Setelah tahun lalu berhasil dibangun di empat lokasi, tahun ini pembangunan telagadesa bakal dilanjutkan Badan Lingkungan Hidup (BLH) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Ada lima desa yang menjadi sasaran pembangunan telagadesa tersebut. Kelima lokasi tersebut meliputi Desa Baturetno, Banguntapan, Bantul, Desa Pokoh, Dlingo, Bantul, Desa Sukoharjo, Ngaglik, Sleman, Desa Sidomoyo, Godean, Sleman dan Desa Triharjo, Sleman, Sleman.

“INISIASI pembangunan telagadesa itu sebagai usaha meningkatkan kualitas konservasi lingkungan,” ungkap Sekretaris BLH DIY Maladi di ruang kerjanya kemarin (23/5).

Selain itu, meningkatkan kelestarian sumberdaya air sebagai pengembangan upaya pengelolaan lingkungan secara luas. Juga mendukung peningkatan cadangan air tanah dan pelestarian sumber sumber air. Kegiatan tersebut, lanjut, Maladi, sebagai inisiasi upaya mendukung pengembangan tata ruang di DIY. “Khususnya ruang terbuka hijau,” terang dia.

Lebih jauh dikatakan, inisiasi pembangunan telagadesa dimulai 2015. Ada dua lokasi yang menjadi perintis pembangunan telagadesa. Yakni Desa Ngestiharjo, Kasihan, Bantul dan Desa Selomartani, Kalasan, Sleman.

Untuk Telagadesa Ngestiharjo dibangun di tanah kas desa seluas 2,7 hektare dengan anggaran Rp 1.436.428.000. Lalu Telagadesa Selomartani dengan luas 0,4 hektare dengan biaya Rp 647.263.000.

Dua tahun berikutnya pada 2017 dilanjutkan di Desa Panggungharjo, Sewon, Bantul. Luas telagadesa yang dibangun mencapai 9.000 meter persegi dengan anggaran Rp 1.600.072.000.

Berikutnya masih pada tahun yang sama, BLH DIY berhasil membangun telagadesa di Desa Potorono, Banguntapan, Bantul. Luasnya 4.277 meter persegi dengan biaya Rp 2.105.157.000.

“Pembangunan telagadesa di Potorono dilanjutkan tahun ini untuk revitalisasi akses jalan menuju lokasi,” jelas Maladi.

Pembangunan tahap berikutnya juga dilakukan di Telagadesa Ngestiharjo. Dari empat telagadesa yang dibangun, Telagadesa Ngestiharjo tergolong paling luas. Sebab, luasnya hampir mendekati 3 hektare. Sedangkan tiga telagadesa lainnya rata-rata di bawah 1 hektare.

Maladi menambahkan, dalam kerangka Keistimewaan DIY, makna Hamemayu Hayuning Bawana mengandung makna menjaga bawana atau dunia agar tetap hayu atau indah. Sedangkan rahayu bermakna lestari.

Konsep itu mengandung makna sebagai kewajiban melindungi, memelihara dan membina keselamatan dunia. Di samping itu mengedepankan kepentingan masyarakat daripada kepentingan pribadi atau kelompok. (kus/nn)