GUNUNGKIDUL – Warga Desa Hargosari, Kecamatan Tanjungsari kecewa dengan pelayanan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Handayani. Gara-garanya, setiap bulan membayar tagihan rekening namun airnya sering tidak keluar. Yang keluar dari keran malah angin.

Kades Hargosari, Kecamatan Tanjungsari Mugito mengatakan tersendatnya distribusi air di wilayahnya sudah berlangsung lama. Dalam satu kesempatan ketika musim penghujan lancar, namun cukup sering bermasalah terutama memasuki kemarau. Tentu, pelanggan PDAM merasa tidak nyaman dengan keadaan tersebut.

“Hari ini (Kamis) kami menggelar pertemuan dengan pihak PDAM. Pelanggan tanya langsung kepada PDAM mengenai permasalahan distribusi air,” kata Mugito Kamis (24/5).

Salah satu pernyataan pelanggan yang menarik dalam pertemuan tersebut adalah mengenai beban tarif PDAM terus berjalan sekalipun air tersendat. Jika musim penghujan, air dari langit cukup mengurangi aktifitas warga memutar keran.

“Sekarang memasuki musim kemarau, keran air dibuka, meteran berputar namun yang keluar hanya angin,” ujarnya.

Pihaknya menyadari, PDAM memang tidak bisa lepas dari beban biaya operasional. Itu artinya, mau tidak mau ending-nya pelanggan ikut menanggung beban.

Jika tanggung jawab hanya ditanggung salah satu pihak tentu sangat memberatkan. “Tapi dalam pertemuan PDAM berjanji mengatasi kendala distribusi air ini,” terangnya.

Pihak PDAM meminta waktu lima sampai 10 hari kepada warga Hargosari untuk proses penyambungan saluran pipa baru. Dijanjikan, dengan adanya perubahan sumber air di lokasi berbeda dapat mengatasi masalah.

“Warga kami ada 1.700 kepala keluarga (KK), dan mengandalkan air dari PDAM. Setiap bulan rata-rata keluar uang Rp 47.500,” ungkapnya.

Direktur PDAM Tirta Handayani Gunungkidul Isnawan membenarkan adanya pertemuan dengan warga Desa Hargosari. Kata Isnawan, khusus untuk wilayah terebut akan diuji coba sambungan baru.

“(Sumber air) dari Wilayu 1 ini sedang diuji coba ke Wilayu 2, wilayah Kecamatan Tepus,” kata Isnawan.

Menurut dia, persoalan distribusi air cukup kompleks. Mulai dari pengaruh letak geografis notabene membutuhkan bentang pipa lebih panjang. Kemudian umur pipa memicu kebocoran di sejumlah titik di Gunungkidul.

“Belum lagi dengan kerusakan mesin pompa yang terbakar karena daya listrik tidak stabil,” ungkapnya. (gun/iwa/mg1)