soepratman. Kini, rumah kecil itu tertata apik.

Begitu datang, pengujung disambut patung WR Soepratman setinggi tiga meter sambil memainkan biolanya. Ia berpakaian resmi. Stelan jas warna krem, dasi hitam dan peci hitam. Halaman kecil sekitar patung disulap menjadi taman mini. Pohon yang ditanam ukuranya mini dan pendek menyesuaikan kondisi taman tidak terlalu luas.

Di ruang tamu dipajang aneka foto WR Soepratman. Ada gambar rumah dan pintu gerbang kampungnya Purworejo, foto kakak perempuan yang diikutinya; Roekiyem. Ada foto Soepratman dengan keponakannya Dedy Ferdinan. Serta tulisan riwayat hidupnya. Juga foto kakak iparnya yang mengajari bermusik W.M Van Eldik.

Ada dua kamar di rumah sederhana itu. Kamar utama berukuran 3 x 3 meter diisi ranjang kayu sederhana tanpa kasur. Ada dua kursi jati lawas. Juga ada lukisan WR Soepratman lengkap dengan bait, lirik dan nada lagu Indonesia Raya. Juga ada tulisan wasiat sang maestro biola sebelum meninggal tahun 1938. Wasiat terakhir W.R. Supratman: “Nasibku sudah begini. Inilah jang disukai pemerintahan Hindia Belanda. Biarlah saja meninggal, aku saja ichlas saja. Toch sudah beramal, berdjuang dengan caraku, dengan biolaku. Saja jakin Indonesia pasti merdeka.”

Dan, ucapan WR Soepratman terbukti. Hanya selang tujuh tahun setelah meninggal Indonesia diproklamirkan Bung Karno-Bung Hatta sebagai negara merdeka, berdaulat pada 17 Agustus 1945.

Di kamar lebih kecil ada replika biola ukuran mini dibingkai kaca. “Ini hanya biola replikanya. Yang asli ada di Museum Jakarta,” kata Ahmad Saifuna Arif pegawai Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Pemkot Surabaya yang diperbantukan menjaga rumah WR Soepratman Sabtu (28/4/2018) lalu kepada penulis.

Di kamar itu ada foto Dr Soetomo pendiri gerakan Boedi Oetomo yang merupakan teman diskusi WR Soepratman. “Kalau ini intel-nya Belanda, orang yang terus mengawasi gerak gerak WR Soepratman ,” ujar Arif sambil menunjuk gambar orang Belanda.

“Kalau itu foto terakhir W R Soepratman sebelum beliau meninggal,” jelasnya sambil menunjuk foto yang dimaksud. WR Soepratman tampak kurus dengan mata cekung karena sakit.

Di belakang bangunan ada toilet kecil sangat bersih terbuat batu pualam dan marmer putih. Juga ada WC duduk. Ditata apik, bersih dan mengkilat. Juga wangi.”Kalau ini baru semua,” tambah Arif ramah. Di bagian belakang rumah ada ruang terbuka dijadikan taman. Di belakang tapi ada akses pintu kecil. “Dulu di belakang tembok itu ada gang kecil. Sekarang ditutup.”

Itu lah rumah Roekiyem Soepratijah kakak kandung WR Soepratman . Rumah sekecil dihuni empat orang. WR Soepratman, kakaknya Roekiyem Soepratijah dan suaminya W.M Van Eldik serta anak tunggalnya Dedi Ferdinand.

WR Soepratman lari dari kejaran Belanda dari Pemalang, Jateng, ke Surabaya tahun 1937. Ditangkap Belanda dan dijebloskan ke LP Kalisosok. Karena sakit sakitan Soepratman dipulangkan ke rumah kakaknya Roekiyem Soepratijah. “Beliau meninggal di rumah ini 17 Agustus 1938,” terang Arif.

Sedangkan makam WR Soepratman sendiri terletak di TPU Rangka di Jalan Kenjeran. Atau sekitar 1,5 kilometer dari rumahnya, Jalan Mangga 21. Makam WR Soepratman cukup luas, megah. Arealnya rindang karena banyak pepohonan besar. Salah satunya kamboja.

Letaknya persis di pinggir Jalan Raya Kenjeran tak jauh dari akses jalan ke Jembatan Suramadu. Luasnya 43 x 43 meter. Sekeliling makam di pagar tembok. Ada juru kunci yang tinggal di belakang areal makam. ” Kami menjaga makam ini secara turun temurun. Pertama kakek, lalu bapak sekarang saya,” kata Utami Fitria kepada penulis Sabtu (28/4/2018) Lalu.

Mulanya, makam WR Soepratman berada di TPU Rangkah yang berada di seberang jalan lokasi yang sekarang. Sekitar tahun 1960, atas permintaan keluarga dan pemerintah, makam dipindah ke depan yang lokasinya sekarang. Kebetulan saat itu ada tanah kosong jadi dipakailah tanah ini buat makam pribadi WR Soepratman.

Makam W.R. Supratman cukup megah. Pusara terbuat dari pualam marmer putih berbentuk siluet biola di bagian tengah pusara. Sedangkan batu nisan dibuat menyerupai ornamen bunga matahari. Bagian bawah biola ada sepenggal syair lagu Indonesia Raya beserta notasi balok bertuliskan “Indonesia tanah airku”, “Indonesia Tanah jang mulja” dan “Indonesia Tanah jang sutji”. Pemugaran makam ini diresmikan Presiden RI ke 5, Megawati Soekarnoputri, pada 18 Mei 2003. “Kapan pun pengunjung bisa datang. Wong kami tinggal di sini (belakang makam). Pengunjung ramai saat perayaan hari nasional,” ujar Tami.

Halaman komplek makam juga dilengkapi patung W.R. Soepratman bermain biola. Patung terbuat cor balok semen berlapiskan marmer bertuliskan “Wage Rudolf Supratman Pencipta Lagu Kebangsaan Indonesia Raya”. Di belakang patung W.R. Supratman, terdapat tiga prasasti bertuliskan tiga bait dari Lagu Indonesia Raya.

Dalam prasasti menceritakan riwayat hidupnya. Juga mencantumkan daftar lagu-lagu ciptaannya: Indonesia Raya, Bendera Kita Merah Poetih, Indonesia Ibuku, Raden Adjeng Kartini, Bangoenlah Hai Kawan, Mars KBI (Kepandoean Bangsa Indonesia), Mars PARINDRA, Di Timoer Matahari, Matahari Terbit, Mars Soerya Wirawan, Dari Timur Sampai Barat yang kemudian berubah Dari Sabang Sampai Merauke dan Selamat Tinggal (belum selesai, 1938).

(Bahari/bersambung)