(GRAFIS: HERPRI KARTUN/RADAR JOGJA)

JOGJA – Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Jogjakarta memperkirakan erupsi magmatik Gunung Merapi kali ini bersifat efusif atau lelehan. Tidak eksplosif seperti letusan pada 2010. Letusan efusif mirip dengan peristiwa erupsi pada 2001 dan 2006 silam.

” Sesuai data pantauan kami terjadinya deformasi (perubahan bentuk) kecil. Jauh berbeda dengan 2010,” ujar Kepala BPPTKG Jogjakarta Hanik Humaidah Jumat (25/5). Kecilnya deformasi disebabkan magma yang keluar secara lambat, sehingga mudah melepaskan gas vulkanik. Kondisi ini tidak menimbulkan tekanan yang cukup kuat untuk mendorong conduit (jalur magma). “Magma naik ke permukaan lama dan encer (leleh),” tambahnya.

Kemungkinan terjadinya erupsi efusif dikuatkan kejadian kegempaan yang tidak signifikan. Pantauan BPPTKG hingga kemarin sore, Merapi tak lagi mengalami erupsi freatik. Terakhir kali gunung yang berada di perbatasan DIJ dan Jawa Tengah itu mengembuskan abu pada Kamis (24/5) pukul 10.48. Selama empat hari sejak Senin (21/5) hingga Kamis (24/5) Merapi tercatat mengalami sembilan kali erupsi freatik.

BPPTKG sudah selesai meneliti kandungan hasil erupsi freatik pada 21 Mei. Hasilnya diketahui, abu yang diambil di wilayah Kaliurang, Pakem, Sleman mengandung unsur magmatik lebih dominan dan bersifat asam. Itu jika dibandingkan abu erupsi freatik pada 11 Mei. Abu hasil erupsi 21 Mei mengandung silica (SiO2), natrium (Nanti), dan Kalsium (Ca).

Sedangkan hasil uji kandungan komponen kristal bebasnya diketahui ada lonjakan signifikan. Hasil analisis pada 11 Mei sebesar 32,85 persen, tapi pada erupsi 21 Mei menjadi 94,74 persen. “Produk erupsi 21 Mei lalu mirip dengan hasil erupsi 2006 dan 2010,” jelas Hanik.

Kendati demikian, BPPTKG Jogjakarta masih mempertahankan status Merapi pada level 2 atau waspada. Rekomendasi pengamanan kawasan lereng tetap di radius tiga kilometer dari puncak yang harus dikosongkan. “Tidak boleh untuk aktivitas penduduk karena tetap ada ancaman lontaran pasir, kerikil, dan batu apabila terjadi letusan,” ungkapnya.

Sementara itu, upaya evakuasi bencana telah dilakukan warga lereng Merapi. Barak-barak pengungsian disiapkan. Skema evakuasi juga mulai disusun guna mencegah crowded seandainya warga harus mengungsi.

Kaur Perencanaan Desa Glagaharjo, Cangkringan Sunardi mengaku telah meningkatkan instalasi air, listrik, dan toilet barak pengungsian. “Ada delapan toilet. Semua bisa digunakan,” katanya.

Barak pengungsian Glagaharjo terdiri atas tiga gedung yang mampu menampung 400 orang.

Skema evakuasi diawali di tingkat dusun. Tiap dusun disediakan satu titik kumpul. Dari situ warga diarahkan ke balai desa setempat. Jika upaya ini dirasa tidak memungkinkan, para pengungsi diarahkan ke barak Desa Argomulyo dan Sindumartani di wilayah Ngemplak.

Untuk kepentingan pendidikan, siswa dari tiga sekolah di Glagaharjo dialihkan ke SDN Kejambon. “Saat ini hanya logistik yang menjadi masalah. Stok kami tinggal sedikit,” ungkap Sunardi.

Langkah serupa ditempuh Pemdes Kepuharjo. Jika ancaman bahaya tak lebih dalam radius 7 kilometer dari puncak, warga akan dievakuasi di barak Kepuharjo. “Untuk hewan ternak kami sediakan tempat di Pagerjurang dan Lapangan Jabalkat, Wukirsari,” ujar Kades Kepuharjo Heri Suprapto.

Untuk fasilitas listrik, air, dan sarana mandi cuci kakus (MCK), lanjut Heri, semua tersedia.

“Jika radius aman lebih dari 10 kilometer warga akan saya arahkan ke barak Kiyaran di Wukirsari, Cangkringan. Kalau lebih dari itu yak e Bimomartani atau Umbulmartani di Ngemplak,” lanjutnya.

Bagi pelajar bisa bergabung dengan SDN Kiyaran 1 dan 2 atau SMPN 1 Cangkringan.

Untuk penyediaan logistik sejauh ini Pemdes Kepuharjo mengalokasikan dana khusus kebencanaan sebesar Rp 296 juta.

Pemdes Umbulharjo juga telah menyiapkan dua barak, di Plosokerep dan Brayut. “Barak Plosokerep bisa menampung 700-an orang, tapi masih ada masalah pada instalasi airnya,” keluh Sekretaris Desa Umbulharjo Suranto.

Dalam kondisi darurat, kebutuhan air untuk antisipasi pengungsi diambilkan dari mata airyang dialirkan lewat jaringan pipa. Dibagi dengan suplai untuk warga hunian tetap Plosokerep.(pra/cr4/yog/mg1)