JALUR evakuasi menjadi infrastruktur paling krusial guna meminimalisasi dampak bencana erupsi Merapi. Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Sleman Makwan mengaku telah menyiapkan jalur tersebut di wilayah Cangkringan. Namun, dari sekian banyak jalur evakuasi kondisinya buruk karena berhimpitan dengan jalur tambang. “Sebagian jalur evakuasi menjadi kewenangan provinsi. Ada juga yang jalan desa,” ungkapnya Rabu (23/5).

Jalur evakuasi yang buruk dikhawatirkan menghambat proses mitigasi bencana. Terutama untuk mengevakuasi lansia dan balita. Kondisi itu bisa lebih parah jika laju proses evakuasi terhambat truk pengangkut bahan tambang. Karena itu Makwan berharap, pemerintah segera memperbaiki jalur evakuasi dari titik tertinggi tempat hunian warga.

Sekretaris Desa Glagaharjo Agralno mengatakan, sebagian besar lansia di wilayahnya telah memutuskan tinggal sementara di balai desa setempat. Khususnya saat malam. Meski belum ada imbauan resmi untuk mengungsi, langkah tersebut demi meminimalisasi timbulnya korban jiwa jika Merapi benar-benar meletus dahsyat seperti 2010. “Warga datang dib alai desa tiap menjelang malam. Esok paginya mereka kembali ke rumah masing-masing untuk bekerja,” ungkapnya.

Sementara itu, selama sehari Rabu (23/5) Gunung Merapi terpantau dua kali mengalami letusan freatik. Yakni pukul 03.31 dan 13.49. Kendati demikian BPPTKG DIJ menetapkan status Merapi tetap pada level 2 atau waspada. Kasi Gunung Merapi Agus Budi Santoso mengatakan, letusan freatik pertama berdurasi empat menit dengan amplitudo maksimum 55 mm. Tinggi kolom terpantau mencapai dua ribu meter mengarah ke barat. Sedangkan letusan kedua menunjukkan amplitude maksimum 70 mm berdurasi dua menit. Ketika itu tinggi kolom tak terpantau karena kamera pengawas tertutup kabut. “Suara gemuruh terdengar dari Pos Pengamatan Gunung Merapi Babadan,” jelasnya tadi malam.

Erupsi freatik berdampak wilayah Glagharjo, Cangkringan, Sleman dan Srumbung, Magelang terlanda hujan abu tipis.

Untuk data kegempaan dalam rentang waktu pukul 00.00-18.00 tercatat satu kali vulkanotektonik, dua kali tektonik dan tiga kali multiphase (MP). Menurut Agus, hal itu menunjukkan aktivitas di perut Merapi masih tinggi.

Begitupula dengan gempa vulkanotektonik. Terjadi akibat adanya bongkahan batu yang patah di dalam perut gunung berapi. Fenomena ala mini bisa disebabkan tekanan magma atau gas. “Bukan berarti magma sudah sampai di permukaan,” jelasnya.

Agus menegaskan, terjadinya gempa vulkanotektonik belum bisa dikatakan sebagai pertanda akan terjadinya erupsi magmatik. Terlebih terjadinya gempa vulkanotektonik saat ini masih sangat jarang. “Saat erupsi 2010 gempa vulkanotektonik bisa puluhan kali sehari,” lanjut Agus.

Dikatakan, kejadian freatik tergolong tidak berbahaya. Proses evakuasi warga penghuni lereng Merapi juga belum diperlukan. Masyarakat lereng Merapi tetap boleh beraktivitas, dengan catatan di luar radius tiga kilometer dari puncak. Juga mengenakan alat pelindung tubuh seperti masker dan kaca mata ketika beraktivitas di luar ruangan. Ini demi mencegah dampak abu vulkanik terhadap kesehatan tubuh.

Terpisah, Pejabat Fungsional Penyelidik Bumi, Badan Geologi, Kementerian Sumber Daya Energi dan Mineral Subandrio menyatakan belum menemukan bukti kuat yang bisa menjadi dasar sebagai pemicu letusan magmatik. “Barangkali baru menuju magmatis,” katanya. (pra/cr4/yog/mg1)