SLEMAN – Gunung Merapi kembali “batuk” pukul 03.31 dini hari tadi (23/5) dengan menyemburkan kolom asap setinggi 2.000 meter.

Frekuensi letusan yang kian sering terjadi membuat 39 warga Dusun Kalitengah Lor, Glagaharjo yang mayoritas lansia, ibu, dan anak memilih untuk turun ke Balai Desa Glagaharjo dan bertahan di sana hingga keadaan kondusif.

Salah satu warga Kalitengah Lor, Wantini menuturkan, sudah dari semalam dia turun dan mengungsi ke Balai Desa Glagaharjo. Dia mengaku masih ada sedikit trauma dan ketakutan jika sewaktu-waktu Merapi meletus.

“Masih trauma yang dulu (erupsi 2010),” kata Wantini ketika ditemui di Balai Desa Glagaharjo pagi tadi.

Sementara itu, Carik Desa Glagaharjo Agralno menuturkan, pihak desa akan selalu berusaha menyiapkan segala seuatunya jika sewaktu-waktu ada warga yang turun mengungsi. “Kami siapkan tempat di balai desa yang dapat menampung seribu lebih warga,” jelasnya.

Lebih lanjut, pihaknya juga akan menambah logistik yang ada karena selama ini baru mi instan, roti, teh, dan sayuran saja yang tersedia.

“Ke depan akan kami usahakan (logistik) tapi kami juga berharap ada upaya dari pemerintah pusat,” harapnya.

Dia menambahkan, hingga saat ini belum ada anjuran untuk mengungsi. Warga hanya tidak boleh masuk dalam jangkauan tiga kilometer dari puncak. Saat ini pun sebagian besar warga Glagaharjo masih beraktivitas normal seperti biasanya.

Meskipun hingga saat ini belum ada anjuran untuk mengungsi, Agralno dan pemerintah Desa Glagaharjo akan terus membuka balai desa 24 jam jika ada warga yang takut dan memilih untuk turun. (cr4/ila)