JOGJA – Rentetan erupsi Gunung Merapi berdampak pada jalur magma. BPPTKG Jogjakarta mencatat saat ini terjadi deflasi atau proses pengosongan jalur magma. Hal ini terjadi karena keluarnya sejumlah material lama melalui saluran atau cundoid Gunung Merapi.

Kepala BPPTKG Jogjakarta Hanik Humaida mengungkapkan, saat ini jalur magma kosong. Proses ini dapat menjadi indikasi jalan keluar magma. Hanya, jajarannya masih terus mengawasai perkembangan kantong dan juga dapur magma.

“Saat proses ini terjadi sempat terdengar suara gemuruh. Ini adalah lontaran gas yang keluar dari dalam bersama material. Di dalam conduit ini ada gas dan pergerakan material saat erupsi terjadi,” jelasnya Kamis (24/5).

Hanik juga membenarkan adanya lava pijar merah. Ini terdeteksi saat terjadi erupsi Kamis dini hari tepatnya pukul 02.56. Keluarnya pijar merah ini juga menjadi indikasi proses menuju erupsi Magmatik Gunung Merapi.

Pijar merah, lanjutnya, merupakan hasil akumulasi gas dalam magma. Fenomena ini sekaligus menunjukkan ada material magma dari perut Gunung Merapi. Meski begitu, dia belum bisa memastikan momen erupsi magmatik Merapi terjadi.

Terkait besarnya erupsi magmatik dia tidak ingin menduga-duga. Di satu sisi erupsi magmatis kali ini belum tentu sebesar erupsi magmatik 2010. “Saat ini kami sedang mengumpulkan data untuk menentukan indikasi kapan erupsi magmatik. Tapi fenomena ini bisa dibilang proses menuju erupsi magmatik. Kalau waktu erupsi magmatik masih dihitung berdasarkan data, untuk saat ini magma belum terlihat,” katanya. (dwi/ila)