Tjokroaminoto Hanya Butuh 33 Tahun Merdeka-Kan Indonesia
SIAPA sebenarnya HOS Tjokroaminoto hingga kompeni Belanda menjulukinya sebagai De Ongekro onde van Java atau ‘Raja Jawa Tanpa Mahkota’? Dari berbagai sumber dirangkum penulis, Raden Hadji Oemar Said Tjokroaminoto lahir di Ponorogo, Jatim,16 Agustus1882.

Tjokroaminoto anak kedua dari 12 bersaudara dari R.M.Tjokroamiseno, pejabat pemerintahan Belanda saat itu. Kakeknya, R.M. Adipati Tjokronegoro, pernah juga menjabat sebagai BupatiPonorogo.

Setelah lulus dari OSVIA, selama 3 tahun,1902-1905, Tjokroaminoto menjadi pegawai negeri sebagai juru tulis patih di Ngawi, Jatim. Hanya betah 3 tahun ia berhenti. Tjokro tidak cocok jadi pegawai negeri yang harus merendah pada orang Belanda.

Tak lama menikahi Suharsikin, putrid Patih Ponorogo, tahun 1905, Tjokro pindah ke Surabaya dan bekerja di perusahaan swasta. Tjokro menyempatkan diri mengikuti sekolah lanjutan di sore hari, Burgerlijke Avond School. Rumah Tjokro juga menerima indekost yang dikelola istrinya. Ada Soekarno, Musso. SM Kartosoewirjo, Alimin, Semaoen dan Soedarsono. Tjokro berkesempatan mempratikan ilmunya, mendriil para muridnya dengan membangkitkan rasakebangsaan guna memerdekakan bangsanya.

Bergelar De Ongekroon de Van Java atau “Raja Jawa Tanpa Mahkota” oleh Belanda, Tjokroaminoto dikenal sebagai salah satu tokoh pelopor pergerakan kemerdekaan Indonesia sekaligus guru bangsa para pemimpin besar Indonesia. Berangkat dari pemikirannya pula dari anak didiknya lahir beragam macam ideology di Indonesia saat itu.

Rumahnya dipakai indekost para pemimpin besar yang berguru padanya. Termasuk tokoh amat misterius Tan Malaka. Tak berlebihan jika rumah Tjokroaminoto sebagai kawah candradimuka para pemimpin Bangsa Indonesia.

Tjokroamnito adalah salah satu orang Indonesia yang menolak tunduk pada Belanda. Bila berhadapan Belanda atau pegawai pemerintah, ia duduk di atas kursi. Ia berpendapat semua orang sama, apalagi di hadapan Sang Khaliq. Yang membedakan takwanya. Tjokro juga dikenal sosok pemberani. Ia tak pernah menundukkan kepalanya ketika berbicara tapi menatap mata lawan bicaranya, tak peduli atasannya orang Belanda sekalipun.

Pada 1907 sampai 1912, Tjokro mendapat pekerjaan di pabrik gula. Disela-sela waktunya, Tjokro menulis artikel di Bintang Surabaya. Selepas 1912, Tjokro pindah bekerja di perusahaan jasa konsultasi teknik.

Belum setahun bekerja,datang utusan Sarekat Dagang Islam (SDI) Surakarta. Tjokro diminta bergabung SDI. Karena Tjokro belum selesai kontraknya bekerja, pengurus SDI menebusnya sejumlah uang.

SDI didirikan tahun 1911 di Surakarta, oleh Haji Saman Hoeddhi (1948-1956). Saman Hoeddhi pedagang sukses yang masuk politik dan dakwah. Ia menyadari belum ada kader bisa membawa ke arah cita-cita organisasi SDI. Mereka mendengar, di Surabaya ada pribumi, dididik Barat, tapi punya keberanian. Indikasinya berani keluar dari pegawai negeri karena emoh merunduk kepada Belanda. Orang itu Tjokroaminoto, yang punya mata elang, kumis melintang, bicara lantang, dan punya visi dan misi dalam perjuangan hidupnya.

Saat direkrut ke SDI, jabatannya komisaris, dan dia manahi menyusun anggaran dasar. Di tangan Tjokro SDI diubah namanya menjadi Sarekat Islam, 10 September 1912. Ia mengubah haluan, SI adalah kumpulan umat Islam hendak menegakkan Islam sebagai agama dan mengilmu Islam. Maka, para anggotanya tak melulu pedagang, tapi semua masyarakat. SI merambah berbagai bidang kehidupan umat, tak hanya beredar Pulau Jawa tapi ke pelosok Nusantara.

