JOGJA – Dinas Pertanian dan Pangan (DPP) Kota Jogja meyakinkan jika produk olahan bakso yang dijual di Kota Jogja aman dari kandungan bahan berbahaya maupun campuran babi. Pada April lalu sudah ditangkap dan disidang tipiring dua penjual bakso yang terbukti mencampur daging sapi dengan daging babi.

“Di masjid masih sering didengar ada yang mengatakan 2/3 bakso di Jogja mengandung babi. Kami pastikan sudah tidak ada lagi,” tegas Kepala Seksi Pengawasan Mutu Komoditas Kehewanan dan Perikanan DPP Kota Jogja drh Supriyanto Rabu (23/5).

Hal itu merujuk pada sensus yang dilakukan DPP Kota Jogja pada 300 penjual bakso di Kota Jogja pada 2017. Diketahui terdapat dua penjual bakso yang mencampur dagangannya dengan daging babi.

Tapi untuk saat ini, lanjut dia, sudah tidak ada lagi penjual bakso di Kota Jogja yang mencampur daging sapi dengan daging babi. Hal itu juga sesuai dengan hasil rapid test maupun pengecekan di labolatorium.

Untuk dua penjual yang sebelumnya diketahui mencampur daging sapi dengan babi, satu penjual bakso dorong dan satu lagi mangkal. Hasil tes juga dipastikan negatif. “Aman. Jadi jangan takut untuk mengonsumsi bakso,” kata Supriyanto.

Untuk dua penjual bakso yang tertangkap mencampur daging sapi dengan babi pada April lalu, Supriyanto mengatakan penjual tersebut berjualan di luar Kota Jogja. Tapi dari pengintaian tim DPP Kota Jogja, diketahui penjual tersebut membeli daging sapi dan babi kemudian digiling di penggilingan di Kota Jogja.

Tempat penggilingan di salah satu pasar di Kota Jogja itu juga sudah ditindak tipiring (tindak pidana ringan) karena melanggar Perda 21/2009 tentang pemotongan dan peredaran daging.

“Izinnya penggilingan sapi. Tapi karena tercampur babi, harus dihentikan. Tidak boleh nggiling lagi,” kata Supriyanto.

Diakuinya, secara fisik sulit membedakan bakso sapi yang dicampur dengan babi. Untuk pembuktian pun biasanya paling mudah diketahui setelah dilakukan hasil uji identifikasi babi dengan pork detection kit atau Xema Test.

Kepada masyarakat Supriyanto berpesan supaya jajan bakso hanya di tempat yang sudah ditempeli stiker bebas daging babi dan formalin di gerobak dagangannya. “Saat membeli juga tidak ada salahnya bertanya ke penjualnya,” ujar Supriyanto.

Pada awal Ramadan ini, DPP Kota Jogja juga mencatat adanya kenaikan permintaan daging sapi di Kota Jogja. Dari rata-rata lima ton per hari, saat ini menjadi sekitar enam ton.

Dari jumlah tersebut hanya dua ton yang berasal dari Rumah Pemotongan Hewan (RPH) Giwangan. Sudah dilengkapi surat herkeuring, sedang lainnya dari luar daerah.

Bagi masyarakat, Supriyanto berpesan untuk membeli daging hanya di kios atau depot yang memiliki surat halal. Hingga saat ini juga belum ditemukan daging glonggong.

“Kalau tidak bisa menunjukkan surat dan dicurigai, bisa laporkan ke kami,” ungkap Supriyanto.

Wali Kota Jogja Haryadi Suyuti menyatakan komitmen Pemkot Jogja menjamin semua daging yang beredar di Kota Jogja dalam keadaan ASUH. Artinya aman, sehat, utuh dan halal.

Meski masyarakat juga ikut diminta waspada dalam membeli daging, salah satunya dengan tidak tergiur daging yang dijual murah. “Paling tidak dengan tetap mengecek warna dan bau daging, jangan hanya terpatok pada harga,” pesan Haryadi. (pra/iwa/mg1)