Gundah, Bung Karno Kirim Utusan ke Tebu Ireng

Pertempuran 10 Nopember 1945 antara arek arek Suroboyo melawan sekutu sangat heroik. Selain dibakar pidato Bung Tomo yang berapi api. Juga terkait erat keluarnya resolusi jihad dalam rapat konsul para ketua Hoofdbestuur Nahdlatoel Oelama (HB NO) se Djawa dan Madura pada 22 Oktober 1945 dipimpin Rais Akbar PB NU atau HB NO Hadratus Syaikh KH Hasyim Asy’ari di Kantor HOOFDBESTUUR NAHDATOEL OELAMA (HB NO ) Jalan Bubutan VI No 2 Surabaya.

————-

SELASA pagi (1/5/2018) kantor PC NU Surabaya di Jalan Bubutan VI no 2 yang b erada di ujung gang tampak sepi. Maklum pas tanggal merah atau hari libur. Hanya dua orang meriung di teras depan kantor. Salah satunya Yanto, arek Suroboyo penjaga kantor itu.

Begitu memasuki bangunan berasitektur klasik, khas masa pendudukan Belanda itu terasa teduh. Itu karena langit bangunan atau plafonnya amat tinggi. Lebih dari tujuh meter hingga terkesan lapang.

Terasnya yang jembar hanya diberi pagar pendek. Sekitar satu meter. Ada dua tiang utama terbuat dari kayu jati pilihan sebagai penyanggah atap teras. Ciri khas lainnya di kayu resplang dihiasi ornamen ukiran lancip ke bawah sebagai ciri khas rumah-rumah di perkampungan lawas Surabaya.

Pintu utama berbentuk kuku tarung ukurannya cukup tinggi. Begitu juga jendela dibuat lebih lebar, tinggi. Tengahnya diberi jeruji besi.Hingga udara leluasa masuk ke ruangan. Desain itu cocok untuk wilayah tropis seperti Surabaya yang cuacanya panas.

Ada tulisan mencolok, besar-besar HOOFDBESTUUR atau kantor pusat di atas teras kantor. Sebelum pindah Jalan Kramat Raya ke Jakarta, Jakarta Pusat, kantor PB NU Pusat menempati gedung bersejarah Jalan Bubutan VI no 2 yang kini dipakai kantor PC NU Surabaya. Atau, dinamai HOOFDBESTUUR NAHDATOEL OELAMA (HBNO).

Kini, pengurus PC NU Surabaya kembali mempopulerkan nama HOOFDBESTUUR sebagai pengingat sejarah bagi masyarakat, khususnya warga nahdliyyin. Bahwa di Gedung NU Bubutan telah lahir keputusan penting Resolusi Jihad yang ikut menentukan jalannya sejarah Bangsa Indonesia.

Begitu pentingnya Resolusi Jihad bagi warga nahdliyyin dan Bangsa Indonesia yang baru beberapa bulan merdeka, makanya di halaman depan sebelah kanan Gedung NU Bubutan didirikan Monumen Resolusi Jihad .

Lebih amsuk ke Gedung NU Bubutan, ruang tamu disekat menjadi kantor staf PC NU. Sebelah kanan dipajang beragam gambar da foto lawas menceritakan perjalanan HB NO. Ada foto peserta rapat konsul para ketua Nahdatoel Oelama (NO) se Djawa dan Madura, 22 Oktober 1945 yang menghasilkan resolusi jihad.

Ada lambang dan panji NU yang diciptakan KH Ridlwan Abdullah tahun 1926. Ada foto besar Rais Akbar PBNU atau HBNO (Hoofd Bestuur Nahdlatoel Oelama) Hadratus Syaikh KH Hasyim Asy’ari sebagai Penggagas Resolusi Jihad. Juga Fatwa Jihad tulisan tangan Hadratus Syaikh KH Hasyim Asy’ari

Memasuki ruang tengah kian adem. Selain ruangan cukup luas berukuran sekitar 8 x 20 meter. Atap plafon juga tinggi. Sekitar tujuh meter. Di ruang ini ada meja oval panjang yang biasa dipakai rapat, menerima tamu penting. Termasuk rapat sangat penting konsul Nahdatoel Oelama (NO) se Djawa dan Madura pada 22 Oktober 1945 silam menghasilkan Resolusi Jihad.

Putusan itu sangat penting bagi arek arek Suroboyo dan para pejuang Surabaya sekitarnya karena menambah semangat, mempertebal keyakinan jihad fi sabilillah melawan sekutu. Apalagi momentumnya pas, Resolusi Jihad keluar berselang 18 hari sebelum pecah pertempuran hebat 10 Nopember 1945.