Pada kongres SI yang pertama, Januari 1913, Tjokro menjadi wakil ketua panitia pusat. Prestasi perdana Tjokroaminoto sukses menyelenggarakan vergadering atau rapat besar SI pertama, 13Januari 1913 di Surabaya. Rapat besar dihadiri 15 cabang SI mewakili 80.000 anggota.

Kongres SI ke-II di Yogyakarta 19-20 April1914 melejitkan nama Tjokroaminoto sebagai Ketua CSI menggantikan Samanhoedi dalam usia muda 31 tahun. Di tangan Tjokro, SI menjadi organisasi politik pertama terbesar di Nusantara. Pada 1914, anggota resminya 400.000

orang, tahun 1916 terhitung 860.000 orang. Tahun 1919, keanggotaan SI melesat sampai 2.500.000 orang.

Perkembangan pesat SI disebabkan citra Islam, sebagai magnet utama penarik massa. Apalagi SI tempat berkumpulnya tokoh Islam terkemuka, sebut saja KH Ahmad Dahlan, Agus Salim, AM Sangadji, Mohammad Roem, Fachrudin, Abdoel Moeis, Ahmad Sjadzili, Djojosoediro,

Hisamzainie, dan lain-lainnya. Orang-orang besar inilah yang sangat dikagumi dan menjadi panutan bagi sekalian rakyat.

Dalam memimpin,Tjokroaminoto banyak melakukan tindakan membikin pemerintah Hindia Belanda berang. Di setiap kegiatan SI, massa bejubel. Tjokro pernah memimpin aksi buruh, membuka ruang pengaduan untuk rakyat di rumah dan kantornya, memantik rasa kebangsaan Indonesia dengan menggencarkan gagasan pemerintahan sendiri untuk orang Indonesia atau zelfbestuur.

Karena aktifitas politiknya Belanda menangkap Tjokro tahun1921 yang dikhawatirkan membangkitkan semangat perjuangan penduduk pribumi. Tahun 1922, dibebaskan Tjokro juga seorang jurnalis. Ia pernah memimpin surat kabar Otoesan Hindia organ internal SI sekaligus pemilik usaha percetakan Setia Oesaha di Surabaya Salah satu trilogy dari Tjokroaminoto yang termasyhur dalam mendidik para muridnya adalah Setinggi-tinggi ilmu, semurni-murni tauhid, sepintar-pintar siasat. Ini menggambarkan suasana perjuangan Indonesia pada masanya memerlukan tiga kemampuan pada seorang pejuang kemerdekaan.

Dari berbagai muridnya yang paling ia sukai Soekarno. Hingga ia menikahkan Soekarno dengan anaknya Siti Oetari, Istri pertama Bung Karno. Kata Januar, penjaga rumah Tjokroaminoto ada ceritanya mengapa Bung Karno bersedia menikahi Siti Oetari yang saat itu masih muda belia 16 tahun.

Saat itu, Raden Ajeng Suharsikin, istri Tjokroaminoto meninggal. Tjokroaminoto begitu terpukul. Suharsikin sangat mendukung aktivitas politik suaminya. Saat Tjokroaminoto berkeliling menggalang kekuatan anggota SI, Suharsikin selalu tirakat, berpuasa, salat dan dzikir mendoakan keselamatan suaminya. Ditambah, anak anaknya masih kecil.

Bung Karno sebagai murid kesayanganya ikut sedih. Oleh Abikoesno Tjokrosoejoso adik Tjokroaminoto, Bung Karno disarankan menikahi putrid sulungnya Siti Oetari untuk membantu mengurangi kesedihan Tjokroaminoto. Bung Karno setuju.

Setelah menikah, Sri Oetari diboyong ke Bandung karena Soekarno harus melanjutkan kuliah ke ITB. Soekarno jatuh hati pada ibu kosnya Inggit Ganarsih yang lebih tua. Soekarnopun menceraikan Siti Oetari yang konon belum “dicampuri” Soekarno karena masih kecil. “Bahkan saat kost di Bandung Siti Oetari masih main delik delikan (sembunyi sembunyi-an) layaknya anak kecil umumnya. Bung Karno menikahi Ibu Inggit karena perlu pendamping yang dewasa,” tambahJ anuar.

Kembali keTjokroaminoto, pada Februari 1915, dibentuklah Central Sarekat Islam berkantor pusat di Yogyakarta. Adapun cabang-cabang sebelumnya sudah ada jadi anggotanya. Sejak itu Tjokro terus terpilih menjadi Ketua SI sampai akhirhayatnya.

