(GRAFIS: HERPRI KARTUN/RADAR JOGJA)

JOGJA – Gunung Merapi kembali mengalami erupsi freatik Senin (21/5). Dalam sehari terpantau tiga kali letusan freatik. Pertama sekitar pukul 01.25. Erupsi berdurasi 19 menit dengan tinggi kolom mencapai 700 meter. Gejala yang sama terjadi delapan jam kemudian. Erupsi freatik pukul 09.38 berdurasi enam menit. Tinggi kolom sekitar 1.200 meter. Selanjutnya pukul 17.50. Erupsi yang berdurasi sekitar tiga menit ini disertai suara gemuruh yang terdengar hingga Pos Babadan yang berjarak 4 kilometer dari puncak Merapi.

Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Jogjakarta Hanik Humaidah menjelaskan, letusan freatik merupakan ciri Merapi setelah erupsi besar. Sebagaimana diketahui, Merapi mengalami erupsi besar pada 2010. Kejadian freatik tadi malam tercatat yang kesembilan kali sejak 2010. Pola itu hampir sama dengan erupsi besar 1872 dan 1930.

Merujuk pada sejarah erupsi Merapi, kata Hanik, setelah beberapa kali letusan freatik biasanya terbentuk kubah lava baru. Kemudian disusul letusan magmatik. Kendati demikian, erupsi freatik bukanlah pemicu terjadinya letusan magmatik. Mengenai periode waktu erupsinya, Hanik menegaskan, sampai sekarang belum ada yang bisa memastikannya.

Dari pengamatan BPPTKG Jogjakarta saat ini belum terlihat deformasi atau perubahan bentuk dan gejala seismik yang mengarah ke aktivitas magmatik. “Belum ada sinyal gejala magmatik. Di puncak Merapi juga tak ada perubahan morfologi,” ungkapnya Senin (21/5).

Lebih lanjut dikatakan, erupsi freatik kemarin juga tak disertai tanda-tanda awal. Jelang dua letusan freatik kemarin peralatan di puncak Merapi tidak merekam prekursor atau gejala awal.Termasuk kenaikan suhu di sekitar puncak. Data seismik pada pukul 9.38 di area 3 puncak Merapi bersuhu sekitar 71 derajat Celsius. Namun pada pukul 9.42 mencapai 274,9 derajat Celsius. “Beda dengan erupsi freatik 11 Mei. Saa itu sempat ada prekursor suhu naik. Kalau yang ini (kemarin, Red) tidak bisa dilihat, langsung tinggi,” katanya.

Tidak terpantaunya prekursor freatik, menurut Hanik, hal yang wajar. Dari studi yang dilakukan terhadap 115 kejadian letusan freatik, sebanyak 62 persen disertai dengan gejala awal, 22 persen gejala yang menyertai tidak jelas, dan 16 persen sama sekali tidak disertai gejala. Penyebab freatik karena kontak panas air di bawah permukaan yang menghasilkan uap air.

Kasi Gunung Merapi, BPPTKG Jogjakarta Agus Budi Santosa menambahkan, embusan abu vulkanik pada erupsi freatik kemarin mengarah ke barat dan barat daya. Sedangkan abu bulkanik freatik kedua mengarah ke selatan dan tenggara.

Guru Besar Fakultas MIPA Universitas Gadjah Mada Prof Kirbani Sri Broto Puspito menyatakan, langkah preventif meminimalisasi dampak erupsi Merapi bisa dilakukan dengan mengoptimalkan sensor seismik dan thermal dikawasan lereng sampai puncak. “Ilmu titen warga setempat juga berdampak positif. Istilahnya science and community based disaster risk reduction,” tuturnya. (pra/dwi/yog/mg1)