Penulis bisa membayangkan bagaimana serius, dan tegangnya peserta rapat yang dipimpin Rais Akbar PB NU Hadratus Syaikh KH Hasyim Asy’ari yang tak lain kakek Gus Dur itu. Sebab, materi rapat amat berat menyangkut kelangsungan hidup Negara Indonesia yang baru berumur beberapa bulan.

Karena itu Hadratus Syaikh KH Hasyim Asy’ari minta para kiai khos atau utama NU melakukan salat istiqoroh, minta petunjuk Illahi. Alhamdulillah, akhirnya Allah memberi kelancaran rapat konsul yang menghasilkan Resolosi Jihad tadi.

Di dinding bagian kiri terpacak semacam diaroma perjalanan NU dari Mukmatar ke mutamar lengkap dengan gambar sang ketua dan pengurusnya. Muktamar 1 Tahun 1926 di Surabaya terpilih sebagai Rais Akbar Hadratus Syaikh KH Hasyim Asy’ari dengan Ketua Tanfidziah H Hasan Gipo. Duet ini terpilih kembali dalam Muktamar II dan III.

Mukmatar NU 1, II dan III berlangsung di Hotel Muslimin di Jalan Makam Peneleh. Jaraknya dari Kantor PB NU Bubutan hanya dipisahkan Kali Mas. Tak lebih 500 meter. Sekarang Hotel Muslimin berubah menjadi Hotel Bali.

Sayang, saat penulis mendatangi Hotel Bali yang berlantai tiga itu tak secuil pun ada jejak peninggalan Muktamar NU pertama sampai ketiga. Apakah berupa foto, gambar atau kegiatan muktamar lainnya. Bahkan tak satu pun karyawan Hotel Bali tahu kalau hotel tempat mereka bekerja pernah dipakai menjadi tempat Muktamar NU pertama sampai ketiga. “Saya baru bekerja 20 tahun. Jadi tidak tahu soal Muktamar itu,” aku seorang karyawan Hotel Bali yang rambutnya sudah memutih.

Kembali ke diaroma ruangan rapat. Ada juga gambar Bung Karno saat meninjau Muktamar NU ke 33 di Solo tahun 1962. Juga gambar Gus Dur sampai Ketua Umum PB NU saat ini KH Said Aqil Siradj. Tembok sebelah kanan terpampamng aneka kegiatan pengurus PC NU Surabaya.

LIhat lah ke bawah. Ya, tegel atau lantai bangunan yang masuk cagar budaya itu tetap dipertahankan model lawas. Tegel kecil berukuran 20 x 20 centimeter yang didominasi warna kuning dan hijau meski warnanya sudah memudar tampak bersih. Ditambah Gedung HB NO Bubutan didominasi warna krem dan hijau tua hingga suasananya tampak teduh. “Di luar panas kalau sampeyan masuk ruangan meski tanpa AC dan kipas angin pun tetap sejuk. Tetap semilir,” ujar penjaga gedung lainnya.

Itu lah gambaran gedung lawas sarat sejarah yang pernah melahirkan Resolusi Jihad pada 22 Oktober 1945. Tujuannya, mempertahankan Kemerdekaan Indonesia yang hendak direbut penjajah Belanda lewat tangan NICA yang membonceng sekutu.

Atas jasa dan peran warga NU mempertahankan Kemerdekaan Indonesia lewat Resolusi Jihad, maka pemerintah menetapkan 22 Februari sebagai Hari Santri.

Seiring perkembangan organisasi NU, Kantor Pusat PB NU dipindah ke Jakarta. Sementara kantor HBNO Jalan Bubutan VI no 2 yang dulu pernah dijadikan kantor pusat PB NU kini jadi kantor PC NU Kota Surabaya.

Di belakang gedung lama kini ada bangunan baru tingkat tiga. Selain ada sekolah, juga kantor kantor badan otonom (banon) di bawah PC NU Surabaya. Ada kantor Gerakan Pemuda Ansor, Fatayat NU, Pagar Nusa, Ishara , IPNU dan IPPNU dan lainnya. “Yang di belakang gedung baru. Baru direnovasi tahun 2000. Dulunya ini gang,” kata Ketua Lesbumi (Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia) PC NU Surabaya M Hasyim Asyari kepada penulis Jumat (4/5/2018) . Nama Hasyim mirip mirip pendiri NU Hadratus Syaikh KH Hasyim Asy’ari. Mungkin bapak Hasyim mengidolakan tokoh pendiri NU itu.

