BANTUL – Sehari menjelang Ramadan umat Islam di Jawa tak pernah lupa melakukan tradisi padusan. Padusan berasal dari kata “adus” yang berarti mandi. Dalam ranah budaya, padusan diartikan mandi besar dengan maksud menyucikan diri menyambut bulan puasa. Meski sebenarnya bisa dilakukan di rumah, ada sebagian masyarakat yang memilih tempat pemandian umum, kolam renang, bahkan pantai, sebagai lokasi padusan. Tradisi padusan selalu membawa cerita setiap tahunnya.

Seperti terjadi di Pantai Parangtritis Rabu (16/5). Tim SAR setempat melaporkan adanya anak kecil tergulung ombak saat bermain air di bibir pantai. Beruntung anak tersebut bisa diselamatkan. “Kami segera ambil tindakan cepat saat itu,” ujar anggota SAR Bantul Eko Ristanto.

Diakui, insiden serupa hampir selalu terjadi tiap tahun saat padusan. Untuk antisipasi, SAR Bantul mengerahkan kekuatan penuh dengan 96 personel. Mereka tersebar di sepanjang pantai selatan Bantul, mulai Parangtritis, Depok, hingga Pandansimo.

Kendati demikian, pencegahan laka laut tetap tergantung pada kesadaran setiap pengunjung pantai. Untuk tidak bermain air di lokasi bahaya. Terlebih para orang tua yang membawa anak kecil. Pastikan selalu berada di zona aman. “Karena imbauan dan peringatan lewat pengeras suara kadang percuma, makanya kami kerap harus turung tangan langsung,” ungkap Koordinator SAR Bantul M. Arif Nugraha.

Selain Parangtritis, Sendang Kasihan menjadi salah satu lokasi padusan di Bantul yang juga ramai dikunjungi umat Islam kemarin. Namun hanya anak-anak yang lebih banyak berkunjung saat siang. Sedangkan orang dewasa padusan pada sore menjelang malam. Tarman,48, salah seorang warga Kasihan, menuturkan, waktu sore menjelang malam merupakan saat paling khusyuk untuk berendam, sekaligus berdoa di sendang.

Hal itu tak lepas dari kisah sejarah zaman Kerajaan Mataram. Yakni kisah Putri Pembayun yang menyamar menjadi ledhek (penari tayub). Sendang Kasihan adalah tempat pemandiannya. Sementara Murahmat,73, warga lain, meyakini kemunculan Sendang Kasihan berasal dari tongkat Sunan Kalijaga yang ditancapkan di tanah. Saat dicabut, keluarlah air yang kemudian berubah menjadi sendang.

“Padusan niku hukume mboten wajib, wong mboten wonten ting syariat Islam kok, tapi niku tradisi saking wali (Padusan itu hukumnya tidak wajib. Tidak ada dalam syariat Islam. Tradisi itu dari wali,tuturnya.

Sementara itu, di Sleman, tempat pemandian umum Blue Lagoon menjadi salah satu destinasi yang selalu menyedot banyak pengunjung tiap musim padusan. Ratusan orang telah memadati sumber mata air di Desa Dalem, Widodomartani, Ngemplak, itu sejak pagi kemarin. “Banyak pengunjung dari luar daerah juga yang datang ke sini. Baru setengah hari buka saja sudah ada 500 pengunjung,” ujar Suhadi, ketua pengelola Blue Lagoon.

Melihat animo masyarakat yang begitu besar, pengelola Blue Lagoon terus bebenah. Dana bantuan pemerintah dimanfaatkan untuk memperbaiki akses jalan, serta membangun kios makanan, gazebo, dan panggung terbuka. “Semua demi kenyamanan pengunjung,” ungkapnya.

Mengingat kedalaman Blue Lagoon cukup beragam, pengelola menyewakan ban dan pelampung bagi pengunjung yang tak bisa berenang.

Salah seorang pengunjung, Rahmat Alam Jauhari mengaku rutin padusan di Blue Lagoon tiap tahun. Selain dekat rumah, masuk ke pemandian alam itu cukup merogoh kocek Rp 10 ribu. Itu sudah termasuk air minum gratis di kios minuman dan asuransi. (cr2/cr6/ita/yog/mg1)