GUNUNGKIDUL – Sekitar 47 hektare lahan pertanian padi di Gunungkidul rusak akibat kemarau. Dari jumlah tersebut enam hektare di antaranya dipastikan gagal panen (puso).

“Penyebabnya kemarau panjang. Sungai yang biasanya menjadi tumpuan suplai air petani tidak lagi berfungsi,” kata Kabid Tanaman Pangan Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul Raharja Yuwono saat dihubungi Minggu (20/5).

Dia menjelaskan, wilayah terdampak kekeringan menyebar di sejumlah wilayah kecamatan. Mulai Ponjong, Playen, Wonosari, Karangmojo, Semin dan Ngawen.

“Rinciannya rusak ringan (akibat kemarau) 31 hektare, rusak sedang 10 hektare dan rusak berat atau puso enam hektare,” ujarnya.

Menurut Raharja, enam hektare lahan pertanian gagal panen atau terkena puso berada di Wonosari. Di antaranya Desa Siraman dan Desa Pulutan. Karena tidak mungkin ditanami ulang, nantinya wilayah terdampak puso dan kekeringan diusulkan mendapatkan bantuan.

“Berupa benih untuk musim tanam satu tahun ini dan 2019. Disiapkan bantuan benih dari pemerintah Pusat gratis,” ujar Raharja.

Bagaimana dengan lahan terancam puso yang jumlahnya mencapai 41 hektare? Dinas mengimbau petani untuk memanfaatkan pompa air yang sudah terdistribusi melalui kelompok tani.

“Harapannya agar padi musim tanam dua dapat panen,” kata Raharja.

Menurut dia, potensi luasan puso bisa bertambah tergantung curah hujan. Wilayah Patuk dan Gedangsari semula sempat dikhawatirkan. Pihaknya bersyukur belakangan ini turun hujan di sana.

“Kepala dinas sudah melakukan pemantauan dan petugas disebar untuk melakukan pengecekan dan upaya-upaya di lapangan,” kata Raharja.

Salah seorang petani di Desa Putat, Kecamatan Patuk Purwanto khawatir hasil panen padi tidak maksimal. Memang sempat hujan di daerahnya namun belum cukup memenuhi kebutuhan air padinya.

“Hari ini (kemarin) saya sengaja mengangkat air menggunakan mesin pompa. Butuh waktu seharian penuh karena lahan sudah kering kerontang. Mblegak (tanah terbelah dengan diameter lebih dari lima sentimeter,” kata Purwanto. (gun/iwa/mg1)