JOGJA – Wilayah Gedongtengen, Danurejan, dan Gondomanan dikenal sebagai kawasan segitiga emas kawasan rawan kebakaran di Kota Jogja. Korsleting listrik, ledakan gas, puntong rokok, dan api lilin kerap menjadi pemicu peristiwa kebakaran di tiga kawasan padat penduduk yang saling berdekatan tersebut.

Plt Kepala Dinas Kebakaran Kota Jogja Agus Winarto menyebut, kasus korsleting lebih banyak disebabkan oleh masyarakat yang jarang mengecek kondisi instalasi listrik di rumah masing-masing. Ada pula yang karena kecerobohan menggunakan stop kontak. “Banyak colokannya, tumpuk-tumpuk, dipakai semua. Akhirnya sumbernya jadi panas dan terbakar,” ungkap Agus Minggu (20/5).

Guna meminimalisasi potensi kebakaran, Pemkot Jogja membagikan 616 alat pemadam api ringan (APAR) untuk setiap wilayah rukun warga (RW).

APAR yang dibagikan berjenis dry chemical powder yang efektif untuk penanganan kebakaran pada kayu, kertas, plastik, gas, dan kabel listrik. Juga dapat menyerap panas, sekaligus mendinginkannya. “Seluruh sekolah dasar negeri juga mendapatkan jatah APAR,” ucap Kabid Pencegahan, Dinas Kebakaran Kota Jogja Rajwan Taufiq.

Rajwan memastikan, setiap RW memiliki satu APAR yang disimpan di pos ronda atau balai RW. APAR tidak boleh ditempatkan di dalam rumah warga atau pengurus RW. Hal itu demi memudahkan siapa pun yang akan menggunakan APAR saat terjadi kebakaran.

Sedangkan jumlah APAR untuk sekolah dasar disesuaikan dengan keluasan lingkungan. Ada sekolah yang mendapat jatah lima tabung. Ada pula yang lebih, bahkan hingga sepuluh APAR. “Itu disesuaikan kebutuhan tiap sekolah,” jelasnya.

Supaya tak terjadi kebingunan pemakaiannya, petugas dinas kebakaran telah memberikan pelatihan penggunaan APAR bagi pengurus RW dan guru. Pelatihan bersamaan saat penyerahan APAR. (pra/yog/mg1)