Sayang dalam perjalanannya SI pecah menjadi dua kubu karena masuknya infiltrasi komunisme. Semaun berhasil membujuk tokoh tokoh pemuda seperti Alimin, Tan Malaka, dan Darsono dalam kubu SI Merah.

Sedangkan tokoh Islam tetap berpegang pada garis SIawal yang kental keIslamannya atau dikenal SI putih. Jurang SI Merah dan SI Putih makin lebar saat muncul pernyataan Komintern (Partai Komunis Internasional) yang menentang Pan Islamisme yang menjadi aliran HOS Tjokroaminoto.

Ini mendorong Muhammadiyah pada Kongres Maret 1921 di Yogyakarta mendesak SI agar segera melepas SI merah dan Semaun karena berbeda aliran dengan Sarekat Islam. Akhirnya Semaun dan Darsono dikeluarkan dari SI. Akhirnya pada kongres SI bulan Februari 1923 di Madiun, berubahlah namaya menjadi Partai Sarekat Islam Indonesia (PSII). PSII menjadi peserta pemilu pertama pada 1955.

Tjokroaminoto, Singa Podium itu menghadap Ilahi 17 Desember 1934 di Yogyakarta dalam usia 52 tahun. Tjokro jatuh sakit setelah mengikuti Kongres SI di Banjarmasin, Kalsel. Beliau dimakamkan di TMP Pakuncen Yogyakarta. Kepergian Tjokro membawa perpecahan di tubuh Partai Sarikat Islam Indonesia (PSII). Ini menunjukkan Tjokro factor pemersatu. Semangat Pan Islamismenya telah membawanya selalu mencari titik temu, bukan titik beda.

Harus diakui, Tjokroaminoto adalah sedikit tokoh Indonesia yang berhasil membangun kesadaran kepada para tokoh yang nyantrik di rumahnya akan pentingnya Bangsa Indonesia merdeka, bebas dari penjajahan. Indonesia selama ini terlena dan terpecah belah hingga Belanda bisa menjajah selama 350 tahun. Tak butuh waktu lama bagi Tjokroaminoto membangunkan kesadaran calon pemimpin besar Indonesia akan pentingnya melawan Belanda agar Bangsa Indonesia terbebas penjajahan dan hidup merdeka sebagaimana bangsa lainya di dunia.

Tjokroaminoto hanya butuh waktu 33 tahun. Ya, hanya 33 tahun, Yakni, sejak, beliau mengubah Serikat Dagang Islam (SDI) menjadi Serikat Islam (SI) tahun 1912 yang berhasil mengumpulkan, menyadarkan para tokoh pergerakan hingga puncaknya Soekarno Hatta memproklamirkan Kemerdekaan RI, 17 Agusutus 1945. Tak heran Belanda menjuluki Tjokroaminoto sebagai ‘Raja Jawa Tanpa Mahkota’. Itu karena pengaruh besar terhadap anak didiknya yang kelak menjadi motor kemerdekaan Indonesia.

Setelah itu lahirlah warna-warni pergerakan Indonesia yang dibangunmurid-muridnya. Yakni kaum sosialis/komunis yang dianut Semaoen, Alimin, Musso. Soekarno yang nasionalis. Serta SM Kartosuwiryo yang Islam merangkap sekretaris pribadi Tjokroaminoto. Namun, dalam perjalanan para murid Tjokro berbeda paham dan aliran politiknya. Pengaruh kekuatan politik saat itu memungkinkan para pemimpin saat itu saling berhadapan. Misalnya, Pemberontakan PKI Madiun tahun 1948. Dimana Musso memproklamasikan berdirinya “Republik Soviet Indonesia”.

Dianggap maka makar, Presiden Soekarno mengirimkan pasukan elite TNI dari Divisi Siliwangi untuk menumpasnya. Akibatnya, “abang”, sapaan akrab Soekarno kepada Musso, pemimpin partai komunis itu tertembak mati 31 Oktober 1948.

Pemberontakan lain muncul dalam bentuk Negara Islam Indonesia (NII) dipimpin SM Kartosuwiryo. Setelah berhasil diredam, Kartosuwiryo ditangkap dan dijatuhi hukuman mati Soekarno pada 12 September 1962. Nasi Padang kesukaannya adalah jamuan terakhir Kartosuwiryo sebelum dieksekusi di Pulau Onrust, Kepulauan Seribu, Jakarta.

Bung Karno kabarnya menangis saat meneken hukuman mati kawan Satu kamar kosnya di rumah loteng HOS Tjokroaminoto, di Jalan Peneleh VII no 29-31 Surabaya itu. (Bahari/bersambung)