RAMADAN selalu menjadi bulan yang ditunggu-tunggu oleh Riskal Susanto. Bagi bek kanan PSIM Jogja itu, Ramadan merupakan bulan baik untuk memanen pahala. Segala ibadah umat muslim dilipatgandakan pahalanya. Setiap Ramadan pula ingatan Riskal kembali mundur ketika dia masih kecil.

Ya, hobi bermain bolanya dimulai sejak masih sekolah dasar. Waktu itu dia kerap menyaksikan tim kotanya, Persisam Putra, bertanding. Tak puas hanya menonton pertandingan, dia juga berkunjung ke mess pemain. Di mess pemain itulah dia bertemu dengan masseur tua. Meski lupa namanya, nasihat sang masseur tak pernah lekang dalam ingatan Riskal sampai sekarang.

“Jika ingin sukses kuncinya ada tiga. Berdoa mendekatkan diri pada Tuhan, bekerja keras, dan harus berani berkorban. Itu yang selalu jadi pegangan saya sampai saat ini,” ungkap Riskal kepada Radar Jogja belum lama ini.

Dirinya sangat bersyukur. Berkat menjalani petuah itu, Riskal merasa Allah selalu melapangkan langkahnya tiap kali menuju masjid. Allah juga melapangkan rezeki di mana pun dia berada. Karir profesional pemain berusia 26 itu dimulai pada 2014. Ketika itu dia memperkuat Pusamania Borneo FC, klub asal kelahirannya. Musim kompetisi berikutnya Riskal merantau di Jogjakarta.

Musim 2015 dia sempat menjajal seleksi Persiba Bantul dan PSS Sleman. Namun Dewi fortuna belum memihaknya. Tak lolos seleksi, Riskal tak mau mengikuti jejak rekan satu daerahnya yang putus asa dan memilih kembali ke Samarinda. Dia tetap bertahan dan mencoba peruntungan di klub lain yang ada di DIJ, yakni PSIM Jogja. Beruntung, dia berjodoh dengan klub yang dibelanya saat ini. Di sela musim itu, di awal 2017, dia sempat membela Kepri Jaya selama setengah musim, namun akhirnya kembali lagi ke PSIM.

Selama Ramadan kali ini kompetisi Liga 2 diliburkan. Riskal pun memiliki lebih banyak waktu untuk beribadah. Latihan hanya sekali setiap waktu sore menjelang berbuka. “Jika biasanya mengkhatamkan Alquran setahun sekali, selama Ramadan ini minimal bisa khatam sekali,” tutur pesepak bola yang mengidolakan Cristiano Ronaldo itu.

Menjalani ibadah puasa di tanah rantau bukanlah halangan bagi pemain kelahiran 8 Juli 1992 itu. Bahkan dia telah menjalaninya hampir 3 tahun ini. Bisa mendekatkan diri kepada Sang Pencipta merupakan hal utama dalam hidupnya.

Ada kalanya Riskal merasa rindu suasana Ramadan bersama keluarga. Berkumpul dengan orang tua dan dua adiknya menjadi momen yang selalu ditunggu-tunggu. Namun dia harus bersabar hingga mendapatkan libur panjang. (yog/mg1)