GUNUNGKIDUL –Pengurus masjid di Gunungkidul mulai mengeluhkan kebutuhan air untuk keperluan ibadah. Seperti dialami jamaah Masjid Mifattul Jannah Padukuhan Blekonanh 1, DesaTepus, Kecamatan Tepus diawal bulan Ramadan tahun ini.

Takmir Masjid Mifattul Jannah Ngadiyo mengatakan, selama puasa jamaah masjid semakin meningkat dibanding bulan yang lain. Dengan demikan kebutuhan untuk air wudhu atau untuk keprluan kegiatan lain juga semakin banyak. Namun yang terjadi saat ini justru pemenuhan air sulit.

“Saat masuk musim kemarau memang daerah sini sulit air. PDAM (Perudahaan Daerah Air Minum Tirta Handayani Gunungkidul) hanya beberapa yang pasang, itu sama saja masih sering mati airnya, terlebih kalau kemarau seperti ini. Termasuk di masjid masih sulit, padahal kalau puasa lebih banyak jamaahnya,” kata Ngadiyo Jumat (25/5).

Solusinya untuk pemenuhan air pihak masjid membeli dengan uang infaq yang dimiliki masjid. Setidkanya dari awal bulan ramadan hingga sekarang sudah membeli sebanyak dua tangki, dengan harga pertangki Rp 110 ribu.

“Dengan demikian menjadi ringan karena menggunakan uang umat dan kembali ke umat,” ujarnya.

Kata dia, fenomena krisis air sudah menjadi ‘agenda’ rutin setiap tahun. Warga sudah hafal betul sehingga jauh hari telah berupaya maksimal agar musim kemarau bisa tetap beribadah sebaik mungkin.

Meski begitu pihaknya berharap kepada pemerintah agarmembantu kebutuhan air di masjid. Dari swasta maupun pemerintah melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) atau instansi lain ditunggu penyaluran bantuannya. “Terlebih nanti ketika mendekati lebaran, kebutuhan air naik berlipat,” ungkapnya.

Sementara itu, Kepala Kementrian Agama (Kemenag) Gunungkidul Aidi Johasah mengaku belum ada program bantuan air untuk masjid. Hanya saja tidak menutup kemungkinan anggaran bersifat kemanusiaan dapat dimanfaatkan dan dialihkan ke masjid yang membutuhkan.

“Meski mata anggaran belum terprogram namun bantuanbersifat kemanusiaan bisa dikeluarkan. Misalnya, bedah rumah, santunan anak yatim, beasiswa, dan beberapa program lainnya, bisa saja anggaran itu untuk membantu yang kesulitan air,” kata Aidi.

Dibagian lain, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Gunungkidul Edy Basuki meminta kepada masyarakat untuk melapor ke desa berkaitan dengan proposal permintaan bantuan air. Permohonan harus perkelompok tidak boleh orang perorang. “Masjid menjadi salah satu prioritas program droping air dari pemerintah,” kata Edy Basuki.(gun/mg1)