Harga Selangit, Rumah Bung Karno Belum Terbeli

Surabaya tak hanya layak menyandang sebutan Kota Pahlawan karena pertempuran 10 Nopember 1945. Tapi karena Surabaya juga menjadi kawah candradimuka para tokoh kemerdekaan sekaligus tempat peristirahatan terakhir para pahlawan itu.

Untuk itu Radar Jogja akan menurunkan tulisan berseri, mengenal lebih jauh rumah-rumah bersejarah yang pernah menjadi tempat para tokoh pergerakan itu berproses.

Sebut saja rumah kelahiran Bung Karno di Jalan Pendean IV no 40 Surabaya. Ada rumah Haji Omar Said (HOS) Tjokroaminoto di Jalan Peneleh VII dikenal tempat candradimuka-nya para tokoh kemerdekaan. Ada Bung Karno, Musso, Alimin, Kartosuwiryo yang pernah mondok bersama di situ, meski akhirnya menempuh jalan berbeda dan saling berhadapan.

Ada Rumah Perjuangan Radio Bung Tomo (RPRBT) di Jalan Mawar 12 Surabaya. Ada rumah Maestro WR Supratman pencipta lagu kebangsaan Indonesia Raya di Jalan Mangga 12. Ada rumah NU di Jalan Bubutan yang melahirkan deklarasi jihad dalam mengobarkan semangat Arek Arek Suroboyo dan warga sekitarnya menghadapi Belanda dan sekutunya dalam pertempuran Surabaya.

Ada makam dan museum Dr Soetomo di komplek Gedung Nasional Indonesia (GNI) Jalan Bubutan . Sedangkan di Plampitan Gang VIII yang jaraknya hanya selemparan batu dari Peneleh, ada rumah Roeslan Abdulgani, salah satu tokoh pertempuran 10 Nopember 1945 Surabaya yang juga Sekjen Konferensi Asia Afrika (KAA) 1955 di Bandung yang masyhur itu.

Perjalanan kita awali dari rumah Bung Karno di Jalan Pandean IV No 40 Surabaya.

SEBUAH prasasti di mulut Gang Jalan Pandean IV bertuliskan: Di Sini Tempat Kelahiran Bapak Bangsa DR Ir Soekarno, Penyambung Lidah Rakyat, Proklamator, Presiden Pertama RI, Pemimpin Besar Revolusi. Ditetapkan di Surabaya, 29 Agustus 2010. Tertanda Bambang Dwi Hartono, Wali Kota Surabaya.

Di sebelah kiri ada foto Bung Karno. Tapi sudah buram. Mengembun. Maklum foto ditempel, dilapisi kaca lalu disemen. Begitu kena hujan, air merembes membuat foto rusak. Di bawah foto Bung Karno tertulis Pendean IV No 40. Kelahiran 06 Juni 1901 (Kamis Pon)

Akses jalan kampung Pandean yang lebarnya sekitar tiga meter tidak bisa dilalui mobil. Bahkan pengedaraan motor dilarang membunyikan mesin tapi harus menuntun jika masuk gang. Dari mulut gang masuk jalan kampung sejauh 30 meter ada rumah sederhana nomor 40. Di situ lah Bung Karno semula bernama Kusno lahir.

Rumah kelahiran Bung Karno tergolong kecil hanya berukuran 5 x 14 meter. Desainya pun sangat sederhana seperti rumah lawan di kampung Pandean. Pintu rumah model kuku tarung. Karena rumahnya kecil pintu kuku tarung pun dibuat pendek. Di tengahnya dilapisi kaca gelap. Begitu juga kiri kanan pintu tarung, masing masing ada jendela juga dilapisi kaca gelap.

Semua daun pintu dan candela di cat hijau pupus. Teras rumah hanya setengah meter menyatu jalan kampung. Praktis, jalan kampung menjadi halaman rumah kelahiran Bung Karno. Di atas pintu ada kisi-kisi lubang kecil.

Meski masuk cagar budaya seperti tertulis di plakat tertempel di tembok depan rumah tertulis; Bangunan Cagar Budaya, Sesuai SK Walikota Surabaya No 188.45/321//436.1.2/2013. Pemerintah Kota Surabaya 2013.

