WAJAH Heri tampak lesu dan letih karena kurang tidur ketikaRadar Jogjabertandang di rumahnya, Desa Kepuharjo, Cangkringan, Sleman Kamis (24/5). Rumah Heri hanya berjarak sekitar 10 kilometer dari puncak Merapi. Saat Merapi meletus dahsyat delapan tahun lalu Heri ikut mengungsi bersama warga lainnya.

Sebagian wilayah Kepuharjo memang masuk kawasan rawan bencana (KRB) 3 Merapi yang tak boleh dihuni warga. Bahkan, sejak dilanda erupsi 2010 kondisi infrastruktur seperti jalan dan jembatan di wilayahnya tak mendapat perhatian pemerintah. Ya, itu lantaran KRB 3 memang sudah seharusnya tidak digunakan sebagai tempat hunian.

Namun, Heri tak mau tinggal diam. Memanfaatkan dana yang dikelola pemerintah desa, pelan tapi pasti, jalan dan jembatan direkonstruksi. Dikerjakan secara swadaya. Jalan tanah ditutup aspal halus. Bisa dibilang, tak ada jalur evakuasi di Kepuharjo yang kondisinya rusak. Semua mulus. Heri juga menginisiasi penanaman kebun kopi di wilayah terdampak erupsi 2010 yang tak lagi berpenghuni. Sebagian besar warganya kini menghuni beberapa hunian tetap (huntap) yang dibangun dengan dana pemerintah pusat. Bagi Heri, asap dapur warganya harus terus mengepul. Meski menghuni huntap, warga tetap bisa bertani dan beternak. Memanfaatkan lahan di kampung halaman yang tak lagi boleh dihuni. “Nggih pripun carane lahan niku tetep saget produktif (bagaimana caranya lahan itu tetap bisa produktif, Red),” tuturnya.

Kini Merapi berstatus level 2 alias waspada. Heri tak melarang warganya beraktivitas seperti hari biasa. Namun, dia tak pernah lupa mewanti-wanti warga untuk tetap mematuhi instruksi pemerintah. “Jangan sampai ada yang beraktivitas dalam radius tiga kilometer dari puncak,” tegas pria yang pernah bekerja di penambangan pasir Merapi itu.

Erupsi 2010 menjadi pengalaman berharga bagi Heri. Tak sedikit warganya menjadi korban keganasan Merapi. Karena itu, dia selalu menekankan kepada warga pentingnya ilmu mitigasi bencana. Salah satu upayanya dengan menggerakkan peran pemuda di setiap dusun untuk menggiatkan kegiatan siskamling. Kegiatan ini bukan sekadar menjaga keamanan wilayah, tapi sebagai antisipasi perkembangan Merapi.

“Para pemuda berjaga giliran di satu tempat agar bisa cepat bergerak jika terjadi apa-apa,” ungkapnya.

Heri selalu memberi arahan kepada warganya mengenai langkah apa yang harus dilakukan saat Merapi mengalami erupsi. Lokasi mana yang harus dituju. Titik kumpul, serta jalur evakuasi paling efektif dilalui. Semua telah dipetakannya. Agar saat terjadi keadaan darurat seluruh warga bisa bergerak cepat menyelamatkan diri. Pun demikian perlakuan terhadap lansia, ibu hamil, dan balita. Mereka menjadi objek utama yang harus diselamatkan. “Edukasi bagi masyarakat memang tidak mudah. Tapi ini penting, harus disiapkan jauh-jauh hari segala sesuatunya,” ucap Heri yang jabatannya berakhir pada 2019.

Tak kalah penting, Heri juga telah mendata jumlah warga, kendaraan, dan hewan ternak. Semuanya detail.

Heri juga memanfaatkan perkembangan teknologi sebagai sarana mitigasi bencana. Menggunakan smartphone, Heri menginisiasi grup WhatsApp yang beranggotakan seluruh kepala dusun di Kepuharjo. Selain untuk mempermudah komunikasi, grup tersebut sebagai sumber informasi, sekaligus penangkal hoax yang berpotensi meresahkan masyarakat.

Meski teknologi kian modern, Heri tetap mengedepankan kearifan lokal dalam menyikapi aktivitas Merapi.

Dia melanjutkan, warga yang sudah hidup lama berdampingan dengan Merapi sebenarnya sudah mengetahui tanda-tanda jika Merapi akan meletus. “Jika ada titik api diam di puncak berarti Merapi akan meletus,” ungkapnya. Menurutnya, tanda alam itu telah menjadi kearifan lokal yang dipegang teguh dan dipercaya warga lereng Merapi secara turun-temurun. (yog/mg1)