REREN INDRANILA/RADAR JOGJA

DI suatu siang yang cukup terik, para ibu dan anak-anak yang sudah beranjak remaja berjalan menyusuri pematang sawah menuju ruangan Kelompok Bermain (KB) Sanggar Anak Alam (Salam) di Nitiprayan, Bantul. Sebagian dari mereka membawa kotak berisi peralatan berdandan.

Masuk ke dalam ruangan, mereka lantas duduk lesehan dan mengeluarkan peralatan make-up yang dibawa. Usut punya usut, ternyata mereka baru saja mengikuti beauty class yang dipandu Make-up Artist (MUA) Riri Afriliana yang khusus diundang sebagai pemateri.

Menurut panitia acara Bekti Dwi Pratiwi, Salam yang merupakan sekolah berbasis komunitas dan keluarga memang sering mengadakan workshop yang ditujukan untuk orang tua dan para siswa.

Selain beauty class, sebelumnya pernah diadakan workshop kopi yang dipandu oleh beberapa orang tua murid yang memang memiliki kapasitas di dunia perkopian. Peserta workshop kopi bukan hanya dari lingkungan sekolah setempat. Banyak juga pecinta kopi yang turut hadir. Dari siswa KB, Taman Anak (TA), SD, SMP, dan SMA, hingga para orang tua mereka tumplek blek dalam acara itu.

“Selain untuk menambah wawasan, acara ini digelar supaya kami bisa lebih guyub. Apalagi banyak orang tua yang belum lama bergabung dengan Salam. Ke depan bakal ada banyak lagi workshopworkshop lain yang kami selenggarakan secara kontinyu,” ujarnya ditemui belum lama ini.

Pendiri Salam Toto Rahardjo menuturkan, perkembangan Salam sebagai wadah pendidikan keluarga tak bisa dilepaskan dari peran orang tua siswa dan masyarakat sekitar sekolah. Misalnya saat pembelajaran di sekolah. Orang tua ikut terlibat memberikan materi ekstrakurikuler. Yang berprofesi fotografer, maka mengajar fotografi. Bagi yang punya kemampuan melukis, ya membuat kelas menggambar, dan lainnya.

Begitu pula saat memperingati Hari Pendidikan Nasional, tepat 2 Mei lalu. Istri Toto Rahardjo, Sri Wahyaningsih, mengungkapkan, Salam mengadakan Pameran Caraka yang diinisiasi dan diselenggarakan oleh orang tua yang tergabung dalam Forum Orang Tua Salam (Forsalam).

“Banyak orang tua siswa di Salam ini yang seniman. Itu pula yang membuat kesenian bukan menjadi mata pelajaran, melainkan media belajar anak. Kegiatan semacam ini mempengaruhi suasana belajar di Salam,” ujarnya.

Di akhir pameran, Salam juga mengundang Emha Ainun Najib sebagai pembicara. Budayawan yang akrab disapa Cak Nun memberikan wejangan, sekaligus sinau bareng tentang pendidikan keluarga. Komunitas yang dibangun ini membuat hubungan antara orang tua dan anak makin erat. “Situasi ini juga berdampak positif terhadap perkembangan anak,” ungkap Sri. (yog/mg1)