DUNIA kerja tak selalu butuh sarjana atau peraih gelar lain yang lebih tinggi stratanya. Tak jarang, keahlian dan keterampilan yang dikuasai seseorang justru lebih berarti dibanding selembar ijazah perguruan tinggi. Bahkan tak sedikit orang berpenghasilan besar yang tak memiliki latar belakang pendidikan tinggi.

Itulah yang mendorong Rulli mendirikan Pondok TI di tengah persaingan global yang kian masif. “Dunia IT sebenarnya hanya butuh satu bahasa pemrograman. Namun, mencari programmer muda yang fasih di bidangnya bukan hal mudah,” ungkapnya kepada Radar Jogja belum lama ini.

Semua itu bermula pada 2013. Saat itulah gagasan mendirikan pondok programer muncul dari benak Rulli. Dia ingin menampung anak-anak muda yang berminat mengasah ilmu IT. Rulli berpandangan, setiap orang harus bekerja sesuai passion masing-masing. Tanpa passion yang cocok, seseorang tentu tidak akan menikmati pekerjaannya. Namun, passion tak bisa tercapai tanpa didukung karakter yang baik. Karena itu, selain diajari bahasa pemrograman, karakter santri Pondok IT dibentuk dengan nilai-nilai islami.

“Mengajarkan skill itu lebih mudah daripada membentuk karakter,” ucap alumnus Universitas Gadjah Mada ini.

Ada empat divisi pembelajaran di Pondok IT. Yakni, pemrograman, multimedia, imers, dan cyber. Sebagian besar santri di Pondok IT memang tidak punya background pendidikan pesantren. Melalui penanaman akidah dan ibadah yang benar di Pondok IT, Rulli merasa, karakter para santri bisa diperbaiki sedikit demi sedikit.

Satu hal yang ditekankan Rulli, para santri tak boleh lupa waktu. Seperti umumnya anak-anak muda kalau sudah berselancar di dunia maya menggunakan laptop atau komputer. Di Pondok IT mereka tak boleh lupa waktu. Ini menjadi bagian pendidikan karakter santri.

Kepala Human Resource and Development (HRD) Pondok IT Muhammad Arifuddin menambahkan, proses pendidikan di lembaganya bersifat individual. Artinya, santri boleh memilih fokus ke bahasa pemrograman sesuai yang diinginkan. Tentunya setelah melewati serangkaian pembelajaran dasar pemrograman. “Di awal diperkuat dulu dasar-dasarnya. Supaya di kemudian hari para santri tak menemui kesulitan,” jelasnya.

Untuk mempercepat penyerapan ilmu, tahap belajar santri dibagi dua fase dengan konsep berbagi. Fase pertama belajar dan berbagi. Tahap ini butuh waktu enam bulan hingga satu tahun. Sisanya berkarya dan berbagi. “Jadi kakak kelas juga ikut andil dalam perkembangan pembelajaran adik-adiknya,” tutur Arifuddin.

Lantas bagaimana seseorang bisa menjadi santri di Pondok IT? Untuk yang satu ini memang tidak mudah. Calon santri harus mampu melewati serangkaian seleksi. Arifuddin memastikan, santri yang tak serius tidak akan mau mengisi formulir pendaftaran. Setelah terdaftar, tiap santri wajib mengikuti seleksi akun media sosial. Pada tahap ini akan tersaring lagi calon santri yang benar-benar ingin menimba ilmu di Pondok Santri, atau yang sekadar asal ikut-ikutan.

Adapun seleksi terakhir adalah talents mapping. “Kami memang mencari santri yang betul-betul ingin belajar. Makanya kami benar-benar selektif,” tegasnya. (yog/mg1)