BANTUL – Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Bantul tampaknya harus bekerja keras lagi menuntaskan hasil pencocokan dan penelitian (coklit). Sebab, tidak sedikit data hasil coklit yang digelar mulai 17 April hingga 17 Mei ini berbeda dengan kondisi di lapangan.

Menurut Ketua KPU Kabupaten Bantul Johan Komara, temuan ini merujuk data yang diperoleh petugas panitia pemutakhiran data pemilih (pantarlih). Kendati begitu, Johan memastikan, pantarlih telah bekerja profesional. Data yang tak memenuhi syarat bakal dicoret. Sedangkan pemilih yang belum masuk daftar bakal dicatat.

“Seluruh pantarlih telah bekerja di wilayahnya masing-masing,” jelas Johan tanpa menyebut berapa data yang tidak sesuai saat ditemui di kantornya Selasa (22/5).

Lalu, bagaimana dengan calon pemilih ber-KTP luar, tapi tinggal di Bantul? Johan memastikan, pantarlih juga mendatanya. Hanya, pantarlih memasukkannya dalam form khusus. Mereka tidak masuk dalam daftar pemilih sementara. Kebijakan ini dilakukan lantaran pendataan didasarkan pada alamat e-KTP dan tempat pemungutan suara (TPS) warga.

Johan tak menampik pemilih ber-KTP luar dapat menyalurkan hak politiknya. Namun, dengan syarat mengajukan pindah pemilihan. Itu pun terbatas hanya untuk pemilihan presiden.

“Masyarakat yang tidak ber-KTP DIJ bisa mengajukan pindah pemilihan dengan form A5,” ucapnya.

Ketua Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu) Bantul Supardi mengungkapkan hal senada. Dia menyebut tidak sedikit data yang bermasalah. Contohnya, pemilih yang telah meninggal dunia dan anggota TNI/Polri.

“Tidak memenuhi syarat tapi tetap masuk,” kritiknya.

Karena itu, Supardi meminta KPU segera melakukan perbaikan. Agar data pemilih yang masuk dalam daftar pemilih tetap kelak sesuai dengan kondisi di lapangan.”Sudah kami sampaikan ke KPU,” tambahnya. (cr2/zam/mg1)