JOGJA – Dalam Pendaftaran Peserta Didik Baru (PPDB) tahun ajaran 2018/2019 untuk tingkat SMP negeri di Kota Jogja, resmi menggunakan sistem zonasi. Meski hingga saat ini masih menunggu Peraturan Wali Kota (Perwal) yang mengaturnya, tiap peserta didik bisa sekaligus memilih 16 SMP negeri di kota ini.

Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Jogja Edi Heri Suasana mengatakan, yang baru dalam PPDB tahun ajaran 2018/2019 nanti adalah tiap pendaftar bisa memilih semua SMP negeri di Kota Jogja. Pada PPDB sebelumnya, hanya dibatasi maksimal tiga SMP.

Dengan memilih semua SMP, calon peserta didik yang tidak diterima di satu SMP bisa dialihkan ke SMP lain. “Kalau mau pilih tiga boleh, tapi harapnya dipilih semua, tinggal mengurutkan prioritas. Nanti akan diranking by system,” katanya dalam jumpa pers di Balai Kota Jogja, kemarin (16/5)

Menurutnya, untuk sistem zonasi yang akan diterapkan dalam PPDB SMP negeri di Kota Jogja, penentuan calon peserta didik yang diterima didasarkan jarak terdekat, prestasi akademik, dan nonakademik, usia, baru urutan entry data. Yang paling utama tetap berdasarkan jarak terdekat SMP dengan alamat RW dalam kartu keluarga orang tua.

“Jika dalam satu RW ada beberapa calon peserta didik yang daftar di SMP yang sama, penentuan berdasarkan nilai USBN (ujian sekolah berstandar nasional),” jelasnya.

Edi menjelaskan, dalam PPDB tahun ini memberikan kuota zonasi dalam kota sebesar 90 persen, yang terdiri atas jalur prestasi 15 persen, dan murni berdasarkan jarak 75 persen. Menurutnya, penambahan jalur prestasi itu sebagai solusi tidak meratanya persebaran SMP negeri di Kota Jogja.

Ia mencontohkan di Kecamatan Kotagede dan Umbulharjo sebagai wilayah terluas, hanya ada SMP 9 di sana. Jalur prestasi itu memperhitungkan penambahan nilai bagi juara Olimpiade Sains Nasional, Olimpiade Olahraga Siswa Nasional, dan Festival Lomba Seni Siswa Nasional, termasuk juara olahraga. “Untuk jalur prestasi ini tidak hanya untuk siswa dari kecamatan yang tidak ada SMP negeri, tapi seluruh Kota Jogja,” ungkapnya.

Edi menambahkan, dengan sistem zonasi tersebut nantinya setiap calon peserta didik bisa bebas menentukan SMP yang dituju. Termasuk ke SMP yang selama ini dianggap favorit, seperti SMP 5, SMP 8 atau SMP 1. “Yang di bantaran sungai di Gondolayu, bisa saja daftar ke SMP 8 atau SMP 5,” tuturnya.

Sementara itu, Kepala Bidang Pendidik Tenaga Kependidikan Data dan Informasi Disdik Kota Jogja Samiyo menambahkan, sesuai aturan zonasi, saat verifikasi tiap calon peserta didik diminta untuk membawa ijazah USBN dilampiri kartu keluarga orang tua. “Saat verifikasi diharapkan di SMP pilihan pertama,” ungkapnya.

Sebelumnya, anggota Komisi D DPRD Kota Jogja Dwi Budi Utomo meminta dalam PPDB nanti tidak murni berdasarkan jarak saja, tapi juga mempertimbangkan nilai USBN. Hal itu untuk memotivasi siswa belajar. “Jadi siswa yang rumahnya semisal di belakang sekolah, tetap serius belajar. Tidak hanya mengandalkan jarak rumah,” katanya. (pra/laz)