Tahun 2010 bangunan sebelah timur yang berdempetan kantor PCNU yang menghadap Jalan Pahlawan dibeli. Gedung dibangun tingkat. Bagian bawah dijadikan tempat parkir. Semua pembangunan tidak menganggu apalagi merubah gedung lama HB NO yang masuk cagar budaya.

Soal penyebutan Hoofdbestuur yang kembali dipopulerkan pengurus PC NU Surabaya kata Hasyim, karena faktor kesejarahan. Dulu, Gedung Bubutan VI No 2 pernah dijadikan kantor Pusat PB NU disebut Hoofdbestuur atau lengkapnya Hoofdbestuur Nahdatoel Oelama / HBNO). Tujuan penyebutan nama asli Hoofdbestuur untuk mengingatkan kembali memori masyarakat. Sekaligus pelajaran sejarah bagi generasi muda bahwa Gedung NU Bubutan pernah menjadi kantor Pusat PB NU. “Ditambah gedung ini masuk cagar budaya kelas A,” jelas Hasyim.

Hanya ada tiga gedung di Surabaya yang mendapat penghargaan nama Belanda. Gedung NU di Jalan Bubutan VI No 2 dengan sebutan Hoofdbestuur Nahdatoel Oelama / HBNO). Kedua, Hoofdbureau untuk Gedung tua yang kini ditempati markas Powiltabes Surabaya. Lengkapnya Hoofdbureau Van Politie De Soerabaia). ” Satu gedung lagi mendapat penghargaan nama Belanda yang kini ditempati Bank Mandiri. Lokasinya tak jauh dari kota tua. Saya lupa penyebutanya,” tambah Hasyim.

Kantor PB NU Berpindah Pindah

Dalam sejarahnya kantor Pusat PB NU sempat berpindah pindah karena masa perang, pemberontakan dan situasi darurat lainnya.

NU lahir di kota Surabaya, 31 Januari 1926. Tepatnya, di rumah KH Ridlwan Abdullah di Jalan Bubutan VI No 20. Sedangkan kantor pusat PBNU yang pertama di Jalan Sasak No 23 (ada yang menyebut no 66, sesuai alamat Majalah Berita Nahdlatoel Oelama) Surabaya. Di lokasi bangunan yang berdekatan dengan Masjid Ampel inilah, kantor pusat pertama PBNU berdiri, yang kala itu masih disebut HBNO (Hoofd Bestuur Nahdlatoel Oelama).

Sementara gedung bersejarah di jalan Bubutan VI Nomor 2 Surabaya, tempat rapat konsul para ketua Hoofdbestuur Nahdlatoel Oelama se Djawa-Madura yang melahirkan Resolusi Jihad 1945 juga pernah menjadi kantor pusat PB NU sebelumnya akhirnya pindah ke Jakarta.

Tapi, ada juga yang menyebut bahwa Gedung NU di Bubutan VI Nomor 2 Surabaya juga pernah menjadi kantor Gerakan Pemuda Ansor atau dulu dikenal Anshor Nahdlatoel Oelama (ANO) .

“Sepengetahuan saya kantor ini (Bubutan) Ansor hanya mengadakan Kongres sekitar tahun 1936. Tapi, kalau ini jadi kantor pusat Ansor kok belum dengar ya.. Yang pasti Gedung Bubutan ini pernah jadi kantor PB NU Pusat atau Hoofdbestuur Nahdlatoel Oelama,” tambah Hasyim.

Sementara saat pertempuran 10 Nopember 1945 berkecamuk memaksa para pimpinan NU memindahkan kantornya ke daerah lain agar lebih aman. Saat itu, KH Muhammad Dahlan dari Konsul NU Jawa Timur, diperintahkan memindahkan kantor pusat NU ke Jalan Pengadangan 3, Kabupaten Pasuruan. Selain lokasinya dekat Surabaya, banyak pesantren dan tokoh NU di Pasuruan.

Untuk kali kedua, kantor pusat NU hijrah dari Pasuruan ke Madiun karena ada agresi Belanda I tahun 1947. Yakni, di Jalan Dr Sutomo 9 Madiun.

Tahun 1950, kantor pusat NU berpindah ke Jakarta. Selain faktor ibu kota, menurut KH Saifuddin Zuhri, hal ini juga dikarenakan banyaknya tokoh-tokoh PBNU berjuang (menjadi menteri dan lain sebagainya) di Jakarta.

Di Jakarta, Kantor PBNU terletak di Jalan Menteng Raya 24, kira-kira 300 m sebelah Timur Stasiun Gambir. Setelah beberapa tahun, akhirnya pindah ke Jalan Kramat Raya Nomor 164, hingga sekarang.