SLEMAN – Peningkatan status waspada Gunung Merapi disikapi secara bijak oleh warga Tritis dan Turgo Desa Purwobinangun Pakem Sleman. Setidaknya 419 warga mengungsi ke SD Sanjaya Tritis. Evakuasi dadakan ini berdampak pada minimnya persiapan dan logistik.

Warga Turgo Galang Purwojati mengaku sempat mendengar suara gemuruh Selasa dinihari (22/5). Selanjutnya bersama warga lainnya, dia mengungsi ke lapangan di selatan SD Sanjaya Trisik. Saat evakuasi juga sempat terjadi hujan abu vulkanik akibat erupsi freatik pukul 01.47.

“Ada suara seperti gempa lalu evakuasi ke lapangan. Pagi ini (kemarin) kondisi sudah aman, beberapa warga juga sudah pulang ke rumah,” katanya.

Meski begitu Galang tetap mengikuti anjuran tim relawan. Dimana seluruh warga diminta mengungsi pada malam harinya. Sementara siang harinya diperbolehkan beraktivitas secara normal di kediaman masing-masing.

Di satu sisi evakuasi dadakan menjadi catatan tersendiri. Terlihat sejumlah warga masih mengeluhkan minimnya logistik terutama konsumsi. Saat datang di titik evakuasi, warga hanya mendapatkan masker.

Warga lainnya Saminem, 57, mengaku mengungsi bersama suaminya. Saat tiba waktu sahur, beberapa warga tidak mendapatkan konsumsi. Alhasil beberapa warga memilih pulang ke rumah untuk santap sahur.

Perempuan paruh baya ini berharap situasi Merapi kembali normal. Berlakunya evakuasi tentu menjadi pilihan berat baginya. Terlebih sejumlah hewan ternak masih ditinggal di hunian atas.

“Sahur sempat naik untuk makan, lalu turun lagi. Ada juga warga yang tidak puasa tapi tetap belum dapat sarapan. Menjelang pagi beberapa warga memilih kembali ke rumahnya. Cuma untuk merawat kambing dan sapi, tapi malamnya kembali lagi ke sini,” katanya.

Pascaerupsi freatik dinihari, aktivitas masyarakat kembali normal. Mulai dari kegiatan hingga mencari rumput. Sepanjang jalan Turgo terlihat warga mulai aktif mencari rumput.

“Rasa takut ada, soalnya saya pernah merasakan erupsi 1994 dan itu besar sekali. Tapi harus mencari rumput, maklum saja mayoritas warga di sini profesinya peternak,” kata Sarianti, 60.

Kades Purwobinangun Heri Suasana mengakui evakuasi belum matang. Persiapan tergolong dadakan. Turunnya warga ke titik pengungsian juga dilandasi kesadaran akan keselamatan.

“Masih menjadi catatan untuk kebutuhan logistik, apalagi pengungsi sampai 419 jiwa. Sementara untuk kebutuhan bahan mentah bisa ambil di toko wilayah terdekat,” jelasnya. (dwi/iwa/mg1)