dr. Nur Muhammad Artha MSc Mkes SpA (RADAR JOGJA FILE)

Jantung merupakan organ vital yang memegang peran penting pada kehidupan setiap manusia, tak terkecuali bayi dan anak-anak. Jantung ibarat pompa. Karena itu dibutuhkan struktur dan fungsi jantung yang normal untuk mempertahankan peredaran darah yang stabil. Ini penting guna mencukupi kebutuhan oksigen dan nutrisi tubuh.

Angka kejadian penyakit jantung bawaan di Indonesia adalah 7 hingga 8 bayi per 1,000 kelahiran hidup. Apabila jumlah penduduk Indonesia sekitar 200-an juta jiwa dan angka kelahiran 2 %, maka jumlah penderita penyakit jantung bawaan (PJB) bertambah 32.000 bayi setiap tahun.

PJB merupakan kelainan bawaan lahir paling banyak terjadi pada bayi lahir.

Kendala utama penanganan anak dengan PJB adalah tingginya biaya pemeriksaan dan operasi.

Jantung terbentuk mulai hari ke-15 kehamilan dan selesai pada hari ke-50. Jantung menjalankan fungsinya sejak usia kehamilan 7-8 minggu. Pada masa itu apabila terjadi gangguan, maka proses pembentukan struktur jantung menjadi tidak sempurna. Penyebab ketidaksempurnaan pembentukan gangguan jantung belum diketahui secara pasti. Berdasarkan banyak penelitian, 7 persen diduga disebabkan infeksi, termasuk faktor gizi serta lingkungan. Sementara 3 persen sisanya diduga dipengaruhi faktor genetik.

Penyakit jantung bawaan memiliki variasi kelainan yang sangat luas. Makanya, anak dengan PJB tetap bisa tumbuh normal. Terutama pada kelainan yang asianotik atau tidak tampak biru. Anak dengan PJB memiliki kelainan struktur jantung yang dapat berupa lubang atau defek pada sekat-sekat ruang jantung, penyempitan, sumbatan katup, atau pembuluh darah yang berasal atau bermuara ke jantung. Bisa juga berupa abnormalitas konfugurasi jantung serta pembuluh darah. Kelainan tersebut dapat bersifat tunggal atau berkombinasi sehingga menimbulkan PJB kompleks.

Komplikasi PJB di antaranya berupa sindrom Eisenmenger, serangan sianotik, dan abses otak. Serangan sianotik terjadi pada PJB sianotik atau biru, di mana penderita menjadi lebih biru dari kondisi sebelumnya. Kadang tampak sesak, bahkan disertai kejang.

Gejala itu jika tidak segera ditangani dapat menimbulkan kematian. Gejala dan tanda PJB dapat dikenali sejak lahir. Bisa juga sebaliknya. Hanya menimbulkan gejala minimal, seperti berat badan sulit naik atau infeksi saluran nafas berulang, sehingga tidak terdeteksi hingga dewasa.

Dokter biasanya mencurigai adanya PJB bila mendeteksi adanya tanda atau gejala gagal jantung, kebiruan, atau mendengar kelainan bunyi (bising jantung). Sering kali PJB tidak memberikan gejala atau tanda khas saat lahir karena sirululasi darah dan sistem pernafasan masih mengalami transisi dari masa janin ke periode setelah lahir.

Deteksi dan identifikasi PJB sangat penting mengingat waktu yang tepat untuk tindakan pengobatan yang berbeda. Saat ini hampir semua tipe PJB dapat dikoreksi, baik melalui tindakan operasi maupun intervensi kateter. Tata laksana meliputi non-bedah dan bedah. Tatalaksana non-bedah meliputi pengobatan medikamentosa dan kardiologi intervensi. Sedangkan tata laksana bedah meliputi pengobatan bedah paliatif dan operasi definitif. Adapun tujuan tata laksana medikamentosa dan bedah paliatif untuk mengatasi gejala klinis akibat komplikasi PJB sambil menunggu waktu yang tepat dilakukan operasi definitif.

Untuk mengenali dan menangani kasus bayi dan anak dengan PJB sangat diperlukan ketelitan dan kecermatan. Perlu koordinasi dari seluruh jajaran tenaga kesehatan mulai dari paramedis, dokter umum, dokter keluarga, dokter spesialis anak, dokter spesialis jantung, konsultan kardiologi, dan dokter spesialis bedah jantung untuk melengkapi dalam satu sistem rujukan komprehensif. (*/yog/mg1)