JOGJA – Jogjakarta ternyata masih memiliki ribuan pedagang pasar tradisional yang belum ter-cover program Jaminan Kesehatan Nasional – Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS). Karena itu Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) bekerja sama dengan PT Bank Rakyat Indonesia (BRI) membiayai seribu pedagang Pasar Beringharjo beserta keluarga mereka untuk menjadi peserta JKN-KIS.

BRI mengalokasikan anggaran hingga Rp 306 juta yang bersumber dari dana corporate social responsibility (CSR) untuk pembiayaan BPJS Kesehatan pedagang selama setahun ke depan.

“Kebijakan itu berlaku bagi pedagang yang belum punya jaminan kesehatan per 1 Mei 2018,” jelas Direktur Perluasan dan Pelayanan BPJS Kesehatan Andayani Budi Lestari di kantor Disperindag Kota Jogja, Jumat (18/5).

Kerja sama BPJS Kesehatan dan BRI dalam rangka meningkatkan Universal Health Coverage (UHC) pada 1 Januari 2019. Diakui, untuk mewujudkan UHC dibutuhkan sinergitas seluruh stakeholder, baik pemerintah, organisasi masyarakat dan keagamaan, badan usaha, fasilitas kesehatan, asosiasi profesi, dan bank mitra BPJS.

Selain pedagang, sasaran program tersebut adalah para buruh gendong. Meski sebagian sasaran bukan warga Kota Jogja, menurut Andayani, hal itu bukan masalah.

Direktur Kelembagaan Bank BRI Sis Apik Wijayanto menyatakan, program tersebut merupakan salah satu bentuk kepedulian institusinya kepada para pedagang. “Karena mereka turut memberdayakan ekonomi melalui pasar tradisional,” ujarnya.

Sementara Wakil Wali Kota Jogja Heroe Poerwadi mengatakan, tingkat kepesertaan warga Jogja pada program JKN saat ini mencapai 96 persen. Dia berharap capaian tersebut terus bertambah, dengan mendongrak CSR perusahaan-perusahaan swasta di Kota Jogja mengikuti langkah BRI. “Semoga langkah itu bisa jadi kekuatan baru, menjadikan Jogjakarta tidak lagi memiliki tingkat kesenjangan yang tinggi,” harapnya.

Suminten, salah seorang pedagang batik di Pasar Beringharjo, mengaku senang dengan program ini. Dia dan seorang anaknya kini terdaftar JKN-KIS. “Saya sudah berniat daftar sejak lama, tapi belum sempat,” ucapnya.

Perempuan paro baya itu merasa sangat diuntungkan dengan adanya program JKN-KIS kolaborasi BPJS Kesehatan dan BRI tersebut. (sce/cr3/yog/mg1)