MASA lajangnya lebih banyak dihabiskan untuk berburu penyu. Itu terpaksa dilakukan Rujito setiap musim paceklik ikan. Penyu diburu untuk diambil dagingnya. Yang penting ketika itu asap dapur tetap mengepul. Tak ada ikan, penyu pun jadi makanan sehari-hari.

Memasuki awal 2000-an Rujito memutuskan berhenti berburu penyu untuk konsumsi. Rasa empati pria 57 tahun itu terhadap kepunahan penyu kian menguat. Teladnya makin bulat saat Rujito mendapat kesempatan mengikuti sosialisasi tentang penyelamatan penyu. “Saya lantas merasa kasihan pada penyu. Sejak itulah saya putuskan untuk menjadi pelestari penyu,” ungkapnya ketika berbincang dengan Radar Jogja belum lama ini.

Berbagai cara dilakukan untuk mencegah kepunahan penyu. Tak jarang Rujito harus terjun ke laut untuk mengobati penyu yang terluka. Setelah sembuh penyu tersebut dikembalikan ke habitat aslinya.

Untuk menjaga regenerasi penyu, Rujito melakukan penetasan telur secara semi-alami maupun alami. Penetasan alami dilakukan jika lokasi telur tidak bisa dijangkau. Sedangkan penetasan telur penyu secara semi alami menggunakan media pasir pantai yang bersih dan tak terkontaminasi sampah.

Telurtelur penyu ditimbun menggunakan pasir tersebut di lubang berkedalaman sekitar 40 cm. telur-telur tersebut disusun sedemikian rupa seperti yang dilakukan induk penyu. Setiap lubang bisa menampung 50 telur. Sama dengan satu kali peneluran penyu muda. Sedangkan penyu dewasa bisa menghasilkan 100 – 226 telur.

Masa penimbunan telur berlangsung selama 50 hari. Pada hari ke 48-49 tanah akan mengalami penurunan drastis akibat penetasan telur di dalam. Sehari kemudian anak penyu biasanya keluar dengan sendirinya dari tempat penetasan. “Sesuai ketentuan konservasi anak penyu bisa dilepas ke habitat asilnya di laut setelah umur seminggu,” jelas bapak dua anak itu.

Tak semua telur penyu bisa menetas. Menurut Rujito, tingkat keberhasilan penetasan semi alami sekitar 87 persen. Beberapa penyebab telur penyu gagal menetas, di antaranya, pasir kurang bersih, suhu udara tidak stabil, dan curah hujan yang terlalu banyak.

Rujito merasakan banyak manfaat sebagai pelestari penyu. Salah satunya untuk mengedukasi siswa maupun pelajar. Bahkan, tempat konservasi penyu yang dikelolanya makin bernilai setelah menjadi destinasi wisata pendidikan, sekaligus penelitian.

Rujito sangat hafal periode pendaratan berbagai jenis penyu di pesisir Pantai Samas, Bantul. Tak kurang 21 titik pendaratan penyu di sepanjang pantai telah dia tandai. Kendati demikian, penyu-penyu laut tak selalu mendarat di lokasi yang telah ditandai. Pantai Goa Cemara dan Pantai Baru diketahui menjadi lokasi pendaratan penyu selain Samas. “Pendaratan penyu bersifat musiman, tergantung jenisnya,” tutur Rujito. Periode akhir Januari hingga awal Februari merupakan musim pendaratan penyu belimbing dan penyu sisik. Sedangkan penyu lekang dan penyu hijau biasa mendarat pada periode Mei hingga Agustus. (yog/mg1)