Sudah belasan tahun Kamaludin mengabdikan diri menjadi takmir yang mengurusi salah satu masjid tertua di DIJ ini. “Dulu saya diberi amanah oleh para kasepuhan yang ada di Ploso Kuning,” ungkapnya.

Sebenarnya para kasepuhan ini lah yang diberi mandat langsung oleh pihak keraton untuk memakmurkan masjid. Namun, karena rata-rata usia para kasepuhan ini sudah tidak muda lagi maka digantikan mereka yang lebih muda.

Bagi Kamal, sapaannya, menjaga dan merawat masjid adalah panggilan jiwa. “Ya karena minat saya di situ (merawat dan menjaga, Red),” tegasnya.

Selama menjadi takmir masjid dia ingin melayani jamaah yang datang ke masjid dengan sebaik-baiknya. Dia berharap agar dapat mempersatukan semua golongan yang datang ke masjid. “Saya inginnya menyatukan masyarakat agar guyub, rukun, dan kompak,” imbuhnya.

Ya, 15 tahun bukan waktu yang sebentar. Dalam kurun waktu itu banyak tantangan yang dia hadapi. Termasuk dalam melayani keinginan masyarakat. Terkadang ada masyarakat yang ingin setiap agenda dilaksanakan dengan meriah. “Namun ada yang minta dirayakan sederhana namun khusyu,” ungkapnya.

Usaha yang dilakukan Kamal untuk memakmurkan masjid selalu didasari filosofi dan pesan yang ikut dibawa ketika HB I membangun Masjid Pathok Negoro ini. Ia pun bertekad untuk tetap melestarikan budaya leluhur seperti tradisi Ruwahan, Saparan, Mauludan dan masih banyak lagi.

Masjid memang memiliki fungsi utama sebagai tempat ibadah. Namun, Kamal ingin mengingatkan kembali kepada semua masyarakat maupun jamaah bahwa masjid memiliki fungsi lain.

Ia lantas menceritakan ketika zaman dahulu masjid difungsikan sebagai tempat menenangkan diri. Tidak hanya sebagai tempat ibadah atau salat lima waktu. “Ini yang sering dilupakan para jamaah,” keluhnya.

Ia berharap dengan adanya masjid dapat menjadi solusi bagi para jamaah untuk dapat mendekatkan diri kepada Allah utamanya, namun juga dapat menjadi solusi atas kegalauan hati. “Karena masjid dapat menjadi ajang silaturahmi, sosialisasi bahkan aktualisasi,” tegasnya. (din/mg1)