GUNUNGKIDUL – Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Wonosari meluncurkan alat pengurai antre pasien. Dengan terobosan di bidang informasi teknologi itu, pasien yang mau berobat rawat jalan di RSUD Wonosari tidak perlu repot antre mendatangi ruang tunggu.

Cukup dengan menggunakan handphone kemudian downlod aplikasi Pendaftaran Tanpa Harus Antre, Lewat Online (Pathilo) di Playstore. Lalu melakukan registrasi dan memasukan nomor rekam medis, membuat password, serta pertanyaan keamanan dan jawaban. Setelah terdaftar, dapat melakukan login dan memilih layanan dan kapan berobat.

“Pendaftaran online bisa dilakuakan H-2 dari tanggal periksa. Nanti memilih pelayanan untuk apa. Ke depan akan kami kembangkan pendaftaran bisa melalui SMS, WA, telepon, dengan itu pasien dapat mendaftar dari rumah,” kata Direktur RSUD Wonosari Heru Sulistyowati di sela launching program di aula rumah sakit Kamis (24/5).

Dia menjelaskan, selama ini pelayanan di RSUD Wonosari cukup padat. Sehingga antrean pasien menjadi panjang. Melalui uji coba program Pathilo diharapkan antrean panjang pasien untuk sembuh bisa diperpendek.

“Jadi untuk dapat mendaftarkan online, pasien harus melakukan pendaftaran manual terlebih dahulu. Agar memiliki nomor rekam medis. Setelah itu tinggal registrasi,” ujarnya.

Kata Heru, selain aplikasi Pathilo juga di-launching Sistem Antrean Apotek (Siantik). Yakni sistem yang memberi kejelasan bagi pasien mengenai lama tunggu mendapatkan obat. Sebelumnya, tidak ada informasi lengkap.

“Program Siantik untuk memberikan kepastian antrean pengambilan obat di instalasi farmasi,” ucapnya.

Tidak hanya itu, untuk memberikan pelayanan masksimal kepada pasien RSUD Wonosari membentuk Tim Simpatik. Misalnya, bagi pasien yang membutuhkan kursi roda dan bantuan didorong untuk menuju ruangan. “Nanti dibantu oleh tim simpatik dari RSUD Wonosari,” terangnya.

Bupati Gunungkidul Badingah mengapresiasi terobosan yang dilakukan RSUD Wonosari. Diharapkan upaya tersebut dapat meningkatan pelayanan kepada pasien serta berprores untuk meningkatkan kelas RS dari C ke kelas B.

“Saya melihat wajah-wajah penuh semangat dari bapak ibu. Semoga bukan karena gaji ke-13 atau THR. Pelayanan kepada pasien harus terus ditingkatkan,” kata Badingah. (gun/iwa/mg1)