BANTUL – Rumah hancur, listrik mati, dan hujan. Itulah memori yang masih melekat dalam benak Jumeno, 70, setelah gempa bumi 2006. Bagaimana tidak, guncangan hebat sekitar 57 detik menyebabkan rumahnya rata dengan tanah. Begitu pula dengan sebagian besar rumah di Dusun Mirisawit, Panggungharjo, Sewon.

“Hanya ada tujuh rumah yang masih berdiri,” tutur Jumeno saat ditemui di rumahnya Minggu (27/5).

Kendati rumahnya tak berbentuk lagi, Jumeno merasa bersyukur. Anak dan cucu-cucunya selamat. Dia menceritakan, saat gempa dia sedang beraktivitas di halaman rumah. Sementara, anaknya tengah memasak di dapur. Lalu, kedua cucunya plus menantunya masih tidur.

“Total ada 12 warga yang meninggal dunia. Yang luka-luka puluhan,” sebutnya.

Miasih, 47, anak Jumeno menyampaikan hal serupa. Menurutnya, seketika dia langsung membangun kedua anak dan suaminya. Mereka lantas berlari menyelamatkan diri keluar rumah.

“Beruntung depan rumah berupa jalan, sehingga kami bisa selamat,” tuturnya.

Diceritakan, pascagempa berbagai bantuan berdatangan. Mulai sembako hingga pakaian. Saat itu juga banyak relawan yang mendirikan posko. Mereka menyalurkan bantuan. Termasuk pembangunan rumah.

“Kami tidak tahu siapa yang mengundang mereka. Mereka berdatangan dari penjuru Negara. Seperti Amerika, Swiss, Jerman, Jepang, dan Cina,” kenangnya. (cr6/zam/mg1)