Namun rumah yang dimiliki Jamilah belum bisa diambil alih pemkot Surabaya karena belum tercapai kesepakatan harga. Padahal, begitu ditetapkan sebagai cagar budaya 2013, setahun kemudian pemkot langsung bernegosiasi dengan ahli waris soal pembelian rumah kelahiran Bung Karno. Konon Jamilah memasang tarif selangit Rp 5 miliar. Padahal, untuk harga rumah di sekitarnya taksirannya sekitar Rp 700 juta.

Kata warga sekitar, sudah beberapa kali terjadi negoisasi antara Pemkot Surabaya dengan Jamilah bersama tiga keluarganya atau ahli waris lainnya. Konon sudah terjadi beberapa kkali kesepakatan harga. Tapi, setiap kali terjadi kesepkatan harga, mentah lagi. Itu karena harga yang diminta para keponakan Jamilah berubah ubah. Begitu harga disetujui Pemkot, harga yang ditetapkan ahli waris berubah lagi. Naik lagi. Kejadian itu sampai berkali kali.

Padahal, Jamilah sendiri kata para tetangga sebenarnya ingin melepas rumah kelahiran Bung Karno ke pemkot. Tapi, para keponakanya enggan. Makanya, pembebasan rumah Bung Karno masih buntu. Pemkot kabarnya sedikit sewot dengan sikap Jamilah sekeluarga. Begitu harga disepakati, deal. Mentah lagi karena harga dinaikkan terus.

Rumah kelahiran Bung Karno sudah beberapa kali pindah tangan. Jamilah konon orang keempat pemilik rumah itu yang dibeli tahun 1990. Harganya saat itu cukup murah sekitar Rp 16 juta.

Saat penulis mendatangi rumah kelahiran Bung Karno, Jamilah dan keluarganya langsung menutup pintu rapat rapat begitu ditanya soal sejarah rumahnya. Tidak ada komentar apalagi menyilahkan masuk. Begitu ditanya, pintu rumah langsung ditutup.

“Keluarga itu (Jamilah) selama ini memang tertutup,” kata seorang tetangga Jamilah kepada penulis Sabtu (21/4/2018).

Mahmud, kakak kandung Jamilah, pagi itu kebetulan keluar rumah sambil menuntun sepeda pancalnya. Saat dicegat dan ditanya soal negosiasi harga rumah dengan Pemkot, Mahmud enggan menjawab. “Baca saja di koran. Kan sering ditulis,” kata Mahmud mengelak sambil terus menuntun sepedanya menjauh dari penulis.

Farida, Ketua RW XIII Peneleh, Kecamatan Genteng, yang membawahi wilayah Rumah kelahiran Bung Karno berharap secepatnya terjadi deal Pemkot Surabaya dengan ahli waris Jamilah sekeluarga. “Makin cepat deal harganya- lebih bagus agar kampung kami secepatnya ditata,” harap Farida.

Setelah ditemukan rumah kelahiran Bung Karno, banyak turis lokal, asing maupun keluarga besar Bung Karno datang silih berganti mengunjungi kampung Pandean. Ada Megawati dan putrinya Puan Maharani, Mendagri Tjahyo Kumolo sampai terakhir Puti Guntur Soekarnoputra, kini Calon Wakil Gubernur Jatim berpasangan dengan Saefulah Yusuf atau Gus Ipul. “Beliau semua berpesan agar rumah kelahiran Bung Karno dijaga,” tutur Farida.

Farida ingin keberadaan rumah Bung Karno di Jalan Pandean IV bisa mengubah kampungnya menjadi kampung wisata seperti di kampung tetangga Peneleh VII, rumah HOS Tjokroaminoto. Atau Kampung lawas Kawatan. Sebab, setiap 6 bulan sekali ada kapal wisata asing merapat di Tanjung Perak. Biasanya rombongan turis tadi diajak wisata mengunjungi kampung lawas dan bersejarah. “Warga berharap kampung kami juga disinggahi para turis. Ikonnya sudah ada, rumah kelahiran Proklamator Bung Karno,” akunya.

Farida yang menghuni kampung Pendean sejak kecil, mengaku tak pernah mendapat cerita dari orangtuanya yang tentara maupun kakeknya bahwa rumah berjarak beberapa meter dari rumahnya itu adalah rumah kelahiran Bung Karno. “Tapi, sebagai warga Pendean kami ikut bangga ternyata tetangga kami seorang proklamator,” akunya. (Bahari/bersambung)