(GRAFIS: HERPRI KARTUN/RADAR JOGJA)

MENYIKAPI kondisi terkini Merapi Balai TNGM resmi menutup objek-objek wisata yang berada di kawasan lereng gunung paling aktif di Indonesia itu. Penutupan objek wisata berlaku sejak Selasa (22/5) sampai batas waktu yang belum ditentukan. Hal ini merujuk Surat Edaran Nomor: SE.04/BTNGM/TU/Ren/05/2018 yang diteken Kepala Balai TNGM Ammy Nurwati.

Adapun objek wisata yang ditutup, antara lain: Tlogo Muncar dan Tlogo Nirmolo di Kaliurang, Pakem, Sleman; Panguk dan Plunyon (Kalikuning, Cangkringan, Sleman); Deles (Kemalang, Klaten); Jurang Jero (Srumbung, Magelang); serta pendakian Gunung Merapi dari Sapuangin maupun Selo (Boyolali).

Koordinator Data dan Informasi Balai TNGM Susilo Ari Wibowo menuturkan, penutupan objek wisata lereng Merapi dengan pertimbangan adanya peningkatan status dari normal ke waspada. Juga masih seringnya terjadi erupsi freatik. “Ini sebagai upaya preventif demi keselamatan dan kenyamanan wisatawan,” ujarnya Rabu (23/5).

Terbitnya surat edaran TNGM membuat kawasan wisata Kaliurang tampak seperti kota mati. Gerbang menuju Tlogo Muncar ditutup. Seluruh warung makan maupun toko kelontong tak beroperasi. Jip wisata yang biasa berlalu-lalang di taman wisata Tlogo Putri pun tak tampak.

“Waswas juga kalau tetap berjualan karena masih erupsi, bahkan hujan abu,” ungkap Samiyani,60, salah seorang pedagang jadah tempe Kaliurang.

Menurut Samiyani, tak kurang 50 pedagang biasa mengais rezeki di kawasan itu. Mereka pilih libur. Karena selain ada surat edaran TNGM, pengunjung pun nihil. Meski hasil jualannya tak menentu, ditutupnya kawasan Kaliurang cukup berdampak pada kondisi perekonomian Samiyani. Setidaknya pada hari normal dia bisa mengantongi uang hingga Rp 300 ribu. Walaupun kadang hanya mendapat Rp 5 ribu dalam sehari, warung tutup berarti tanpa penghasilan.

Ibu empat anak itu paham betul suasana erupsi Merapi. Bahkan erupsi dahsyat pada 1994 dan 2010 masih menyisakan trauma baginya.

“Kalau dengar suara menggelegar bikin panik dan kaget. Saya kira itu suara dari Merapi,” ungkap nenek delapan cucu itu.

Selama 25 tahun berjualan jadah tempe di Kaliurang membuat Samiyani cukup paham situasi Merapi. Termasuk kapan dia harus mengungsi saat gunung itu bergejolak. Setiap ada peringatan bahaya erupsi, Samiyani telah siap dengan sebuah tas yang berisi pakaian. Sedangkan surat-surat penting dititipkan di rumah anaknya.

Menurutnya, hal itu diterapkan oleh seluruh warga Dusun Kaliurang Timur sebagai bentuk kesiapsiagaan menghadapi bencana Merapi. (dwi/yog/mg1)