JOGJA – Rektor Universitas Islam Indonesia (UII) Nandang Sutrisna mengakhiri jabatannya 1 Juni 2018. Dia diangkat sebagai rektor pada Maret 2017 melanjutkan rektor sebelumnya Harsoyo yang mengundurkan diri karena musibah kekerasan Mapala UII.

“Selain melanjutkan program strategis, untuk memulihkan keadaan saat itu sekaligus melakukan penataan kembali organisasi mapala. Khususnya tugas akreditasi institusi,” kata Nandang di ruang sidang Gedung Pascasarjana Ilmu Hukum UII sore Minggu (27/5).

Pihaknya menyatakan saat ini kondisi UII sudah seratus persen pulih dan berada di posisi terbaiknya. “Ini adalah puncak keberhasilan UII sejak perguruan tinggi ini didirikan,” tuturnya.

Pencapaian tersebut diukur dari banyaknya prestasi yang diraih civitas akademika UII. Baik skala nasional maupun internasional.

Wakil Rektor I UII Ilyas Fadjar Mahardika mengatakan saat ini UII menduduki posisi pertama perguruan tinggi swasta terbaik di Indonesia. Bahkan beberapa program studi melampaui perguruan tinggi negeri.

Untuk rektor selanjutnya, masa bakti 2018-2022 sudah terpilih Fathul Wahid dari Fakultas Teknologi Industri. “Saya harap Fathul Wahid sebagai rektor baru bisa membawa UII ke puncak yang lebih tinggi,” ujar Nandang.

UII diharapkan dapat menjadi rujukan ilmu-ilmu keislaman di Asia. Lima program studi sudah terakreditasi internasional yakni teknik sipil, arsitektur, profesi arsitek, akuntansi, dan teknik industri.

“Suatu peningkatan yang cukup signifikan dari tahun-tahun sebelumnya,” ujar Wakil Rektor II Nur Feriyanto.

Wakil rektor III Agus Taufiq menambahkan, mapala yang sudah dibekukan akan memulai aktifitasnya lagi secara internal terhitung sejak pergantian rektor mendatang. “Sudah dilakukan perbaikan organisasi dan aspek lainnya. Berkoordinasi dengan pendiri, alumni, dan keluarga,” terangnya. (cr3/iwa/mg1)