SEKELOMPOK kera ekor panjang mulai sering menampakkan diri di permukiman warga Kaliurang, Pakem. Tak jarang kehadiran primata penghuni Gunung Merapi itu dirasa cukup meresahkan. Apalagi sejak Balai Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM) menutup objek-objek wisata lereng Merapi mulai Selasa (22/5). Gerombolan kera ekor panjang yang turun di kawasan Kaliurang menjarah warung-warung yang ada di kompleks Tlogo Putri.

Kasubbag Tata Usaha Balai TNGM Akhmadi menyatakan, turunnya kera ekor panjang tak selalu menjadi pertanda Merapi bakal segera erupsi. Dia menduga, perilaku alamiah hewan liar itu lebih disebabkan karena minimnya persediaan pangan di hutan. Apalagi kera-kera di kawasan wisata Kaliurang kerap berinteraksi dengan pengunjung dan warga setempat. Menurutnya, perilaku kera ekor panjang tersebut bersifat temporer. Usai turun gunung, mereka tetap bakal kembali ke habitat di hutan Merapi. “Beda dengan lutung hitam. Jika primata ini turun gunung bisa menjadi salah satu indikasi Merapi bakal erupsi,” jelasnya Kamis (24/5).

Akhmadi mencontohkan ketika Merapi mengalami erupsi 2010. Lutung hitam terpantau bermigrasi sebelum terjadi letusan. Demikian pula hewan mamalia lain seperti rusa dan kancil. Namun, sejauh ini pergerakan migrasi lutung hitam maupun rusa belum terdeteksi.

“Lutung hitam sangat menjauhi pemukiman warga. Tapi kalau mereka sampai migrasi hingga ke kebun warga ada kemungkinan erupsi bakal terjadi dalam waktu dekat,” jelasnya.

Pada bagian lain, kondisi terkini Merapi cukup dikhawatirkan dunia penerbangan komersial.

Dirjen Perhubungan Udara Agus Santoso mengingatkan seluruh perusahaan penerbangan sipil terus memantau perkembangan Merapi dari BPPTKG DIJ. sejauh ini memang tidak ada rute penerbangan yang terdampak abu vulkanik erupsi freatik Merapi. Rute utama maupun alternatif tetap beroperasi normal. Demikian pula operasional Bandara Adisutjipto. Kendati demikian, Agus menginstruksikan seluruh stakeholder penerbangan untuk meningkatkan kewaspadaan.

Agus mewanti-wanti pengelola bandara, maskapai, dan AirNav Indonesia terus memantau perkembangan faktual erupsi Merapi. “Pertimbangannya, kolom abu vulkanik tergolong tinggi,” ungkapnya.

Menindaklanjuti instruksi tersebut, Communication and Legal Section Head Bandara Adisutjipto Jogjakarta Liza Anindya menyiapkan langkah awal dengan melakukan paper test untuk aerodrome observation secara periodik. Upaya ini untuk memastikan kandungan abu vulkanik di wilayah terbang pesawat.

Seandainya Bandara Adisutjipto ditutup lantaran terdampak hujan abu, Liza mengaku telah menyiapkan kendaraan darat untuk mengalihkan penerbangan para penumpang ke Bandara Adi Soemarmo, Surakarta. Atau dialihkan ke moda transportasi lainnya. “Penutupan bandara menjadi kewenangan Direktorat Navigasi Penerbangan Kementerian Perhubungan,” jelasnya.

Selain itu guna mengantisipasi penumpukan calon penumpang pesawat, disediakan ruang tunggu penerbangan internasional. Hanya, waktunya diatur sehingga tidak bersamaan dengan jadwal penerbangan internasional. (dwi/yog/mg1)