SLEMAN – Ketua Pusat Studi Manajemen Bencana Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogya (UPNVY) Eko Teguh Paripurno mengatakan erupsi freatik Merapi menjadi early warning terjadinya erupsi magmatis.

“Melihat erupsi freatik pertama yang cukup besar pada 12 Mei 2018, kolom erupsinya mencapai 5,5 km. Berdampak berubahnya posisi kawah dan endapan struktur Merapi,” kata Eko.

Lebih banyak rongga di puncak Merapi yang berlubang. “Ini tanda magmanya mulai mendekat puncak. Panasnya semakin menguat sehingga akumulasi-akumulasi energi berikutnya lebih sering dilepaskan,” kata Eko.

Menurut Eko, erupsi freatik menjadi tanda magma naik ke puncak memanasi endapan di atasnya yang berair. Walaupun beberapa kali yang terjadi adalah erupsi freatik di pinggiran, untuk konteks freatik yang terjadi di kawah ada potensi magma naik ke atas.

“Kecenderungannya menjadi gejala proses magmatisme seperti yang terjadi di Sinabung. Freatik dulu, baru erupsi magmatis,” kata Eko.

Meski demikian, hujan abu tipis yang diakibatkan erupsi freatik ini dinilai tidak membahayakan warga. Menurut Eko warga bisa merespons erupsi freatik ini dengan mengenakan masker, menutup sumur, atau membersihkan rumah dan atap apabila abu yang menutupi makin tebal.

“Untuk kasus ini tidak perlu direspons dengan mengungsi. SOP status waspada belum diperlukan untuk mengungsi. Semua erupsi freatik pasti ada hujan abu tipis tapi pakai masker saja sudah cukup karena yang diangkat dalam proses ini cenderung ke uap air yang tenaganya kecil,” papar koordinator Prodi Magister Manajemen Bencana UPNVY ini.

Abu freatik tidak panas seperti awan panas yang dihasilkan erupsi magmatis. Karena tenaga yang dikeluarkan hanya berskala kecil tidak ada material besar yang diangkat ke permukaan.

“Kesimpulannya erupsi freatik ini menjadi gejala dari serangkaian erupsi berikutnya. Erupsi freatik meningkat menjadi freatomagmatik, kemudian magmatik. (ita/iwa)