JOGJA – Erupsi freatik Gunung Merapi pada 11 Mei masih menjadi kajian sejumlah pakar dan ahli kegunungapian. Berdasarkan catatan sejarah, jenis erupsi ini bukan pertama kali terjadi pada Gunung Merapi. Setidaknya ada tujuh kali erupsi freatik pasca Erupsi Merapi 2010.

Kepala Seksi Gunung Merapi BPPTKG Jogjakarta Agus Budi Santoso menjelaskan, freatik sejatinya tercatat dalam sejarah Merapi. Hanya, karakter umum dari Merapi adalah guguran. Erupsi freatik 2018 juga tercatat bukan erupsi freatik terbesar sepanjang sejarah Gunung Merapi.

“Tercatat paling besar setelah 2010 itu 18 November 2013, lebih besar dari kemarin. Kalau sebelumnya pernah tercatat di rentang 2012 pada bulan April dan Juni,” jelasnya saat diskusi Erupsi Freatik Merapi di kantor BPPTKG Jogjakarta, kemarin (20/5).

Diakui olehnya, fokus pemerintah pasca erupsi 2010 cukup tinggi. BPPTKG Jogjakarta melakukan pemantauan dengan menempatkan 147 sistem pengawasan di berbagai lokasi. Meski begitu dalam kurun waktu tersebut status Merapi cenderung normal.

Mengenai freatik tidak terlalu berdampak pada status Merapi. Sebab, erupsi bukan berasal dari dapur magma. Sebelum terjadi letusan, seismograf BPPTKG tidak menangkap adanya getaran seismik.

“Sempat tercatat peningkatan suhu kawah puncak pada pukul 06.00. Tapi sempat turun kembali, lalu naik lagi pukul 07.20, lima menit kemudian atau 07.25 kami mengirimkan sinyal peringatan ke basecamp TNGM. Tapi saat itu belum bisa memprediksi kapan, ternyata 15 menit kemudian atau 07.40 terjadi erupsi freatik,” katanya.

Tercatat hingga saat ini belum ada aktivitas puncak di dapur maupun kantong magma. Indikator inilah yang digunakan para peneliti atas status Merapi.

“Ciri khas erupsi ini mirip dengan erupsi Merapi 1930. Ada jeda lama dari erupsi magmatik sehingga muncul erupsi freatik,” katanya.

Guru Besar FMIPA UGM Prof Kirbani Sri Broto Puspito meminta adanya kajian lanjutan. Berdasarkan catatannya, erupai besar terjadi pada 1872 dan 1930. Pasca erupsi besar diikuti dengan beberapa kali erupsi freatik. Rentang waktu 9 hingga 12 tahun ke depan terjadi erupsi freatomagmatik atau erupsi magmatik.

Adanya fase ini setidaknya menjadi catatan bagi peneliti. Terlebih ada kemiripan di mana pada 2010 terjadi erupsi besar berlanjut freatik beberapa waktu kemudian. Setidaknya langkah preventif dengan meningkatkan sensor seismik maupun thermal dikawasan lereng hingga puncak Gunung Merapi. (dwi/ila)