Tiang penyangga masjid (BAHANA/RADAR JOGJA)

TAK seperti musim libur biasanya Jalan utama menuju pintu masuk kawasan wisata Taman Sari Kamis (17/5) tampak tidak begitu ramai. Seorang turis asing pria berpose dengan latar papan nama Masjid Soko Tunggal. Sementera seorang turis wanita berambut panjang bergelombang kecoklatan mengambil gambar foto si pria.

Beberapa perempuan mengenakan mukena melintas meninggalkan masjid. Sebagian jamaah ada yang memilih duduk-duduk di beranda berkeramik kuno cokelat kekuning-kuningan.

Bangunan masjid yang diresmikan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono IX pada 1973 itu memang tidak seperti masjid-masjid bersejarah di Jogjakarta pada umumnya. Masjid Soko Tunggal berdiri di atas lahan seluas 900 meter persegi. Sekilas tampak tak begitu luas. Hanya cukup menampung sekitar seratus jamaah.

Tiang penyangga bangunan masjid yang berada di ruang utama selalu menjadi perhatian jamaah. Terlebih wisatawan yang baru kali pertama mengunjunginya. Umumnya sebuah bangunan masjid selalu ditopang beberapa tiang penyangga. Namun tidak demikian dengan Masjid Soko Tunggal, yang hanya disangga sebuah tiang kayu jati berukir.

“Soko tunggal memiliki makna Ketuhanan Yang Maha Esa,” jelas koordinator Rumah Tangga Masjid Soko Tunggal Sugeng Purnomo,60, saat berbincang dengan Radar Jogja kemarin.

Sejak didirikan pada 1971 tiang penyangga itu masih tetap kokoh, meski belum pernah direnovasi. Tiang penyangga berukuran 50 x 50 sentimeter persegi tersebut didatangkan dari Kudus, Jawa Tengah. Saat ditebang, kayu jati itu diperkirakan berumur 150 tahun. “Pembangunannya tidak digunakan paku sama sekali,” kata pria yang pernah berkeja di Taman Wisata Candi.

Sedangkan batu penyangga tiang atau yang kerap disebut umpak, lanjut Sugeng, diperoleh dari petilasan Sultan Agung di wilayah Pleret, Bantul. “Untuk mengangkat batu tersebut sampai ke lokasi pembangunan digunakan gerobak yang ditarik dua ekor sapi,” tuturnya.

Penggunaan gerobak untuk mengantarkan batu penyangga itu memiliki cerita tersendiri. Cerita yang di luar akal sehat. Logikanya, untuk mengangkat batu dari lokasi yang jaraknya yang cukup jauh seharusnya akan lebih cepat menggunakan kendaraan bermesin. “Saya pernah bertanya ketika itu, kenapa batu diangkut dengan gerobak,” ungkap Sugeng. Ternyata para pendiri masjid saat itu pernah mencoba mengangkut batu menggunakan mobil. Tapi mobilnya malah tak bisa jalan.

Saat masjid dibangun Sugeng masih duduk di bangku sekolah dasar. Kendati demikian, dia hafal betul seluk beluk pembangunan masjid tersebut. Karena selama proses pembangunannya Sugeng kerap bermain di dalam masjid itu. “Ketika tiang tengah diukir saya selalu memperhatikan,” ucapnya.

Setiap yang terukir pada tiang penyangga itu memiliki makna. Ukiran sorot, misalnya. Berati sinar matahari. Ada pula ukiran praba yang berarti bumi, melambangkan kewibawaan. (yog/mg1)