Bebuka dengan makanan manis bisa mengembalikan energi tubuh kita yang terkuras selama kurang lebih 14 jam puasa. Kendati demikian, penderita diabetes harus benar-benar menjaga pola makan selama puasa. Sebab, jika terjadi kesalahan konsumsi makanan sedikit saja, gula darah bisa naik hanya dalam tempo 10-15 menit.

Ahli gizi Universitas Gadjah Mada Dr Toto Sudargo MKes menyarankan, penderita diabetes harus berani mengatakan “tidak” untuk makanan yang mengandung gula cukup tinggi. Terlebih setiap bulan puasa banyak beredar makanan dan minuman manis untuk takjil. Seperti es kepal Milo yang sedang ngetren saat ini. Itu harus dihindari. Demikian pula makanan dan minuman seperti biskuit, cake, donat, kolak, nugget pisang, bahkan kopi dan teh manis. Apalagi softdrink.

Sebagai ahli gizi moderat, Toto tidak melarang penderita diabetes untuk anti terhadap semua jenis makanan manis. Jika hanya sekadar mencicipi, tak masalah. Misalnya, cukup sepotong kue atau satu sendok kolak.

“Jika penderita diabetes bisa taat minum obat, pola makannya terkontrol, dan tidak hipoglikemi, dia punya hak untuk mengikuti puasa. Namun, ikuti aturan sehatnya agar bisa mengikuti puasa dengan aman,” tuturnya.

Biasakan berbuka dengan minum air putih dan makan kurma. Meskipun manis, jelas Toto, kurma baik bagi kesehatan. Bahkan dianjurkan untuk berbuka puasa. Karena kandungan gulanya tersimpan di dalam serat yang cukup baik bagi tubuh. “Buka puasa dengan kurma lebih baik daripada minum teh manis,” ucap Toto.

Adapun buah-buahan yang harus dibatasi adalah melon dan semangka. Sedangkan buah yang dianjurkan bagi penderita diabetes, di antaranya, apel, pir, dan jeruk. Ketiga buah ini aman dikonsumsi tanpa ada batasan. “Tapi sebaiknya makan secukupnya, karena yang berlebihan juga kurang baik, ” ungkapnya.

Makanan tradisional, seperti tiwul, asal tidak dibuat manis boleh dimakan. Demikian pula kacang almond dan kacang tanah.

Selain itu, jangan lupa cukupi kebutuhan cairan dengan minum delapan gelas sehari atau dua liter air.

Pada masa puasa penderita diabetes biasanya menghadapi hipoglikemi atau kekurangan gula darah. Gejalanya gemetaran, lemas, pusing, keringat dingin, dan detak jantung cepat. Jika sudah demikian, penderita diabetes harus segera membatalkan puasa jika gejala muncul sekitar pukul 13.00. Penanganannya, segera minum madu 1-2 sendok makan. Atau minum segelas teh manis dengan gula 1-2 sendok makan.

“Penderita diabetes harus benar-benar diingatkan tentang pola makan. Jika hiperglikemi, puncaknya bisa pingsan,” jelasnya.

Ketika sahur, utamakan di akhir waktu sebelum Imsak. Tutup sahur dengan kurma atau apel, pir, dan jeruk. Menu seperti nasi, tempe, tahu, dan ikan-ikanan bisa dikonsumsi sesuai porsi. Tempe dan tahu jangan dibacem.

Toto juga menyarankan penderita diabetes tidak mengonsumsi makanan yang diawetkan terlalu lama. Satu hal yang tak kalah penting, biasakan berhenti makan sebelum kenyang. Itu akan membuat penderita diabetes terhindar dari gangguan kesehatan selama berpuasa.

Batasi karbohidrat

Aris Misyari, dokter praktik di wilayah Kebon Agung, Seyegan, Sleman, mengatakan, tak sedikit penderita diabetes mengaku kuat berpuasa. Padahal kondisi kesehatan mereka berisiko. “Jadi, ada baiknya konsultasi dulu ke dokter demi mencegah risiko itu,” katanya.

Jika gula darah sudah terkontrol bagus, kata Aris, dokter akan mengizinkan puasa dengan tetap memperhatikan pola makan dan kebutuhan cairan supaya tidak dehidrasi.

Batasi konsumsi karbohidrat, seperti nasi, umbi-umbian, dan tepung. Serta lemak. Sebaliknya, perbanyak sayur. Sumber protein boleh dikonsumsi sesuai jumlah yang disarankan dokter masing-masing penderita diabetes. “Diet sebaiknya disesuaikan keadaan klinis dan kebutuhan khas tiap individu sesuai anjuran dokter,” jelasnya.

Pengalaman puasa pada tahun sebelumnya bisa menjadi rujukan untuk mengatur pola dan porsi makan saat berbuka dan sahur. Selain itu, olah raga teratur tetap diperlukan, meski sedang berpuasa. “Tidak perlu yang berat. Jalan kaki ke masjid setiap hari pun sudah cukup menjadi olah raga,” tuturnya.

Indikasi gula darah terkontrol ada di bawah angka 150. Jika mencapai angka 300 ke atas cukup berisiko hiperglikemi. Baik kondisi hipoglikemi atau hiperglikemi berisiko untuk pasien. Hipoglikemi bukan hanya berisiko pingsan, tapi bisa menyebabkan kematian jika tidak segera mendapat pertolongan. (cr2/cr3/yog/mg1)