JOGJA – Mulai pekan ini Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Jogja memberlakukan sistem pembayaran retribusi secara elektronik bagi pedagang di Pasar Beringharjo. Selain memanfaatkan perkembangan teknologi, hal itu sebagai upaya menyiasati keterbatasan petugas pungut di pasar tradisional terbesar di DIJ tersebut.

“Tahap awal untuk pedagang di sisi barat dulu. Ada sekitar seratus orang. Pekan depan tambah 300 pedagang lain,” ujar Kepala Disperindag Kota Jogja Maryustion Tonang Jumat (18/5).

Untuk pembayaran retribusi elektronik para pedagang hanya perlu kartu e-money yang diterbitkan BPD DIJ. Penggunaannya cukup ditempelkan di mesin e-retribusi yang ada di pasar. Pembayaran retribusi secara elektronik dapat dilakukan setiap tanggal 6-31 setiap bulannya.

Tion, sapaannya, mengatakan, di Pasar Beringharjo ada sekitar 1.500 pedagang. Selama ini pemungutan retribusi hanya dilakukan 12 petugas. Itu pun seorang di antaranya memasuki masa pensiun. Sedangkan seorang lainnya terdiagnosis mengidap kanker. “Praktis hanya tinggal 10 orang yang tugas,” katanya.

Alasan itulah yang mendorong penggunaan e-retribusi. Petugas pungut kewalahan jika harus keliling pasar menagih retribusi setiap hari.

Tion tak memungkiri bahwa penerapan sistem pembayaran retribusi secara elektronik merupakan hal baru bagi para pedagang. Butuh waktu cukup lama hingga para pedagang memahaminya.

Pelaksanaan e-retribusi dipantau secara real time. Realisasi penerimaan retribusi juga diumumkan secara terbuka. “Ini juga menjadi bagian dari transparansi,” ungkapnya.

Wali Kota Jogja Haryadi Suyuti mengapresiasi kemauan pedagang menggunakan e-retribusi. Itu berarti para pedagang mau mengubah pola pikir kea rah lebih maju. “Pasar boleh saja tradisional, namun pedagangnya sudah kenal dengan teknologi,” ujarnya.

HS, sapaan akrabnya, mengatakan, Pasar Beringharjo memiliki banyak inovasi. Selain e-retribusi, sistem transaksi elektronik yang lebih dulu dikenalkan berupa e-money dan anjungan tunai mandiri (ATM). (pra/yog/mg1)